Daerah
9
×

Sebarkan artikel ini
oplus_2

Dari Panggung ke Rumah Warga, PKB Ingin Ubah Cara Berpolitik Jelang 2029

 

LUMAJANG,kabarnusa24.com— Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) didorong mengubah wajah gerakan politiknya. Aktivitas partai tidak cukup hanya terlihat dalam forum resmi, spanduk, ataupun aktivitas di media sosial. Kader dituntut membuktikan keberadaan partai melalui kehadiran langsung di tengah persoalan warga.

 

Gagasan tersebut disampaikan Wakil DPW PKB Jawa Timur, Otman Ralbi, dalam konsolidasi kader yang digelar di Hall Hotel Prima, Jalan Soekarno-Hatta, Sukodono, Lumajang.

 

Otman menilai organisasi politik harus mampu bergerak melampaui rutinitas seremonial. Baginya, forum konsolidasi seharusnya menjadi titik awal untuk melahirkan tindakan, bukan berhenti pada pertemuan dan pidato.

 

“Dari seremoni harus menjadi kegiatan yang punya peradaban. Dari diskusi menjadi solusi dan dari kata-kata menjadi kerja nyata,” kata Otman.

 

Ia menyebut masyarakat membutuhkan organisasi yang bisa ditemui ketika persoalan muncul. Karena itu, kedekatan kader dengan warga harus dibangun melalui interaksi yang terus-menerus.

 

Menurutnya, kader tidak boleh hanya muncul menjelang pesta demokrasi. Kehadiran politik harus dirasakan dalam keseharian masyarakat.

 

“Jangan sampai kita hanya datang kepada rakyat lima tahun sekali. Kader harus hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.

 

Bukan Sekadar Ramai di Media Sosial

 

Perubahan perilaku masyarakat juga membuat pola komunikasi politik ikut bergeser. Otman mengingatkan kader PKB agar mampu menggunakan ruang digital secara produktif.

 

Media sosial, kata dia, bukan sekadar tempat untuk menunjukkan aktivitas partai. Platform digital harus dimanfaatkan untuk menjelaskan gagasan, menyampaikan informasi yang benar, serta memperlihatkan apa yang benar-benar dikerjakan kader.

 

“Pertarungan gagasan hari ini juga berlangsung di ruang digital. Kader harus mampu menyampaikan informasi yang baik dan menjelaskan kerja nyata PKB,” katanya.

 

Ia tidak ingin kader terjebak dalam perlombaan membuat konten tanpa substansi.

 

Menurut Otman, konten politik akan kehilangan makna jika tidak berangkat dari aktivitas nyata. Sebaliknya, kerja yang dilakukan di tengah masyarakat harus mampu dikomunikasikan secara baik agar publik mengetahui manfaatnya.

 

Menyiapkan Politik Jangka Panjang

 

Otman juga mengingatkan bahwa Pemilu 2029 masih membutuhkan perjalanan panjang. Waktu tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan masyarakat, bukan sekadar menghitung peluang elektoral.

 

Ia menolak anggapan bahwa kemenangan bisa diperoleh secara mendadak ketika tahapan pemilu sudah dimulai.

 

“Tidak ada kemenangan yang lahir secara instan. Kerja politik harus dimulai sejak sekarang,” tegasnya.

 

Karena itu, kader diminta memperbanyak interaksi dengan masyarakat. Aspirasi warga harus didengar, persoalan dipetakan dan sebisa mungkin dicarikan jalan keluar.

 

Bagi Otman, hubungan antara partai dan masyarakat tidak boleh dibangun hanya atas dasar kepentingan politik sesaat.

 

“Setiap hari adalah kesempatan untuk menanamkan kepercayaan,” katanya.

 

Kaderisasi Jangan Berhenti di Struktur

 

Selain hubungan dengan masyarakat, Otman menyoroti persoalan regenerasi. Ia menyebut kaderisasi sebagai bagian yang menentukan masa depan organisasi.

 

Kader, menurutnya, bukan sekadar nama yang tercantum dalam struktur. Mereka harus menjadi penggerak yang mampu membawa nilai-nilai organisasi ke tengah masyarakat.

 

“Kaderisasi adalah jantung organisasi. Setiap kader harus menjadi ujung tombak dan mampu melahirkan kader-kader baru,” ujarnya.

 

Dengan demikian, konsolidasi tidak hanya bertujuan memperkuat barisan yang sudah ada, tetapi juga menyiapkan generasi berikutnya.

 

Membangun PKB sebagai Rumah Bersama

 

Dalam pidatonya, Otman juga menggunakan gambaran tentang rumah sebagai simbol kedekatan organisasi dengan masyarakat.

 

Sebuah rumah, menurut dia, akan menjadi tempat yang dicari ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Konsep tersebut ingin diterapkan dalam cara PKB membangun hubungan dengan masyarakat.

 

PKB, kata Otman, harus mampu menjadi rumah bersama yang terbuka bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan, keluhan maupun aspirasi.

 

“Kalau kita hadir di tengah masyarakat dan membangun kekeluargaan, kita akan dianggap sebagai saudara, bukan sekadar orang yang datang ketika membutuhkan dukungan,” tuturnya.

 

Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kekuatan politik tidak hanya ditentukan oleh struktur dan jumlah suara, tetapi juga oleh seberapa kuat hubungan yang dibangun dengan masyarakat.

 

Dari Lumajang, Otman mengajak kader PKB menjadikan konsolidasi sebagai awal perubahan pola kerja. Partai harus lebih dekat dengan rakyat, lebih responsif terhadap persoalan, serta mampu menerjemahkan gagasan ke dalam tindakan.

 

Dengan pola tersebut, perjalanan menuju Pemilu 2029 diharapkan tidak sekadar menjadi agenda perebutan suara, tetapi proses panjang membangun kepercayaan masyarakat melalui kerja yang dapat dilihat dan dirasakan.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin