Nasional

Job Fair Lapangan Kerja 2026 Hanya Iklan Promo, Pengamat : Pemuda Era Sekarang Sulit Dapat Pekerjaan di Perusahaan Industri

5
×

Job Fair Lapangan Kerja 2026 Hanya Iklan Promo, Pengamat : Pemuda Era Sekarang Sulit Dapat Pekerjaan di Perusahaan Industri

Sebarkan artikel ini
Job Fair Lapangan Kerja 2026 Hanya Iklan Promo, Pengamat : Pemuda Era Sekarang Sulit Dapat Pekerjaan di Perusahaan Industri
Foto : Ilustrasi

JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Banyak perusahaan mencari kandidat yang sudah memiliki pengalaman atau carier. Masalah pengangguran masih menjadi isu yang butuh perhatian.

Terdapat beberapa faktor yang mendorong tingginya angka pengangguran di Indonesia, mulai dari kurangnya keterampilan dan pendidikan penduduk angkatan kerja, kriteria yang tidak terpenuhi, hingga jumlah tenaga kerja dan lowongan kerja yang tidak seimbang.

Sebab, sering kali peluang kerja lebih mudah didapat melalui koneksi dan rekomendasi dari orang lain. Banyak pelamar memiliki latar pendidikan tertentu, tetapi perusahaan membutuhkan kemampuan yang lebih spesifik dan praktis.

Akibatnya, banyak pencari kerja merasa terjebak karena sulit mendapat pengalaman tanpa pekerjaan, tetapi pekerjaan juga membutuhkan pengalaman.

Seperti halnya yang terjadi pada dua orang pemuda pencari kerja telah mengikuti walk interview pekerjaan dibeberapa perusahaan yang melalui aplikasi link Lowongan kerja berbagai wilayah.

Hal ini mengundang minat dua pemuda pencari kerja yang ada di DKI Jakarta untuk berkarir di beberapa perusahaan yang telah dicoba.

“Lowongan kerja dari Aplikasi Lowongan Kerja sangat membantu pencaker dalam  mencari pekerjaan. Support dari dinas ketenagakerjaan dan perusahaan swasta juga sudah bagus menyediakan informasi lowongan pekerjaan dari aplikasi tersebut” Ujar Guntur (25) kepada wartawan, Kamis(30/07/26).

Lebih lanjut ia menjelaskan, “sulitnya cari kerja di Jakarta, Tangerang dan Bekasi untuk fresh graduate. Sangat sulit menemukan lowongan pekerjaan yang menerima lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) Ataupun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),” Ujarnya.

Hampir semua perusahaan atau pabrik yang ia masuki mensyaratkan lulusan diploma dan sarjana. Padahal sebagai lulusan SMK, ia dan temannya sudah siap untuk siap masuk dunia kerja.

“Syarat lain yang berat adalah harus punya pengalaman kerja minimal dua tahun,” keluhnya. Yang lebih menyakitkan, sudah diinterview diawal tidak satupun lamaran yang ia kirimkan mendapat panggilan ke 2 hasil wawancara sebelumnya. Artinya ia sudah mendapat penolakan sebelum dapat kesempatan untuk menjelaskan apa yang ia bisa.

Dengan yang sama dikatakan seorang pemuda Wisnu (26) mengatakan, sejak lulus beberapa bulan lalu, dia sudah memasukkan lamaran kerja ke sejumlah perusahaan di DKI Jakarta. Hasilnya, masih nihil.

“Job lowongan kerja di aplikasi ini memang sangat membantu sekali, apalagi untuk saya yang fresh grad. Mudah-mudahan, ada panggilan dari hasil interview.” ujarnya.

Menurut Wisnu, tidak adanya feedback membuat ia bingung mencari tahu apa yang salah saat interview. “Kendala atau kurang di interview tidak tau juga sih, tidak pernah ada kejelasan setelah interview soalnya” Ujarnya.

Menanggapi hal tersebut Pengamat Kebijakan Publik dan Sosial Politik Ley Bolon mengatakan, cukup mirisnya melihat anak muda serta pencari kerja yang mendominasi angka pengangguran di Indonesia.

“Bagaimana tidak pemuda sekarang sulit mendapatkan kerjaan? Kita mengetahui bahwa generasi muda yang disematkan dengan sebutan harapan bangsa justru menjadi kelompok usia dengan angka pengangguran tinggi. Job ribuan Lapangan kerja dari Kementerian Ketenagakerjaan ataupun dari Pemerintah Daerah Dinas Ketenagakerjaan itu hanya sebuah iklan promosi.” ujarnya.

Ley Bolon menjelaskan, “Tidak tanggung-tanggung, jumlah pengangguran yang ada di Indonesia saat ini justru didominasi oleh sekelompok usia muda, seperti lulusan SMA hingga Sarjana. Mengapa demikian?” ujarnya.

Di tengah persoalan terkait banyaknya pengangguran anak muda di tanah air, justru ditemukan persoalan terkait adanya syarat batasan usia di mana untuk disebut maksimal, serta adanya orang dalam agar bisa lolos tampa persyaratan.

Hal ini disebabkan banyaknya perusahaan yang menerapkan persyaratan maksimal 17-25 tahun dalam lowongan pekerjaan. Hal ini dinilai salah satu penghambat kaum usia muda memperoleh pekerjaan.

Padahal, masih dikatakan Ley Bolon, “untuk lulus S-1 saja rata-rata orang telah berusia 22-25. Jika 25 tahun adalah umur maksimal yang diterapkan dari pekerja yang perusahaan inginkan. Melihat hal ini lantas bagaimana nasib dengan para lulusan sarjana ataupun hanya lulusan SMA yang belum usianya telah lewat dari usia tersebut padahal mereka juga butuh pekerjaan.” ujarnya.

Dengan adanya faktor seperti ini, maka anak muda sekarang begitu sulit untuk mencari pekerjaan yang yang layak, dan bahkan turut menambahkan angka pengangguran muda di Indonesia.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin