Ancaman Krisis Air dan Serangan Hama Bayangi Pertanian Lumajang Petani Diminta Perkuat Koordinasi
lLumajang, Kabarnusa24.com.Kamis,14/5/2026— Ancaman krisis air dan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) mulai menjadi perhatian serius di kalangan petani di Kabupaten Lumajang. Kondisi cuaca yang tidak menentu dinilai berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian, khususnya tanaman padi yang menjadi komoditas utama masyarakat.Selasa,13/5/2026
Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Lumajang, Waspodo Budi, mengatakan bahwa perubahan cuaca dan berkurangnya debit air di sejumlah wilayah berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian sekaligus meningkatkan serangan hama tanaman.
Menurut dia, ancaman krisis air harus mulai diantisipasi sejak dini oleh petani. Sebab, keterlambatan pengairan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman padi dan memicu munculnya berbagai penyakit maupun hama.
“Sekarang yang paling utama bagi petani adalah kesiapan menghadapi krisis air dan serangan OPT. Kalau air mulai berkurang, tanaman menjadi rentan terserang hama dan hasil panen bisa menurun,” ujar Waspodo.
Sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang diketahui menjadi daerah yang kerap mengalami kekurangan pasokan air untuk pertanian. Beberapa desa yang selama ini menghadapi persoalan tersebut di antaranya Desa Jenggrong dan Desa Wates Wetan di Kecamatan Ranuyoso, Desa Wonokerto di Kecamatan Gucialit, Desa Bodang dan Desa Kedawung di Kecamatan Padang, serta Desa Blukon di Kecamatan Lumajang.
Kondisi tersebut membuat para petani harus bekerja lebih keras untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian mereka, terutama saat musim kemarau mulai berlangsung dan debit air irigasi menurun.
Di tengah kondisi tersebut, Desa Jenggrong menjadi salah satu wilayah yang dinilai cukup sigap dalam menghadapi ancaman kekeringan. Kepala desa bersama masyarakat turun langsung ke lapangan untuk memberikan semangat sekaligus mengajak warga bergotong royong menjaga saluran irigasi agar kebutuhan air sawah tetap terpenuhi.
Kebersamaan antara pemerintah desa dan masyarakat itu dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan pertanian di tengah ancaman cuaca ekstrem yang semakin tidak menentu.
“Kalau semua bergerak bersama, persoalan air bisa sedikit demi sedikit diatasi. Yang penting ada komunikasi dan gotong royong antarpetani maupun pemerintah desa,” kata Waspodo.
Ia menjelaskan, beberapa jenis hama yang saat ini perlu diwaspadai petani antara lain wereng batang coklat, tikus, penggerek batang, ulat grayak, hingga penyakit blast pada tanaman padi. Selain itu, keong mas juga mulai banyak ditemukan di area persawahan yang baru ditanami.
Menurut Waspodo, serangan wereng batang coklat menjadi salah satu ancaman serius karena dapat menyebabkan tanaman mengering dengan cepat. Sementara penggerek batang menyebabkan tanaman padi mengalami puso atau gagal panen apabila tidak segera ditangani.
Untuk itu, petani diminta rutin melakukan pengamatan di sawah dan tidak menunggu serangan hama semakin meluas. Ia menegaskan, langkah pencegahan lebih penting dibandingkan penanganan ketika kondisi sudah parah.
“Pemberantasan hama harus dilakukan bersama-sama dan terjadwal. Kalau hanya satu petani yang bergerak sementara lainnya tidak, maka hama akan kembali lagi. Ini yang harus dipahami bersama,” katanya.
Waspodo juga mengingatkan agar petani milenial tidak hanya mengandalkan tutorial di media sosial atau YouTube dalam menangani persoalan pertanian. Menurut dia, koordinasi langsung dengan petugas pertanian dan penyuluh lapangan jauh lebih efektif karena penanganan disesuaikan dengan kondisi lahan di masing-masing wilayah.
Ia mendorong petani mulai beralih menggunakan pupuk organik karena dinilai lebih baik untuk menjaga kesuburan tanah dan ketahanan tanaman dibandingkan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan.
“Pupuk organik lebih bagus untuk jangka panjang. Tanah tetap subur dan tanaman lebih kuat menghadapi perubahan cuaca maupun serangan hama,” ujarnya.
Selain membahas pengendalian hama, Waspodo juga menyinggung tingginya biaya pembelian bibit pisang kresek. Ia menyebut pembelian bonggol pisang menjadi alternatif yang lebih murah karena dapat dipisahkan dan dikembangkan sendiri oleh petani.
“Pembelian bonggol lebih hemat dibandingkan membeli bibit pisang kresek yang harganya lebih mahal. Ini bisa membantu menekan biaya produksi petani,” tuturnya.
Ia berharap para petani, khususnya generasi milenial, mampu membangun kolaborasi yang baik dalam menghadapi tantangan pertanian modern, mulai dari pengelolaan air, penggunaan pupuk, hingga pengendalian hama secara terpadu agar produktivitas pertanian di Lumajang tetap terjaga.(D.S)







