Oleh : Sutriachol Haris, L.C
TANGGERANG,- Senin, 8 Juni 2026 Sebuah teori ilmiah yang dicetuskan oleh seoarang psikolog dari Harvard University Howard Gardner disadari menurut pandangannya bahwa kecerdasan manusia tak hanya terbatas pada kemampuan bahasa dan nalar pikir melainkan berbagai kapasitas dan bakat khusus.
Masih menurut seorang Doktor dari Harvard itu ragam kecerdasan dalam konsep “Multiple Intelligence”.
Analisanya bahwa dalam pandangan dimana disinilah amat jelas sungguh SBY dengan Prabowo dari sisi verbal saja (linguistik) misalnya dalam menggunakan dan memilih tutur kata – kata dan bahasa aktif, efektif, interaktif nya beda jauh. Apalagi bahkan secara kinestetik juga amat beda jauh, SBY jarang goyang sementara Praboyo kebalikannya.
Ketika hari lahir pancasila Presiden Prabowo pidato memperingati di hari itu dengan teks terukur formal fokus sehingga sesuatu yang menjadi setelahnya tak menimbulkan memancing reaksi di luar konteks.
Hal Ini patut dibiasakan oleh sang Presiden sebagai simbol negara ketegasannya dan marwah kewibawaannya harus selalu di ingatkan (watawa saubil hak wa sobr)
Di dalam pandangan ketika siapapun menyampaikan pembicaraan atau pidatonya maka sejatinya sebagaimana the prophet Muhammad mengingatkan kita sekalian untuk fokus dan lihatlah dengarlah apa yang di pidatokan atau yang di sampaikannya itu bukan melihat konsen nya terhadap leader atau sang penyampainya terlebih dalam konsep pandang kaca mata diplomasi dunia apa yang di sampaikan dan siapa yang menyampaikan keduanya sangat erat dengan sarat makna terlebih Presiden yang menyampaikan bicara.
Boleh jadi dan semua kita bukan saja Presiden bakal mati tentu tapi apa yang telah disampaikannya dalam konteks dan konsep bicara akan menjadi kucuran deras jariyah pahala.
Lihatlah apa yang di katakan bukan melihat siapa yang mengatakan karena siapapun leader nya itu boleh mati tapi yang dikatakannya akan selalu mengenang menjadi rekam jejak terlebih dewasa tekhnologi digital dasawarsa unggul.
Tak ada yang keliru total dalam apa atau apapun yang menjadi tabiat kebiasaan Prabowo. Sebut saja dahulu ada seorang ABRI yang kini di kenal dengan istilah TNI sebut saja Tadjus Sobirin sang mantan Bupati Kab. Tangerang, Prabowo dengan Tadjus ini hampir mirip jiwa humoris dan canda senda guraunya. Ketika esensi persoalannya adalah Prabowo adalah seorang Presoden mesti cakap fokus terarah terukur tegas dan wibawa maka seyogyanya amat dimungkinkan memakai teks dalam pidato formal bukan saja hanya ketika hendak menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan Majlis MPR RI.
Pak Prabowo bahwa tak ada makhluk dan manusia yang sempurna betul, namun berbicara seperlu mungkin dan terukur bicara dengan teks dalam konsep bernegara itu adalah bagian jiwa raga dan secara otomatis bahwa kita sungguh sedang dan tengah beriman kepada Tuhan yang maha Esa. Hakikatnya sekaligus mengamalkan isi Pancasila sila pertama.
Tahukah kita dan harus kita sadari bersama bahwa sesungguhnya kedamaian dan rasa damai akan tercabik akibat lidah yang tak bertulang itu. Bahkan keselamatan suatu bangsa bagaimana terdapat pada sang pemimpin dalam menjaga lidahnya.
Sungguh nyata apa yang pula dikatakan oleh Steve Jobs :
“If you want to make everyone happy don’t be a leader sell ice-cream”.
Sungguh benar dimana saja kita hidup disana ada yang suka dan tidak. Terlebih seorang Presiden jelas dan tak mungkin semua masyarakat suka padanya namun paling tidak ketika apa yang telah di sampaikan oleh Presiden bila dengan teks justru bisa lebih kena menyentuh dan mengenang lebih berkesan. Dan untuk di sukai rakyat tak harus atau jangan sekali Presiden manaruh es krim dalam packing di ompreng MBG.







