SUMENEP, Kabarnusa24.Com – Kecintaan terhadap guru dan pesantren tercinta kembali terlihat dari perjuangan ribuan alumni dan wali santri yang menyeberang dari Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, menuju Pelabuhan Jangkar, Situbondo, menggunakan kapal KMP Dharma Ferry 1, demi menghadiri acara Haul Majemuk Masyaikh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Besarnya antusiasme para alumni dan wali santri membuat perjalanan laut tersebut diwarnai suasana padat. Bahkan, sejumlah penumpang dilaporkan rela beristirahat hingga tidur di area parkir kendaraan demi bisa melanjutkan perjalanan menuju pesantren yang mereka cintai.
Bagi mereka, perjalanan menuju Sukorejo bukan sekadar perjalanan biasa. Ada kerinduan kepada para masyaikh, penghormatan kepada guru, serta ikatan batin dengan pesantren yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup mereka.
Salah seorang alumni yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa dirinya rela tidur di area parkir mobil KMP Dharma Ferry 1 dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya demi menghadiri Haul Majemuk Masyaikh di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
“Demi haul ini, saya rela tidur di tempat parkir mobil di kapal Dharma Ferry 1. Meski harus berdesak-desakan, saya tetap ingin hadir di pondok tercinta, Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Bagi saya, ini semua demi kecintaan kepada guru,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan ungkapan dalam bahasa Madura yang menggambarkan ketulusan pengabdian seorang murid kepada gurunya.
“Sakèng la karna èsto ka ghuru.”
Ungkapan tersebut mencerminkan besarnya rasa cinta, ketulusan, dan penghormatan kepada guru yang telah memberikan ilmu serta membimbing para santri dalam menapaki kehidupan.
Perjalanan Penuh Perjuangan, Berangkat dengan Kerinduan
Bagi para alumni dan wali santri, keterbatasan tempat untuk beristirahat bukanlah alasan untuk mengurungkan niat.
Mereka rela menempuh perjalanan laut dengan kondisi yang tidak selalu nyaman demi dapat berkumpul bersama keluarga besar pesantren dalam momentum Haul Majemuk Masyaikh.
Perjuangan tersebut menjadi gambaran kuatnya ikatan batin antara santri, alumni, wali santri, dan para masyaikh.
Hubungan yang terbangun selama menimba ilmu di pesantren tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan bangku pendidikan, tetapi terus tumbuh menjadi kecintaan dan penghormatan sepanjang hayat.
Haul Majemuk Masyaikh bukan hanya menjadi momentum mengenang jasa dan perjuangan para ulama, tetapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi serta memperbarui komitmen untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan perjuangan pesantren.
Di balik padatnya perjalanan dan sempitnya ruang untuk beristirahat, tersimpan sebuah pesan mendalam: bahwa cinta kepada guru tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesediaan berkorban dan menempuh perjalanan demi menghormati mereka.
Hingga perjalanan di KMP Dhara Ferry 1 sampai malam hari belum sandar di pelabyhan Jangkar Situbondo
Sebab bagi seorang santri, guru bukan sekadar orang yang mengajarkan ilmu. Guru adalah sosok yang membimbing hati, menuntun langkah, dan meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus dikenang sepanjang hayat.