Oleh: KH Misbahul Munir SAg MM, Sekretaris Umum MUI Kota Tangerang
Khutbah I
السَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُه
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَظِيْمِ الْقَادِرِ، بَارِئِ الْخَلَائِقِ مِنْ صَغِيْرٍ وَكَبِيْرٍ
مَنْ زَيَّنَ الدُّنْيَا بِكُلِّ جَمَالِهَا، وَحَبَا الْبِلَادَ بِفَضْلِهِ الْمُتَكَاثِرِ
جَعَلَ الشُّعُوْبَ عَلَى التَّنَوُّعِ هَيْئَةً، كَأَزَاهِرِالرَّوْضِ الْبَهِيِّ النَّاضِرِ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ عَبْدٍ مُعْتَرِفٍ بِالتَّقْصِيْرِ، رَاجٍ لِعَفْوِ رَبِّهِ الْعَفُوِّ الْغَفُوْرِ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى وَآلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ وَوَالَاه
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الَّذِيْ يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُوْرُ. فَالتَّقْوَى حِصْنٌ مَنِيْعٌ، وَمَلْجَأٌ رَفِيْعٌ
فَقَدْقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ : وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
صدق الله العظيم
Sidang Jumat yang berbahagia,..
Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata’ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi.
Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa disertai dengan perilaku yang sesuai dengan petunjuk Alquran.
Hadirin rahimakumullah,..
Di antara kado istimewa yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa Indonesia adalah hadirnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.. Dengan ideologi yang menjadi dasar negara, Pancasila mampu menyatukan keragaman yang ada dengan lima sila yang ada di dalamnya.
Jika dipahami secara mendalam, kelima sila yang ada dalam Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama Islam. Bahkan sila-sila yang ada dalam Pancasila selaras dengan firman-firman Allah SWT yang termaktub dalam Alquran.
Sila pertama yakni “ Ketuhanan Yang Maha Esa “ selaras dengan firman Allah yang menegaskan keesaanNya dan memuat kandungan ketauhidan atau at-tauhid. Hal ini selaras dengan Alquran Surat Al-Ikhlas ayat 1:
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Artinya : Katakanlah (Muhammad) “Dialah Allah, Yang Maha Esa”
Sila pertama, ini bukan sekadar kalimat pajangan, melainkan sebuah fondasi spiritual yang sangat fundamental bagi bangsa ini.
Sila ini selaras dengan firman Allah SWT yang menegaskan keesaan-Nya secara mutlak, sebuah konsep yang dalam Islam menjadi inti dari fondasi keimanan, yaitu at-tauhid. Melalui sila ini, para pendiri bangsa—termasuk di dalamnya para ulama—ingin memastikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang bertuhan, bangsa yang menolak ateisme, dan bangsa yang aktivitas dunianya selalu dipertanggungjawabkan kepada Zat Yang Mahatunggal.”
Selanjutnya sila kedua “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab “juga termaktub dalam Alquran yang berisi kandungan kemanusiaan atau al -insaniyyah. Hal ini disebutkan dalam Alquran surat An-Nisa ayat 135:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.”
Sila ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’, sejatinya merupakan manifestasi dari konsep Al-Insaniyyah (humanisme Islam) yang dijunjung tinggi di dalam Alquran. Islam datang bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya (hablum minallah), melainkan juga untuk memuliakan hubungan antar-sesama manusia (hablum minannas). Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab ini juga termaktub dengan sangat indah dalam Alquran Surat al-Maidah ayat 8:S
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
‘…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.’
Sila kedua ini menegaskan bahwa dalam pandangan Alquran, seorang manusia baru bisa dikatakan beradab apabila ia mampu menegakkan keadilan dan menghormati hak-hak kemanusiaan orang lain, tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun golongannya.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,..
Kemudian sila ketiga “ Persatuan Indonesia “ adalah sila yang memuat prinsip-prinsip integrasi dan persatuan atau al-wahdah. Allah pun telah menegaskan persatuan di tengah perbedaan ini dalam Alqyran yang termaktub dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya “ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti.”
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,..
Adapun sila Keempat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan” mengusung nilai-nilai kebersamaan dan musyawarah atau al-ijma Terkait dengan permusyawaratan ini, banyak disebutkan dalam ayat-ayat Alquran yang salah satunya adalah dalam Surat As-Syura ayat 38:
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ
Artinya : “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,..
Dan terakhir, Sila Kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” memuat misi untuk mewujudkan keadilan atau al-adalah. Prinsip keadilan ini termaktub dalam surat An-Nahl ayat 90
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantua kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,..
Dari semua sila dalam Pancasila sebagai ideologi bangsa telah menyatukan keragaman yang ada di Indonesia tersimpul dalam Bhinneka Tunggal Ika.
Nilai-nilai ini harus terus kita tanamkan dan wariskan kepada generasi penerus sehingga Indonesia akan senantiasa Jaya.
Demikianlah khutbah ini kami sampaikan semoga Allah senantiasa melindungi bangsa Indonesia agar tetap damai dan selalu kompak menjaga kebersamaan dalam kebhinnekaan. Amin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّتَنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا مَلِيئَةً بِالْمَحَبَّةِ وَالرَّحْمَةِ، وَجَنِّبْنَا الْعُنْفَ وَالظُّلْمَ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Sumber: Khutbah Jumat MUI







