Indramayu, Kabarnusa24.com
Darah kepemimpinan yang mengalir dalam diri Nina Agustina bukanlah warisan biasa. Ia merupakan putri sulung dari Da’i Bachtiar, mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia yang dikenal sebagai figur penting dalam masa transisi demokrasi nasional. Sejak dini, Nina tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan nilai disiplin, ketegasan, dan loyalitas terhadap negara sebuah bekal yang kemudian membentuk arah perjalanan politiknya.
Selama bertahun-tahun, Nina dikenal sebagai kader perempuan utama di bawah panji Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Di Kabupaten Indramayu, ia tak hanya menjabat sebagai bupati, tetapi juga menjadi simbol pertemuan antara tradisi kekuasaan negara dan politik kerakyatan. Namun, dinamika politik selalu bergerak. Tahun 2026 menjadi titik balik yang menentukan.
Di persimpangan jalan tersebut, Nina Agustina mengambil keputusan besar: meninggalkan PDI Perjuangan dan memilih jalur baru. Keputusan ini bukan sekadar perpindahan kendaraan politik, melainkan refleksi atas arah pengabdian yang ingin ia tempuh ke depan.
Pilihan itu jatuh pada Partai Solidaritas Indonesia, partai yang kini mengusung simbol Gajah Putih—lambang kebijaksanaan, keteguhan, dan daya ingat politik yang kuat. Bergabungnya Nina ke PSI dimaknai sebagai langkah strategis untuk beradaptasi dengan lanskap politik baru, sekaligus membuka ruang kontribusi yang lebih luas.
Langkah tersebut diperkuat dengan kunjungannya ke Solo, menemui Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo. Pertemuan itu dipandang sebagai upaya meminta restu dan menyelaraskan visi, menandai babak baru perjalanan politik Nina dalam orbit kepemimpinan nasional yang lebih progresif dan terbuka.
Kini, Nina Agustina menapaki fase baru sebagai politisi yang berdiri atas pilihannya sendiri. Ia bukan semata-mata bayang-bayang nama besar masa lalu, melainkan figur yang berani mengambil risiko politik demi melanjutkan pengabdian.
Indramayu dan publik politik nasional pun menanti: apakah langkah dari Banteng ke Gajah Putih ini akan menjadi awal penguatan peran Nina Agustina dalam konstelasi politik Indonesia ke depan.







