Indramayu, Kabarnusa24.com
Roda kehidupan memang bisa berputar begitu cepat. Seseorang yang pernah berada di puncak jabatan, dalam waktu singkat bisa menghadapi masa-masa sulit penuh perjuangan.
Kisah pilu itu kini dialami Subada, mantan anggota DPRD Kabupaten Indramayu periode 2014–2019. Sosok yang dulu dikenal vokal menyuarakan aspirasi masyarakat di kursi dewan, kini harus berjuang bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang menurun.
Cobaan hidup mulai datang setelah dirinya gagal kembali terpilih dalam Pemilu Legislatif. Sejak saat itu, kehidupan Subada berubah drastis.

Usaha garam yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga mengalami kebangkrutan. Di saat bersamaan, rumah tangganya pun ikut berakhir. Ujian hidup kembali bertambah ketika istri keduanya meninggal dunia. Tak lama kemudian, ia divonis menderita stroke ringan yang membuat kondisi fisiknya melemah.
Meski demikian, Subada memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Setiap hari, ia berjalan kaki berkeliling kampung di wilayah Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, demi mencari pekerjaan serabutan.
Saat ini, ia tinggal menumpang di rumah saudaranya sambil berharap ada warga yang bersedia memberinya pekerjaan. Namun kondisi fisiknya yang sudah tidak sekuat dulu membuat dirinya kerap kesulitan mendapatkan pekerjaan.
“Kadang makan minta ke tetangga, kadang ke saudara,” ujarnya lirih.
Di tengah berbagai ujian hidup yang dialaminya, Subada tetap berusaha menebarkan pesan kebaikan kepada sesama.

“Teruslah berbuat kebaikan walaupun langit esok akan runtuh. Ambil yang baik dan buang yang buruk,” tuturnya.
Kisah hidup Subada menjadi pengingat bahwa jabatan dan harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat berubah. Di balik kerasnya kehidupan, keteguhan hati dan semangat untuk bertahan menjadi pelajaran berharga bagi banyak orang.







