Oleh : Sutriachol Haris, L.C.
Kabarnusa24.com,– Ketika bicara soal tentang Ka’bah maka disanalah yang terjadi adalah kiblat nya bagi kaum muslimin. Ka’bah tak bisa dilepas dengan arah ibadah sholat dimana umat muslimin mengarahkan wajah sebagai langkah bagian titik arah yang utama untuk menghadap sang Khalik baik ketika dimulai Akil Baligh wajibnya sholat hingga di sholatkan bahkan sampai ke liang kubur menghadap arah Ka’bah.
Saat dengar kata barokah maka sesungguhnya awal rumah Allah yang di dirikan di Makkah adalah didalam yang menyeliputi kata barokah itu sendiri sejalan adanya Ka’bah yang di bangun di era Nabi Ibrahim.
Begitu pula Ka’bah sekaligus petunjuk bagi alam semesta bagaimana tidak ketika sholat saja mengarah kiblat atau arah Ka’bah itu sendiri sudah bukti merupakan mendapat petunjuk ditambah ketika sedang sholat terjadi berapa kali disebut kata petunjuk atau bimbingan Rabb, Ihdina sirothol mustaqim. Sejatinya hidup ini adalah selalu memohon petunjuk dari Allah hingga mulai sejak bangun tidur hingga tidur lagi.
Ka’bah sebagai empiris sosial budaya sekaligus peradaban klasik yang sejatinya di era umat Muhammad ini bukan saja sebagai fakta dan pengalaman dengan wujud Umrah dan Haji ditambah dengan wajibnya selfi di Ka’bah ini dapat memudarkan keberkahan dan bimbingan jiwa, mesti kembali tajdidun niyah atau menguat luruskan niat sambil mereformasi ambisi buruk dalam jiwa.
Hal ini pula yang harusnya menjadi tekanan bagi Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah lewat bimsik nya Bimbingan Manasik Haji nya sehingga perhajian terselenggaranya Ibadah Haji tahun yang akan berjalan bukan saja bakal membangun Kampung Haji bagi jamaah Indonesia di Makkah namun juga pemerintah dapat menyeimbangkan antara mendahulukan pembangunan SDM terkait Haji Umrah sebelum membangun sebuah gedung atau lewat Kampung Haji disana, Dan dengan istilah membangun manusia sebelum membangun kampungnya atau gedungnya.
Ketika Ka’bah menjadi perantara cerita yang tak ada ujung habisnya lewat Umrah dan Haji dan kunjungan lainnya sesungguhnya tak akan menjadi berkah sekaligus hadirnya bimbingan bagi jiwa dimana ketika jiwa itu tak lurus sebanding dengan niat lurus tulus dan baik. Karena letak mula pembangunan Ka’bah jadi isyarat mutlak bersamaan seiring sejalan akan datangnya keberkahan dan petunjuk janji harapan ketenangan bagi rahmat jiwa semesta atau malah justru sebaliknya ketika niat ibadah itu berbarengan poto selfi dan dengan niat tak lurus ini menjadi awal mula tersesatnya akan jiwa ‘Gairil magdu bialaihim waladholin.
Dalam terminologi sudut pandang agama dan tuntunan Nabi Ibrahim tentang arti agama Allah yang lurus maka umat Nabi Muhammad sebagai umat akhir zaman kudunya ketika mendatangi Ka’bah tak melulu harus poto selfi di Ka’bah.
Syiar umum atau alaniyah nya cukup Nabi Ibrahim sebagai jiwa potongan wakil sebagaimana perintah Allah terhadapnya dahulu sedangkan kita umat Muhammad baiknya Siron atau sembunyi tanpa harus poto selfi hingga dapat dikhawatirkan bisa memudarkan bahkan menjauhkan akan bimbingan dan petunjuk Allah S.W.T yang mestinya datang masuk merasuki menghampiri kedalam jiwa ini malah tidak tiba dan tidak kunjung datang.
Pembangunan niat Pemerintah RI bangun Kamlung Haji di Makkah baiknya dapat mempelajari seksama lebih dalam dan matang belajar sejak peradaban kubu pembangunan Ka’bah era Nabi Ibrahim hingga Fathu Makkah Nabi Muhammad sejalan kekinian tanpa henti derasnya ummatnya jamaah Indonesia untuk berhaji dan berumrah riah. Hubungan diplomasi RI dan Arab Saudi cukup baik sehingga dampaknya bagi Pemerintah RI bukan saja membangun meneruskan laksana seolah seakan hadirnya Makom Ibrahim sebagai fakta spiritual namun juga dapat membawa dampak luas bagi Moral dan wibawa Bangsa atas nama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kampung Haji di Makkah bisa terus berkesinambungan dalam pembangunan dan sekaligus pemeliharaan Kampung Haji di Makkah tersebut dalam kerangka eksistensi APBN memadai dan baik lagi semangat kebangsaan yang berkelanjutan dari sudut luar dalam kelak pemeliharaannya.
Sesuatu Hal yang berat bukan saja sebatas dapat mewunjdkan Kampung Haji itu sendiri akan tetapi juga dapat selalu memelihara akan bisa terpelihara nya Kampung Haji di Makkah nantinya terus dapat terawat, terjaga, terlindungi, dan bukan jelmaan wadah atau Kampung ke ilegalan bagi Jamaah, Konsen nya harus terpelihara perawatannya menjadi lebih baik itu jauh lebih utama bukan sebatas membangun, di awali : “Membangun Manusia sebelum mambangun Gedung atau Kampung”.
(Red)