Gaya Hidup

Pantang Menyerah di Usia Senja, Abang Pengkian Indramayu Setia Menunggu Rezeki Setiap Pagi

5
×

Pantang Menyerah di Usia Senja, Abang Pengkian Indramayu Setia Menunggu Rezeki Setiap Pagi

Sebarkan artikel ini
Pantang Menyerah di Usia Senja, Abang Pengkian Indramayu Setia Menunggu Rezeki Setiap Pagi

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap, Suyani (60) dan Darpan (64) telah mengayuh sepeda tuanya dari Desa Tugu menuju pusat Kota Indramayu.

Bukan untuk berolahraga, melainkan mencari nafkah sebagai Abang Pengkian, buruh harian lepas yang setiap pagi menanti panggilan kerja di trotoar seberang Masjid Agung Indramayu.

Berbekal cangkul, pengki, dan peralatan kerja sederhana, mereka siap menerima berbagai jenis pekerjaan. Mulai dari membersihkan halaman, merapikan kebun, menggali saluran air, hingga mengangkut puing-puing bangunan.

Penghasilan yang mereka peroleh tidak menentu. Ada hari ketika mereka harus pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Namun, jika beruntung mendapatkan pekerjaan borongan, mereka bisa membawa pulang ratusan ribu rupiah.

Bagi mereka, berapa pun rezeki yang didapat selalu disyukuri. Selama tubuh masih kuat bekerja, semangat untuk menghidupi keluarga tak pernah surut meski usia terus bertambah.

“Daripada di rumah tidur-tiduran, lebih baik tetap berangkat. Siapa tahu ada yang membutuhkan,” ujar Darpan.

Bagi Suyani, Darpan, dan para Abang Pengkian lainnya di Indramayu, cangkul dan pengki bukan sekadar alat kerja, melainkan simbol perjuangan hidup yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin banyaknya pekerjaan yang digantikan mesin, mereka tetap memilih bertahan dengan tenaga dan keahlian yang dimiliki. Semangat pantang menyerah menjadi modal utama untuk terus mengais rezeki.

Esok pagi, ketika matahari kembali terbit, mereka akan kembali mengayuh sepeda tua menuju tempat yang sama. Dengan cangkul dan pengki di tangan, mereka memanjatkan doa sederhana, semoga ada pintu rezeki yang terbuka dan seseorang bersedia menggunakan tenaga mereka untuk bekerja hari itu.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin