PO Menuju Era Baru :Munas 2026 Tegaskan Regenerasi, Digitalisasi, dan Kemandirian Organisasi
Lumajang, kabarnusa 24.Com Minggu,31/5/2026 – Musyawarah Nasional (Munas) Pencak Organisasi (PO) Tahun 2026 yang digelar di Aula BKPSDM Kabupaten Lumajang, Jalan Ahmad Yani, Sabtu (30/5/2026), menjadi momentum penting bagi transformasi organisasi silat tertua yang lahir dari bumi Lumajang tersebut.
Ratusan peserta dan utusan dari 48 cabang kabupaten, kota, serta provinsi di seluruh Indonesia hadir dalam forum tertinggi organisasi yang mengusung tema “Paradigma Baru Pencak Organisasi Menuju Perguruan Silat yang Berkualitas dan Berkemajuan untuk Meraih Prestasi Gemilang.”
Anggota DPRD Kabupaten Lumajang sekaligus tokoh Pencak Organisasi, H. Bukasan, S.Pd., mengungkapkan bahwa mayoritas peserta Munas menghendaki Ari Budi Santoso kembali memimpin organisasi sebagai Ketua Umum. Namun demikian, keputusan tersebut masih menunggu mekanisme resmi dalam sidang Munas.
“Kalau yang berkembang saat ini memang seluruh utusan cabang yang hadir menghendaki Pak Ari memimpin kembali. Namun itu masih berupa aspirasi yang berkembang. Keputusan final tetap menunggu hasil sidang dan mekanisme organisasi yang akan berlangsung besok,” ujar Bukasan.
Menurutnya, rangkaian Munas saat ini masih berada pada tahap pembukaan yang diisi sambutan panitia, laporan pertanggungjawaban pengurus, serta arahan dari kepengurusan lama sebelum dilakukan proses demisioner dan pembentukan kepengurusan baru.
Bukasan mengaku terharu melihat antusiasme kader PO dari berbagai daerah yang rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti Munas di Lumajang. Bahkan sejumlah peserta berasal dari daerah-daerah pemekaran baru di wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Kami sangat terharu. Ada peserta yang datang dari daerah pemekaran baru di NTT dengan perjalanan yang sangat jauh. Mereka datang bukan karena hitungan biaya atau tenaga, tetapi karena jiwa dan kecintaan terhadap Pencak Organisasi yang sudah melekat,” katanya.
Ia menyebut kehadiran seluruh peserta dari 48 cabang menjadi bukti kuat bahwa semangat persaudaraan dan loyalitas warga PO masih terjaga dengan baik.
Dalam Munas kali ini, kata Bukasan, organisasi tidak hanya berfokus pada pengembangan prestasi atlet semata, tetapi juga menyiapkan langkah besar menuju modernisasi organisasi melalui penguatan sumber daya manusia, digitalisasi administrasi, serta peningkatan tata kelola kelembagaan.
“Kami ingin ada regenerasi yang kuat, penguatan SDM, digitalisasi organisasi, administrasi yang lebih modern, dan tata kelola yang semakin baik. Pencak Organisasi tidak hanya berbicara soal kemampuan bersilat, tetapi juga bagaimana membangun empati sosial dan kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Bukasan menegaskan bahwa PO harus berkembang menjadi perguruan silat yang unggul dalam seluruh aspek, baik prestasi olahraga, penguatan karakter, maupun pengabdian sosial kepada masyarakat.
Ia juga menyoroti keberhasilan pelaksanaan Kejuaraan Nasional PO yang sebelumnya digelar di Lumajang dengan anggaran mendekati Rp200 juta yang seluruhnya diperoleh melalui swadaya dan gotong royong warga organisasi.
“Semua berjalan tanpa mengambil dana kas organisasi. Ini murni gotong royong. Itu menunjukkan bahwa PO memiliki kekuatan sosial yang luar biasa. Tugas pengurus adalah mengorganisir semangat kebersamaan tersebut agar menjadi kekuatan yang lebih besar,” jelasnya.
Di bawah kepengurusan saat ini, sejumlah capaian telah diwujudkan, termasuk pembangunan padepokan dan sekretariat organisasi yang menjadi simbol keberadaan PO di tanah kelahirannya.
“Alhamdulillah sudah ada bukti nyata berupa lokasi padepokan dan sekretariat. Kami berharap kepengurusan berikutnya bisa melanjutkan pembangunan pagar, aula, dan fasilitas lainnya agar PO benar-benar memiliki rumah besar yang membanggakan di Lumajang,” katanya.
Bukasan menambahkan, regenerasi kepemimpinan harus dipersiapkan secara serius agar organisasi tidak bergantung pada figur tertentu. Ia menekankan pentingnya kemandirian organisasi sebagaimana arahan Ketua Umum selama ini.
“PO harus berdaulat, mandiri, dan berkualitas dalam semua aspek. Nilai-nilai tradisi, ideologi organisasi, serta lima sumpah PO harus terus ditanamkan kepada generasi penerus. Kita tidak boleh bergantung pada siapa pun,” tegasnya.
Menurutnya, prestasi atlet menjadi salah satu kunci untuk memperkuat eksistensi organisasi di tengah masyarakat. Semakin banyak prestasi yang diraih, semakin besar pula dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap perkembangan PO.
Menutup keterangannya, Bukasan menegaskan komitmennya untuk terus menjaga warisan sejarah Pencak Organisasi yang lahir dari semangat perjuangan dan perlawanan terhadap penjajahan di Kabupaten Lumajang.
“Saya asli orang Lumajang. Saya merasa terpanggil untuk menjaga agar Pencak Organisasi tidak hilang ditelan zaman. Organisasi ini lahir dari sejarah besar perjuangan bangsa. Karena itu, harus ada warisan yang terus ditinggalkan dan dikembangkan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Munas PO 2026 di Lumajang diharapkan menjadi titik awal lahirnya kepengurusan baru yang mampu membawa organisasi memasuki era modern tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi perjuangannya selama puluhan tahun.(D.S)







