BeritaNasional

Karhutla Bromo Telan 4 Korban Jiwa, Komisi IV DPR Ingatkan Dampak Kabut Asap Sudah Diprotes Negara Tetangga

5
×

Karhutla Bromo Telan 4 Korban Jiwa, Komisi IV DPR Ingatkan Dampak Kabut Asap Sudah Diprotes Negara Tetangga

Sebarkan artikel ini
Karhutla Bromo Telan 4 Korban Jiwa, Komisi IV DPR Ingatkan Dampak Kabut Asap Sudah Diprotes Negara Tetangga
Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan.

JAKARTA,– Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan menyoroti kembali jatuhnya korban jiwa akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mulai dari empat petugas dan relawan yang meninggal dunia saat menangani kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, hingga warga di Kalimantan Timur.

Ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya empat petugas dan relawan dalam penanganan kebakaran di kawasan Bromo. Korban terdiri atas dua relawan Menggala Api dan dua petugas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Tidak ingin kerap berulang, dirinya mendesak pemerintah untuk memperkuat pencegahan karhutla dan memastikan keselamatan petugas serta masyarakat menjadi prioritas.

“Kita kembali berduka atas hilangnya nyawa para petugas dan relawan akibat kebakaran hutan dan lahan, termasuk yang baru terjadi beberapa hari lalu di kawasan Bromo. Kami turut merasakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan,” kata Daniel disampaikan di Parlemen Jakarta, pada Rabu (21/10/2026).

Kebakaran bermula dari ladang milik warga di sekitar Blok Pusung Dawa, yang berbatasan dengan kawasan TNBTS, tepatnya di Desa Ngadirejo, Kabupaten Probolinggo. Petugas, relawan, perangkat desa, dan warga kemudian berupaya memadamkan api. Namun, medan yang sulit dijangkau dan jauhnya sumber air membuat pemadaman dilakukan secara manual menggunakan alat gebyok.

Angin kencang menyebabkan api bergerak dan menjebak sejumlah personel di tengah kobaran. Setelah api mereda, tim menemukan tiga orang meninggal dunia di lokasi kejadian, sedangkan satu korban lainnya meninggal setelah mendapat perawatan di rumah sakit. Dua relawan lainnya mengalami luka bakar serius.

“Peristiwa ini memerlukan pemeriksaan yang cermat untuk mengungkap keadaan saat tim terjebak serta menentukan penguatan keselamatan operasi yang perlu segera dilakukan,” jelasnya.

Ia mendorong Kementerian Kehutanan bersama pengelola kawasan mengevaluasi penugasan di sektor berisiko tinggi, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi medan, perubahan arah api dan angin, kepadatan asap, jalur penyelamatan, serta kemampuan komunikasi antartim.

“Setiap keputusan mengirim tim ke lokasi harus disertai kepastian mengenai risiko, jalur keluar, dan dukungan pertolongan. Ketika keadaan berubah, pimpinan operasi perlu memiliki informasi serta kewenangan untuk segera menyesuaikan penugasan,” sambung Daniel.

Dirinya juga meminta pengelola kawasan memastikan petugas, relawan, dan masyarakat yang terlibat memiliki pembagian tugas sesuai kemampuan dan pelatihan masing-masing. Keselamatan, menurutnya, harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap tahap pemadaman.

Selain di Bromo, karhutla juga menelan korban jiwa di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang warga berinisial LJ, berusia 60 tahun, meninggal dunia setelah mengalami luka bakar sekitar 60 persen saat berupaya memadamkan api bersama warga lainnya pada Selasa (13/10) lalu. Korban sempat dirawat di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda sebelum meninggal keesokan harinya akibat luka bakar serius dan paparan panas.

Menurut Daniel, peristiwa tersebut menunjukkan risiko yang dihadapi masyarakat ketika berusaha melindungi lingkungan tempat tinggalnya tanpa didukung kemampuan dan perlengkapan yang memadai.

“Di balik peristiwa tersebut, ada gambaran tentang warga yang berusaha melindungi lingkungan tempat tinggalnya, tetapi harus menghadapi bahaya kebakaran dengan kemampuan yang terbatas,” sebutnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memasuki area kebakaran berbahaya tanpa pelatihan dan perlindungan yang sesuai. Ketika api membesar atau bergerak tidak terkendali, warga harus memprioritaskan keselamatan diri, menjauhi jalur rambatan api, dan segera menghubungi petugas.

Daniel juga menyoroti meninggalnya seorang balita berusia satu tahun di Kecamatan Palaran, Samarinda, setelah mengalami sesak napas pada Kamis (15/10). Keluarga menduga paparan asap karhutla turut memicu gangguan pernapasan yang dialami korban. Namun, penyebab pasti kematian tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Hampir setiap hari kita mendengar kabar buruk mengenai Karhutla. Berapa banyak lagi nyawa warga harus dipertaruhkan karena hutan dan lahan dibakar demi kepentingan ekonomi sejumlah pihak?” ungkapnya.

Ia menilai kondisi karhutla dan dampaknya terhadap kualitas udara perlu ditangani secara serius. Menurutnya, hasil pemantauan kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dapat menjadi dasar untuk menilai tingkat pencemaran dan menentukan langkah perlindungan masyarakat.

“Palangka Raya dan sejumlah daerah di Kalimantan punya kualitas udara tidak sehat dan berbahaya akibat Karhutla berdasarkan hasil nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Ini science dan ada ukuran berdasarkan sistem pemantauan,” terangnya.

Daniel meminta pemerintah meningkatkan upaya pengendalian karhutla agar dampaknya tidak semakin meluas, termasuk terhadap masyarakat di negara tetangga yang turut terdampak kabut asap.

“Saat ini yang teriak teriak bukan hanya warga Indonesia, bahkan masyarakat dan otoritas negara tetangga yang ikut terkena imbas Karhutla juga sudah meminta pertanggungjawaban Pemerintah Indonesia,” ungkap Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I itu.

Di samping penanganan karhutla, dirinya juga mengingatkan pemerintah agar mengantisipasi ancaman kekeringan dan hujan ekstrem yang berpotensi terjadi bersamaan di berbagai wilayah Indonesia. Ia menyinggung peringatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai potensi perbedaan kondisi cuaca antardaerah dalam beberapa bulan mendatang.

“Pemerintah juga harus mengantisipasi bencana kekeringan, longsor, banjir bandang seperti yang sudah terjadi di Sumatera karena El Nino Godzilla dan dua wajah cuaca, kekeringan dan hujan ektrem, apalagi penyanggah hutan sudah habis terbakar, DAS juga banyak rusak,” tutup Politisi Fraksi PKB itu.

(Red)

Penulis