TAPTENG, 2 September 2026 —Kabarnusa24.com)Tangis pilu mewarnai penyampaian keluhan masyarakat Hutana Bolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang menjadi korban bencana banjir dan longsor. Warga mencurahkan penderitaan mereka setelah rumah, persawahan, jalan, dan sumber mata pencaharian terdampak bencana.
Siti Addi dan Efriwati Panggabean, warga Hutana Bolon, menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPRD Tapanuli Tengah yang telah mengusulkan bantuan sebesar Rp30 juta per kepala keluarga (KK) bagi masyarakat korban bencana.
Menurut warga, usulan tersebut menjadi secercah harapan di tengah kondisi mereka yang masih sulit. Mereka berharap bantuan itu tidak hanya berhenti sebagai usulan, tetapi benar-benar direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah.
Siti Addi berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah di bawah kepemimpinan Masinton Pasaribu dapat segera merealisasikan usulan tersebut agar masyarakat memiliki kesempatan untuk membangun kembali rumah mereka, meskipun hanya secara sederhana.
“Kami berharap ajuan Ketua DPRD tersebut dapat direalisasikan agar kami bisa membangun rumah kami kembali, meskipun seadanya,” ujar Siti.
Bagi warga Hutana Bolon, bencana bukan hanya persoalan air yang menggenangi permukiman. Persawahan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat juga terdampak. Bahkan, warga mengaku hasil panen yang seharusnya menjadi sumber pangan dan pendapatan keluarga ikut hanyut diterjang banjir.
“Pas panen waktu itu, tidak ada lagi yang kami dapat. Hanyut semua. Kalau bukan karena bantuan, kami tidak makan,” ungkap Siti dengan nada penuh kesedihan.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga kehilangan mata pencaharian. Mereka terpaksa mencari penghasilan dengan bekerja mengambil upah di tempat lain demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Efriwati Panggabean juga menyoroti kondisi rumah warga yang mengalami kerusakan. Menurutnya, masyarakat sudah beberapa kali didata oleh pihak-pihak terkait, termasuk rumah yang didokumentasikan dan ditinjau langsung.
Namun, warga mempertanyakan tindak lanjut dari pendataan tersebut. Mereka menegaskan bahwa masyarakat kini tidak lagi hanya membutuhkan pendataan, melainkan kepastian mengenai bantuan dan pemulihan.
“Jangan hanya didata. Kami sudah didata, rumah kami difoto dan didatangi. Tapi sampai sekarang kami masih menunggu bantuan,” ujar Efriwati.
Warga juga mengeluhkan adanya rumah yang menurut mereka mengalami kerusakan parah, tetapi dalam pendataan justru disebut masuk kategori rusak ringan. Kondisi tersebut membuat masyarakat merasa tidak mendapatkan penanganan yang sesuai dengan tingkat kerusakan yang mereka alami.
Di tengah keterbatasan ekonomi, bantuan Rp30 juta per KK dinilai sangat berarti bagi korban bencana. Warga menegaskan mereka tidak menuntut rumah mewah, melainkan hanya ingin memiliki tempat tinggal yang aman untuk kembali menjalani kehidupan.
Masyarakat Hutana Bolon berharap Pemkab Tapanuli Tengah tidak membiarkan usulan bantuan tersebut menjadi sekadar janji. Setelah kehilangan rumah, sawah, hasil panen, dan sumber penghasilan, warga berharap pemerintah menunjukkan kehadiran melalui bantuan yang benar-benar dapat mereka rasakan.
Kini masyarakat menunggu langkah konkret Pemkab Tapanuli Tengah untuk menindaklanjuti usulan bantuan Rp30 juta per KK tersebut. Bagi warga Hutana Bolon, banjir memang telah surut, tetapi penderitaan
mereka belum berakhir.
Mereka hanya meminta kesempatan untuk bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka, meskipun harus dimulai dari rumah sederhana.
(Hasanuddingulo)







