JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi DKI Jakarta merespons pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang mengkaitkan kelompok kritis seperti jurnalis, ekonom, pengamat, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sebagai ‘londo ireng’.
Dikatakan Ketua PWI Jaya, Kesit Budi Handoyo, menyayangkan pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto terhadap kalangan jurnalis.
“Kami sangat menyayangkan pernyataan Presiden yang mengidentikkan wartawan/jurnalis seperti ‘Londo Ireng’ yang artinya ‘Belanda Hitam’ atau pengkhianat,” kata Kesit kepada awak media dilansir Meganews., Jumat (24/07/26).
Padahal, lanjut Kesit, wartawan atau jurnalis juga turut andil dalam berdirinya Indonesia dan mengisi kemerdekaan. “Banyak pendiri bangsa ini yang juga berprofesi sebagai wartawan,” tuturnya.
Ia menilai pernyataan Prabowo tersebut tidak hanya mencederai kehormatan dan martabat wartawan tetapi juga berpotensi mengganggu kemerdekaan pers yang dijamin oleh Undang-Undang.
Selain itu, ia mengingatkan kembali bahwa dalam negara demokrasi, kritik dari pers dan masyarakat sipil bukan ancaman, melainkan bagian dari mekanisme checks and balances untuk memperbaiki kualitas kebijakan publik.
Kebebasan Berpendapat Dijamin Undang-Undang
“Kami menegaskan bahwa kebebasan berpendapat tidak boleh digunakan untuk merendahkan profesi lain, apalagi yang dilindungi oleh undang-undang. Oleh karena itu penting bagi semua pihak untuk menjaga etika komunikasi di ruang publik,” kata Kesit.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pengamat yang kerap melontarkan kritik pesimistis terhadap negara.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara demokrasi tidak pernah anti terhadap kritik. Namun, ia menyayangkan adanya pihak-pihak yang dinilainya sengaja mengabdi pada kepentingan asing demi melemahkan bangsa sendiri.
Prabowo menganalogikan kelompok ini dengan istilah sejarah “Londo Ireng” pada masa penjajahan Belanda.
“Kita negara demokrasi, kita tidak anti kritik tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang seneng mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini. Sampai sekarang masih ada,” tegas Prabowo saat acara peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/07/26).
Lebih lanjut, Prabowo mempertanyakan siapa penyandang dana di balik pihak-pihak yang kerap tampil dengan narasi negatif tersebut. Apalagi saat ini kondisi ekonomi secara umum sedang menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja.
“Hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan,” cecarnya.
Prabowo menilai kelompok-kelompok tersebut secara masif menyebarkan kampanye untuk menggoyahkan mental bangsa. Salah satunya adalah narasi berulang yang memprediksi bahwa Indonesia akan segera runtuh atau kolaps.
“Jadi Saudara-saudara kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat nggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat nggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” ucap Prabowo.
Ia menganalogikan pihak-pihak yang terus menurunkan moral bangsa sendiri di tengah upaya perbaikan layaknya pendukung sepak bola yang tidak waras.
“Saudara-saudara, kita kalau kita cinta sama satu kesebelasan. Umpamanya ya kesebelasan kita lagi main sepak bola. Dia lagi bertarung dia lagi bertanding di lapangan. Kita kan sebagai suporter ayo ayo maju. Aduh. Tapi jangan menurunkan moril dong, orang lagi bertanding di situ. Oh nanti gol masuk, nanti kamu kalah nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa. Gendeng ya, gendeng kali ya,” pungkasnya.







