DaerahKuliner

Pedagang Warteg Menjerit, Pelanggan Kini Batasi Makan Rp15-20 Ribu Akibat Harga Pangan Melambung

5
×

Pedagang Warteg Menjerit, Pelanggan Kini Batasi Makan Rp15-20 Ribu Akibat Harga Pangan Melambung

Sebarkan artikel ini
Pedagang Warteg Menjerit, Pelanggan Kini Batasi Makan Rp15-20 Ribu Akibat Harga Pangan Melambung

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Kenaikan harga bahan pangan yang terus terjadi mulai berdampak langsung terhadap pelaku usaha kuliner, khususnya pedagang warteg dan rumah makan sederhana. Selain harus menghadapi biaya bahan baku yang semakin mahal, para pedagang juga mengeluhkan menurunnya daya beli masyarakat.

Kondisi tersebut membuat banyak pelanggan kini lebih selektif dalam memilih menu makanan. Dengan anggaran makan yang rata-rata hanya berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000 per porsi, konsumen cenderung memilih lauk yang lebih terjangkau.

Akibatnya, menu-menu ekonomis seperti tahu, tempe, telur, dan sayuran menjadi pilihan utama. Sementara lauk yang sebelumnya cukup diminati, seperti ayam, rendang sapi, cumi, maupun udang, kini semakin jarang dipilih karena harganya dinilai terlalu tinggi bagi sebagian masyarakat.

Sejumlah pedagang mengaku penjualan lauk premium mengalami penurunan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Banyak pelanggan yang lebih mengutamakan kenyang dengan biaya seminimal mungkin daripada memilih menu yang lebih lengkap dan bergizi.

Fenomena ini menggambarkan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok. Di satu sisi, pedagang harus menyesuaikan harga jual agar tidak merugi, namun di sisi lain mereka juga khawatir kehilangan pelanggan jika harga makanan dinaikkan terlalu tinggi.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kuliner kecil yang harus bertahan di tengah naiknya biaya operasional dan melemahnya daya beli masyarakat. Dengan situasi saat ini, menu sederhana berbahan tahu, tempe, telur, dan sayuran menjadi andalan banyak konsumen untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan anggaran terbatas.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin