JAKARTA, KABARNUSA24.COM – Film Buya Hamka bukan sekadar film biografi. Film ini adalah kisah nyata tentang seorang ulama besar, penulis legendaris, dan pejuang kemerdekaan yang hidupnya penuh ujian, fitnah, hingga penjara.
Buya Hamka memiliki nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908. Ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, adalah ulama ternama di Minangkabau.
Sejak kecil, Hamka sudah dikenal cerdas, kritis, dan keras kepala. Ia sering berbeda pendapat dengan ayahnya. Perbedaan itu bukan karena tidak hormat, tapi karena Hamka ingin memahami agama dengan akal dan hatinya sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan.
Masa Muda dan Perantauan
Di masa mudanya, Hamka merantau ke berbagai daerah. Ia belajar, berdakwah, dan mulai menulis. Dari sinilah bakat menulisnya meledak.
Ia menulis novel-novel yang sampai hari ini masih dibaca jutaan orang, seperti _Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck_, _Di Bawah Lindungan Ka’bah_, _Merantau ke Deli_, dan _Tuan Direktur_.
Melalui tulisannya, Hamka mengajarkan tentang cinta yang suci, iman yang kuat, dan perjuangan mempertahankan harga diri. Tulisannya sederhana, tapi menyentuh hati.
Cinta dan Kesetiaan Siti Raham
Di balik keteguhan Buya Hamka, ada sosok perempuan luar biasa, Siti Raham, istrinya.
Siti Raham setia mendampingi Hamka dari masa miskin, masa berjuang, sampai masa ketika Hamka dipenjara. Ia tidak pernah mengeluh. Ia menjadi tempat Hamka pulang, tempat ia menangis, dan tempat ia menguatkan diri.
Kisah cinta mereka dalam film ini digambarkan begitu tulus, tidak lebay, tapi sangat dalam. Cinta karena Allah, bukan karena harta.
Difitnah Hingga Dipenjara
Ujian terbesar dalam hidup Buya Hamka datang di era Orde Lama. Ia difitnah terlibat dalam gerakan yang menentang pemerintah. Tanpa pengadilan yang adil, ia dijebloskan ke penjara.
Banyak orang mungkin akan menyerah jika berada di posisinya. Dihina, dikucilkan, ditinggalkan. Tapi tidak dengan Buya Hamka.
Di dalam penjara yang sempit dan sepi itulah, justru lahir karya terbesarnya. Dengan tangan, tanpa komputer, tanpa bantuan, ia menulis _Tafsir Al-Azhar_, tafsir Al-Qur’an yang sampai hari ini menjadi rujukan umat Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.
Inilah bukti bahwa penjara tidak bisa memenjarakan pikiran dan iman seseorang.
Pesan Moral Film Buya Hamka
Film Buya Hamka mengajarkan tiga hal penting:
Pertama, jangan takut berbeda pendapat selama kita berpegang pada kebenaran.
Kedua, fitnah dan penjara bukanlah akhir. Jika kita sabar, Allah akan ganti dengan kemuliaan yang lebih besar.
Ketiga, ilmu dan iman harus berjalan bersama. Orang berilmu tanpa iman akan sombong, orang beriman tanpa ilmu akan mudah dibohongi.

Kenapa Wajib Nonton?
Film ini wajib ditonton oleh anak muda, orang tua, guru, santri, dan siapa saja yang sedang merasa hidupnya berat.
Karena Buya Hamka mengajarkan, jika hidupmu terasa gelap, jangan menyerah. Menulislah, belajarlah, dan teruslah berbuat baik. Karena dari kegelapan penjara pun, bisa lahir cahaya yang menerangi jutaan orang.
Buya Hamka wafat pada 24 Juli 1981. Namun karyanya, pikirannya, dan keteladanannya masih hidup hingga hari ini.(***)
