Nasional

Menjemput Kemandirian Dapur MBG : Saat Gotong Royong Didorong, Kehadiran Negara Tetap Diperlukan

3
×

Menjemput Kemandirian Dapur MBG : Saat Gotong Royong Didorong, Kehadiran Negara Tetap Diperlukan

Sebarkan artikel ini
Menjemput Kemandirian Dapur MBG : Saat Gotong Royong Didorong, Kehadiran Negara Tetap Diperlukan
Foto : Dok.Ist

JAKARTA, Kabarnusa24.com

Oleh : Ari Supit Badan Gizi Nasional

Membaca Gagasan Baru Pembiayaan Dapur Makan Bergizi Gratis

Pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, mengenai kemungkinan pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui dana CSR BUMN, hibah luar negeri, serta dukungan investasi perusahaan besar, menghadirkan ruang diskusi yang menarik tentang masa depan pembiayaan program strategis nasional.

Gagasan tersebut lahir di tengah kebutuhan untuk memperluas jangkauan layanan MBG ke berbagai daerah, termasuk wilayah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan akses investasi. Dalam pandangan ini, kolaborasi dengan berbagai pihak diposisikan sebagai ikhtiar untuk mempercepat pembangunan dapur dan memperluas manfaat program tanpa sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pada dasarnya, pemikiran tersebut menunjukkan semangat mencari jalan keluar yang kreatif dan adaptif. Di tengah kebutuhan pembangunan yang besar, keterlibatan dunia usaha, BUMN, lembaga filantropi, maupun mitra internasional dapat menjadi energi tambahan untuk mempercepat pelayanan kepada masyarakat.

Gotong Royong sebagai Kekuatan, Bukan Pengganti Tanggung Jawab

Bangsa Indonesia dibangun di atas semangat gotong royong. Karena itu, partisipasi berbagai pihak dalam mendukung program sosial dan kemanusiaan selalu patut diapresiasi. Kehadiran CSR BUMN, bantuan filantropi, hibah, maupun investasi sosial dapat menjadi bentuk nyata kepedulian bersama terhadap masa depan generasi bangsa.

Namun demikian, penting untuk menempatkan semangat kolaborasi tersebut pada proporsi yang tepat.

Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar proyek pembangunan dapur atau penyediaan makanan. Program ini merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dari program inilah diharapkan lahir generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Karena itu, dukungan dari berbagai pihak sebaiknya dipahami sebagai unsur penguat, bukan sebagai pengganti fondasi utama yang menjadi tanggung jawab negara. Kehadiran APBN tetap memiliki peran strategis sebagai jaminan keberlanjutan, pemerataan, dan kepastian layanan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menjaga Keadilan bagi Daerah yang Paling Membutuhkan

Salah satu tujuan utama MBG adalah menghadirkan layanan gizi yang merata bagi seluruh anak Indonesia, tanpa membedakan wilayah maupun kondisi ekonomi daerah.

Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara kolaborasi dan peran negara. Sebab, tidak semua daerah memiliki potensi yang sama untuk menarik investor atau memperoleh dukungan perusahaan besar. Wilayah terpencil, tertinggal, terluar, dan terdepan (3T) justru sering kali menjadi daerah yang paling membutuhkan perhatian, tetapi memiliki keterbatasan akses terhadap sumber pembiayaan non-pemerintah.

Apabila pembangunan dapur terlalu bergantung pada investasi atau dukungan eksternal, maka terdapat kemungkinan munculnya kesenjangan kecepatan pembangunan antarwilayah. Daerah yang memiliki banyak aktivitas ekonomi mungkin berkembang lebih cepat, sementara daerah yang minim investasi harus menunggu lebih lama.

Karena itu, kehadiran negara tetap menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa tidak ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena faktor lokasi geografis.

Transparansi sebagai Penjaga Kepercayaan Publik

Semakin banyak pihak yang terlibat dalam pembiayaan program publik, semakin besar pula kebutuhan akan tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Masyarakat berhak mengetahui dari mana sumber pembiayaan berasal, bagaimana dana tersebut digunakan, wilayah mana yang menerima manfaat, serta bagaimana mekanisme pengawasannya dijalankan. Keterbukaan informasi bukan hanya soal administrasi, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan memastikan setiap rupiah yang digunakan benar-benar kembali kepada kepentingan rakyat.

Transparansi akan menjadi jembatan yang menghubungkan semangat gotong royong dengan kepercayaan publik terhadap program yang dijalankan.

Merawat Semangat Bersama untuk Masa Depan Anak Bangsa

Gagasan memanfaatkan CSR, hibah luar negeri, dan dukungan investasi perusahaan besar sesungguhnya dapat dibaca sebagai upaya memperluas ruang partisipasi dalam pembangunan nasional. Semangat tersebut layak diapresiasi selama tetap berada dalam koridor kepentingan publik, akuntabilitas, dan pemerataan.

Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh jumlah dapur yang berdiri atau besarnya investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana program ini mampu menjangkau seluruh anak Indonesia secara adil, berkelanjutan, dan berkualitas.

Gotong royong dapat menjadi tenaga penggerak yang mempercepat langkah. Namun dalam urusan pemenuhan gizi dan masa depan generasi bangsa, negara tetap harus menjadi sandaran utama yang memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal dari hak-haknya.

Sebab pada akhirnya, dapur boleh dibangun bersama, tetapi tanggung jawab terhadap masa depan anak bangsa tetap merupakan amanat yang harus dijaga oleh negara bersama seluruh elemen masyarakat.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin