DaerahReligi

Malam Seribu Lilin di TPU Kedokan Bunder, Tradisi Unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten Memasuki Usia 547 Tahun

4
×

Malam Seribu Lilin di TPU Kedokan Bunder, Tradisi Unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten Memasuki Usia 547 Tahun

Sebarkan artikel ini
Malam Seribu Lilin di TPU Kedokan Bunder, Tradisi Unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten Memasuki Usia 547 Tahun

 

Indramayu, kabarnusa24.com Pemandangan penuh cahaya menyelimuti Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kedokan Bunder, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, saat tradisi adat unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten digelar. Ratusan warga datang membawa lilin dan menyalakannya di makam keluarga masing-masing hingga menciptakan suasana malam yang khidmat.

Tradisi yang dikenal masyarakat sebagai Malam Seribu Lilin itu menjadi salah satu rangkaian utama dalam puncak acara unjungan untuk menghormati Buyut Nyimas Ratu Kawunganten, sosok leluhur yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.

Kepala Desa Kedokan Bunder, Waskim, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu dan terus dipertahankan hingga sekarang.

“Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat dari generasi ke generasi,” demikian inti keterangan mengenai pelestarian tradisi tersebut.

Selain Malam Seribu Lilin, rangkaian unjungan juga diisi dengan kegiatan sedekah bumi, arak-arakan, serta tradisi menguras Sumur Gede yang diyakini sebagai salah satu peninggalan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten.

Bagi masyarakat, menyalakan lilin bukan sekadar menerangi area pemakaman. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ziarah, memanjatkan doa, mengenang anggota keluarga yang telah meninggal dunia, sekaligus menjaga hubungan dengan sejarah dan tradisi desa.

Pada 2026, tradisi unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten disebut telah memasuki usia ke-547 tahun. Angka tersebut menjadi penanda panjangnya perjalanan tradisi yang hingga kini masih mendapat tempat di tengah kehidupan masyarakat Kedokan Bunder.

Di tengah perkembangan zaman, Malam Seribu Lilin menjadi gambaran bagaimana warisan budaya tetap hidup melalui keterlibatan masyarakat. Nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta kecintaan terhadap sejarah lokal menjadi bagian penting yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pelestarian tradisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya daerah bukan hanya tersimpan dalam cerita masa lalu, tetapi juga hidup melalui praktik adat yang terus dijalankan masyarakat.

Penulis