Daerah

Anang Syaifuddin: Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader PKB Harus Peka terhadap Beban Rakyat

10
×

Anang Syaifuddin: Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader PKB Harus Peka terhadap Beban Rakyat

Sebarkan artikel ini
Anang Syaifuddin: Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader PKB Harus Peka terhadap Beban Rakyat
oplus_2

Anang Syaifuddin: Demokrasi Tak Cukup di Kotak Suara, Kader PKB Harus Peka terhadap Beban Rakyat

 

LUMAJANG, kabarnusa.24.Com— Partai politik tidak cukup hanya sibuk menghitung kursi dan suara menjelang pemilu. Bagi Anggota DPRD Jawa Timur H. Anang Akhmad Syaifuddin, kekuatan politik justru ditentukan oleh kemampuan kader memahami perubahan masyarakat serta merawat organisasi hingga tingkat paling bawah.

 

Pesan itu disampaikan Anang saat berbicara di hadapan kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam kegiatan yang berlangsung di Hall Hotel Prima, Sukodono, Jalan Soekarno-Hatta, Lumajang.

 

Dalam forum tersebut, Anang membawa pembicaraan ke persoalan yang lebih luas. Ia mengingatkan bahwa demokrasi yang tumbuh sejak era reformasi harus menghasilkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

 

Menurutnya, kehidupan demokrasi tidak dapat dipisahkan dari persoalan kesejahteraan. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami perubahan yang sebanding, partai politik harus hadir membaca keadaan tersebut.

 

Kondisi itu, kata Anang, menjadi tantangan bagi PKB untuk tidak kehilangan hubungan dengan masyarakat yang selama ini menjadi basis perjuangan politiknya.

 

“Kalau harga beras naik, kebutuhan pokok naik, kebutuhan primer dan sekunder juga naik, sementara pendapatan masyarakat tidak seirama, maka ini harus menjadi perhatian kita,” ujar Anang.

 

Ia kemudian mengajak kader melihat perjalanan sejarah bangsa. Reformasi, menurut dia, telah membuka ruang demokrasi yang jauh lebih luas dibandingkan masa sebelumnya. Karena itu, demokrasi harus dijaga agar tidak berhenti sebatas proses elektoral.

 

Anang juga menyinggung pengalaman sejarah sejumlah negara yang pernah mengalami kemunduran demokrasi. Menurut dia, masyarakat dan kader partai harus memiliki kesadaran politik agar demokrasi tidak mudah dibelokkan oleh kepentingan tertentu.

 

Kaderisasi Jangan Berhenti di Struktur

 

Selain berbicara mengenai demokrasi, Anang meminta PKB memperkuat kualitas kader. Ia menyebut struktur partai yang telah terbentuk di sejumlah kecamatan dan desa merupakan modal penting, tetapi struktur tersebut harus diisi oleh kader yang memiliki kapasitas.

 

Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Kecamatan Tempeh, Pasirian, Padang dan beberapa wilayah lainnya telah memiliki jaringan organisasi hingga tingkat ranting.

 

Namun, keberadaan struktur tersebut harus dibarengi dengan pembinaan sumber daya manusia.

 

“Struktur sudah ada. Tinggal bagaimana kita menyiapkan manusia-manusia yang bisa bekerja bersama dan mampu menggerakkan organisasi,” katanya.

 

Karena itu, ia mendorong kaderisasi dilakukan secara serius setelah rangkaian musyawarah di tingkat kecamatan dan ranting selesai.

 

PKB, menurut Anang, memiliki tempat yang dapat digunakan sebagai pusat kaderisasi. Fasilitas tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk mengirim kader dari berbagai kecamatan agar mendapatkan pendidikan politik dan organisasi secara lebih terarah.

 

Ia menilai kaderisasi menjadi investasi jangka panjang. Partai tidak boleh hanya mencari kader ketika tahapan pemilu sudah dimulai.

 

Menghadapi Politik 2029

 

Di bagian akhir arahannya, Anang mengajak kader melihat Pemilu 2029 sebagai pekerjaan yang harus dipersiapkan sejak jauh hari.

 

Ia menyadari perjalanan PKB tidak selalu berlangsung tanpa persoalan. Konflik internal dan dinamika politik pernah menjadi bagian dari perjalanan partai. Namun, pengalaman tersebut seharusnya menjadi pelajaran untuk membangun organisasi yang lebih solid.

 

“Yang harus kita bangun adalah silaturahmi dan kekuatan bersama. Jangan sampai kita mudah diadu dan dipisahkan,” tegasnya.

 

Anang kemudian menguji kesiapan kader untuk menghadapi pertarungan politik berikutnya. Ia menyampaikan target PKB untuk meningkatkan perolehan kursi di DPRD Jawa Timur.

 

Target yang disebutnya adalah 15 kursi pada Pemilu 2029.

 

“2029, 15 kursi sanggup?” tanya Anang kepada peserta.

 

“Sanggup!” jawab kader secara serentak.

 

Bagi Anang, target tersebut bukan sekadar angka. Perolehan kursi harus dibangun melalui kerja politik yang terorganisasi, kaderisasi yang konsisten, serta kedekatan dengan masyarakat.

 

Ia pun menutup pertemuan dengan mengingatkan kader agar tidak menjadikan pemilu sebagai satu-satunya alasan untuk turun ke masyarakat.

 

Menurut dia, kerja politik harus berlangsung setiap saat melalui pengabdian, komunikasi, dan konsolidasi.

 

Dengan cara itu, PKB diharapkan tidak hanya kuat ketika memasuki arena pemilu, tetapi juga tetap memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin