Religi

Ini 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan

30
×

Ini 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan

Sebarkan artikel ini
Ini 4 Waktu Penting Mustajabnya Doa, Jangan Diabaikan
Ilustrasi Berdoa

Kabarnusa24.com,- Dalam kehidupan seorang mukmin merupakan napas ruhani dan penegasan tanda ketergantungannya kepada Tuhan.

Selain terkait apa yang diminta dan di mana tempatnya, dalam memanjatkan doa juga penting memperhatikan momen-momen krusial mustajabnya doa tersebut.

Dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah, terdapat sejumlah riwayat hadis yang menghimpun waktu-waktu penting yang sangat potensial dikabulkannya doa. (Lihat Al-Mushannaf [Madinah: Maktabah al-‘Ulum wa al-Hikam], juz 6, h. 30-31)

Menariknya, sebagian besar waktu tersebut terkait erat dengan ibadah yang paling utama, yaitu shalat.

Berikut 4 waktu penting dikabulkannya doa yang dipanjatkan:

1. Saat Panggilan Adzan dan Jihad

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

حدثنا معن عن مالك بن أنس عن أبي حازم عن سهل بن سعد الساعدي قال: ساعتان يفتح فيهما أبواب السماء وقل داع ترد عليه دعوته: حضرة النداء في الصلاة ، والصف في سبيل الله عز وجل

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ma‘n, dari Malik bin Anas, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa‘d As-Sa‘idi, ia berkata: ‘Ada dua waktu di mana pintu-pintu langit dibuka, dan sangat jarang ada doa seorang yang berdoa pada saat itu ditolak: yaitu ketika hadirnya panggilan untuk shalat (adzan), dan saat berada dalam barisan di jalan Allah (jihad).’”

Jadi, ketika adzan berkumandang, inilah salah satu momen krusial dikabulkannya doa. Dan hakikat adzan itu sendiri bukanlah sekadar panggilan shalat, melainkan juga undangan untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam riwayat lain juga disebutkan:

حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَارِبٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: كَانَ يَأْمُرُ بِالدُّعَاءِ عِنْدَ أَذَانِ الْمُؤَذِّنِينَ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, dari Abdurrahman bin Ishaq, dari Muharib, dari Ibnu Umar, ia berkata: ‘Beliau (Ibnu Umar) dahulu menganjurkan untuk berdoa ketika para muadzin mengumandangkan adzan.’”

Dari sini kita tahu, bahwa memanfaatkan momen krusial dalam berdoa ini telah dipraktikkan oleh para ulama terdahulu. Karena itu, sepatutnya kita juga tidak menyia-nyiakan momen ini.

2. Antara Adzan dan Iqamah

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع عن زيد العمي عن أبي إياس عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الدعاء بين الأذان والإقامة لا يرد

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Waki‘, dari Zaid Al-‘Ammi, dari Abu Iyas, dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Doa di antara adzan dan iqamah tidak akan ditolak.’”

Hadis ini diperkuat lagi oleh riwayat lain ini:

حدثنا عبيد الله أخبرنا إسرائيل عن أبي إسحاق عن بريد بن أبي مريم عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة فادعوا

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Isra’il, dari Abu Ishaq, dari Buraid bin Abi Maryam, dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah, maka berdoalah.’”

Selain itu, dikuatkan pula dalam riwayat berikut:

حدثنا أحمد بن عبد الملك بن واقد أخبرنا الحارث بن مرة حدثنا يزيد الرقاشي عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا كان عند الأذان فتحت أبواب السماء واستجيب الدعاء، وإذا كان عند الإقامة لم ترد دعوة

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Abd al-Malik bin Waqid, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Al-Harits bin Murrah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid Ar-Raqasyi, dari Anas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Apabila telah tiba waktu adzan, dibukalah pintu-pintu langit dan doa dikabulkan. Dan apabila telah tiba waktu iqamah, tidak ada satu pun doa yang ditolak.’”

Mungkin momentum ini sering diabaikan. Banyak orang sibuk dengan hal lain, padahal saat-saat momen di antara adzan dan iqamah ini pintu langit sedang terbuka lebar, yang mana saat itu tentunya doa yang dipanjatkan akan diijabah oleh Allah.

3. Waktu Shalat

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

حدثنا وكيع عن سفيان عن عثمان بن الأسود عن أبي فزارة عن مجاهد قال: أفضل الساعات مواقيت الصلاة فادع فيها

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Waki‘, dari Sufyan, dari Utsman bin Al-Aswad, dari Abu Fazārah, dari Mujahid, ia berkata: ‘Waktu-waktu yang paling utama adalah waktu-waktu shalat, maka berdoalah pada saat-saat itu.’”

Shalat bukan hanya ritual gerakan. Lebih dari itu, shalat adalah momentum komunikasi paling intens dengan Allah. Karenanya, apa yang dibaca di dalam shalat sangat didengar oleh Allah SWT. Dan doa di dalamnya tentu sangat mustajab.

4. Hari Jumat Saat Imam Naik Mimbar

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

حدثنا يحيى بن آدم قال حدثنا عمار بن رزيق عن أبي إسحاق عن أبي بردة قال: إن الساعة التي يستجاب فيها لمن دعا يوم الجمعة حين يقوم الإمام في الصلاة حتى ينصرف منها

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ammar bin Ruzaiq, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, ia berkata: ‘Sesungguhnya waktu dikabulkannya doa bagi orang yang berdoa pada hari Jumat adalah ketika imam berdiri (untuk khutbah dan shalat) hingga selesai darinya.’”

Mungkin ini waktu yang cukup singkat, tapi sangat berharga. Karena itu, jangan disia-siakan. Berdoalah sejenak saat khatib berdiri hendak menyampaikan khutbah, begitu juga saat imam berdiri hendak melaksanakan shalat Jumat hingga selesainya rangkaian ibadah shalat Jumat.

Demikianlah riwayat terkait waktu-waktu yang mustajab. Doa yang dipanjatkan di dalamnya didengar oleh Allah dan sangat besar kemungkinannya untuk dikabulkan. Karenanya, tidak patut kita mengabaikannya.

Banyak orang mengeluh doanya belum dikabulkan, tetapi tidak memperhatikan adab dan waktu krusialnya. Padahal, petunjuknya telah disampaikan oleh Rasulullah.

Jadi memang ada saat di mana “langit” benar-benar terbuka. Dan orang yang cerdas adalah yang tahu momen tepat kapan ia harus khusyuk berdoa kepada Allah.

Sumber: Bimbingan Syariah MUI

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin