Berita

Emak-Emak Geruduk Dapur MBG di Lumut, Diduga Nasi Berbau Basi dan Ayam Masih Berdarah

100
×

Emak-Emak Geruduk Dapur MBG di Lumut, Diduga Nasi Berbau Basi dan Ayam Masih Berdarah

Sebarkan artikel ini
Emak-Emak Geruduk Dapur MBG di Lumut, Diduga Nasi Berbau Basi dan Ayam Masih Berdarah

TAPANULI TENGAH, 5 Agustus 2026 –Kabarnusa24.com)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi salah satu program unggulan pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kini menjadi sorotan tajam di Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sejumlah ibu rumah tangga mendatangi dapur MBG yang dikelola Yayasan Tri Bangun Semesta di bawah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) setelah muncul keluhan mengenai dugaan buruknya kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka.

 

Kedatangan para ibu bukan sekadar menyampaikan keluhan biasa. Mereka mengaku resah karena makanan yang dibawa pulang anak-anak diduga tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi. Keluhan yang disampaikan meliputi nasi yang diduga mengeluarkan bau seperti basi, daging ayam yang diduga belum matang sempurna karena masih terlihat berdarah, hingga buah salak yang terasa masam.

 

Bagi para orang tua, persoalan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Program MBG lahir untuk memperbaiki gizi anak, bukan justru menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan pangan. Karena itu, mereka meminta pengelola tidak menganggap remeh setiap laporan masyarakat.

Emak-Emak Geruduk Dapur MBG di Lumut, Diduga Nasi Berbau Basi dan Ayam Masih BerdarahIbu-ibu yang mendatangi dapur MBG tersebut yakni Reni, Desy, Siti Raijah, Umak Yunna, Mak Zairah, Restu, dan Mak Raisa. Mereka berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan.

 

Awak media kemudian meminta tanggapan pihak sekolah. Kepala sekolah menyatakan pihaknya mendukung masyarakat dalam menyampaikan aspirasi mengenai kualitas menu MBG.

 

“Pihak sekolah memberi dukungan untuk memberi aspirasi tentang kualitas menu MBG dan siap jika dihentikan MBG di PAUD Bangun Gembira,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keresahan masyarakat telah menjadi perhatian di lingkungan sekolah dan memerlukan respons cepat dari pihak penyelenggara program.

 

Saat dikonfirmasi, perwakilan dapur MBG yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengaku belum menerima laporan resmi dari masyarakat. Namun, pihak dapur tidak menutup mata terhadap adanya persoalan.

 

“Apa yang perlu kami jawab, Pak? Terkait ibu-ibu yang datang, laporan mereka pun tidak ada,” katanya.

 

Dalam kesempatan yang sama, pihak dapur juga menyampaikan permohonan maaf atas dugaan sikap arogan salah seorang anggota dapur bernama Bela saat menerima pertanyaan dari para ibu.

 

“Kami mewakili anggota kami yang bernama Bela yang diduga arogan ketika ibu-ibu menanyakan kualitas menu. Kami meminta maaf kepada ibu-ibu tersebut. Kami akan membenahi seluruh kekurangan yang telah disampaikan,” ujar perwakilan dapur.

 

Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa program sebesar MBG tidak cukup hanya mengejar target distribusi makanan. Kualitas, kebersihan, keamanan pangan, pengawasan internal, dan pelayanan kepada masyarakat harus menjadi prioritas utama. Kepercayaan publik dapat runtuh apabila setiap keluhan warga tidak ditangani secara cepat, terbuka, dan profesional.

 

Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari Yayasan Tri Bangun Semesta, SPPG, dan Badan Gizi Nasional. Dugaan yang disampaikan warga perlu diverifikasi secara menyeluruh melalui pemeriksaan terhadap bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi makanan agar diperoleh kepastian fakta dan langkah perbaikan yang diperlukan.

 

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Yayasan Tri Bangun Semesta maupun Badan Gizi Nasional terkait dugaan tersebut. Awak media masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

(Hasanuddingulo)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin