Opini

Pendidikan Pesantren Jadi Sejarah Spektakuler Presiden Wajib Perhatikan Serius

2
×

Pendidikan Pesantren Jadi Sejarah Spektakuler Presiden Wajib Perhatikan Serius

Sebarkan artikel ini
Pendidikan Pesantren Jadi Sejarah Spektakuler Presiden Wajib Perhatikan Serius

Oleh : H Sutriachol Haris, LC

Kabarnusa24.com,- Ketika berbicara Pesantren ketika itu pula pendidikan paling tua hadir dengan sosok para sunan dan ulama – ulama nya yang sangat sederhana namun penuh berwibawa kharismatik, bagaimana tidak para penjajah belanda yang sangat merasa terancam, Pendidikan Pesantren berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan. Dan ketika cakap bukti peradaban NKRI tentang Sunan, Kiyai, Gus, Habaib di sana tak terlepas dengan namanya “Pesantren”.

Tokoh pendiri pesantren pulau Jawa seperti halnya di Kota Surabaya yang dikenal dengan Kota Pahlawan. Maka tak heran ketika Sunan Gresik dan juga Sunan Ampel yang dikenal Raden Rahmat itu hidup dan matinya untuk menyampaikan syiar dakwah islam dalam wujud Pesantren terkhusus di pulau Jawa paling timur kisaran abad 14 – 15 Masehi.

Di Kota Surabaya Jawa Timur ketika tahun 1964 M. Disana terjadi peristiwa besar dimana Pondok Pesantren se- Indonesia berperan aktif mengisi Perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran sebagaimana yang digagas hal ini oleh salah satu ormas sayap NU yakni Jam’iyatul Qurra Walhufadz di Surabaya Jawa Timur.

Masih di tahun 1964 M perlombaan seni membaca Alquran itu atau yang sekarang dikenal dengan sebutan nama MTQ yang di isi acara haflahnya oleh santri – santri seluruh pesantren se- Indonesia, dan yang lahir muncul ketika itu pembaca terbaik 1 nya adalah seorang santri asal kelahiran Brebes tahun 3 November 1935 bernama Abdul Azies Muslim. [Dikutip dari CV Abdul Azies Muslim muat di jurnal Men & Women of The Year 1994].

Ketika datanglah tiba satu tahun berikutnya yakni tahun 1965 M. Terjadi susulan peristiwa besar yang tak kalah hebohnya tergoreskan lewat tinta sejarah di Tanah Air bagaimana tidak karena peristiwa besar itu di gagas oleh sang Proklamator Bapak Presiden RI, Ir. Soekarno. Setelah seksama melihat mendengar mencermati atas peristiwa MTQ swasta di Surabaya tahun 1964 M. maka Presiden Soekarno terbesit sat – set langsung menggelar haflah MTQ tak tanggung – tanggung Nasional dan Internasional pada ajang Konferensi Islam Asia Afrika Bandung tahun 1965 M.

Apa yang terjadi kala itu munculah dan lahirlah pembaca terbaik 1 yakni Abdul Azies Muslim dan ketika itu pula Bapak Presiden RI, Bapak Ir. Soekarno memberikan Piagam Penghargaan kepada peserta Pembaca terbaik 1 diraih oleh Abdul Azies Muslim.

Di tahun 1965 M, kala itu Abdul Azies Muslim menerima sebagai utusan Presiden Missi Qurra dan keagamaan di zamannya yakni yang membersamai langsung sebagai pendamping nya adalah Sekjen Jam’iyatul Qurra Walhufdz yaitu KH. Bashori Alwi – Malang Jawa Timur, mereka di utus sekaligus mendapatkan undangan dari Dunia luas, bahasa waktu itu keliling guna mendemontrasikan Tilawatil Quran ke peloksok Antero Dunia seperti Malysia, Pakistan, Kuwait, Aljazair, Libanon, Irak, Iran, Mesir, Suriah. Dst, Abdul Azies Muslim selaku Perintis MTQ Indonesia pertama [dikutip Web NU Online. Jumat, 14/10/2022] sekaligus sebagai Missi Qurra Indonesia untuk Dunia. Bahkan Abdul Azies Muslim sempat dua kali ke Malaysia dan singapura di tahun 1966 M, selaku Ketua Missi Qurra.

Sungguh ada hal yang menarik di sini, apa yang terjadi. Ketika tahun 1967 M. Di sinilah Presiden Soekarno melalui Menteri Agama RI yakni M Dahlan mengkolaborasi perlombaan MTQ peristiwa antar Pesantren se- Indonesia tersebut di Surabaya yang lalu di gagas Jam’iyatul Qura wal Hufadz tahun 1964 M. di kolaborasi dipayungi wadahnya pada tahun 1967 M. oleh Menag saat itu M Dahlan menjadi LPTQ. Disinilah tepat nya bahwa pertama kali MTQ tingkat Nasional atau yang sekarang disebut MTQN. MTQ-Nasional yang pertama diselenggarakan pada Tahun 1967 M di Kota Makasar. Alhasil muncul pembaca haflah MTQN pertama untuk Indonesia di tahun tersebut diraih oleh seorang Qori asal dari Bandung Jawa Barat yang bernama Ahmad Syahid, dan terus terang ketika itu Abdul Azies Muslim telah berdiri menjadi Dewan Hakim MTQN pertama di Makasar Sulawesi Selatan. Atas salah satu karya dan spektakuker beliau Abdul Aziez Muslim. Maka pula tak heran penulis mendukung penuh menambahkan bahwa Makasar adalah kota Peradaban. ketika Menag Prof KH. Nasarudin Umar mengatakan bahwa Makasar adalah salah satu Pusat Pengembangan Ilmu. Dikutip Ahad (14/9/25) rri.co.id
Bravo sidi Menag.

Masih tentang kiprah Pendidikan Pesantren, Pesantren seperti Salafiyah Syafiiyah di Sukorejo Asem Bagus Situbondo yang telah seratusan tahun berkiprah berdiri di masa kolonial Belanda ayah dari KH. R As’ad Syamsul Arifin itu sang pendirinya bernama KH. R Syamsul Arifin yang lain dan tak bukan masih ada garis keturunan dengan Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Di Pesantren tersebut pengasuhnya telah mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia yakni KH. R As’ad Syamsul Arifin dimana beliau selain dari buah karyanya dan pengabdiannya di dedikasikan penuh bagi bangsa dan negara. bagaimana tidak selain beliau sebagai Mediator Pendirian organisasi NU juga KH. R As’ad berdiri menjadi tuan rumah perhelatan munas alim ulama NU menghimpun para Kiyai berpengaruh dan menghasilkan keputusan penting bahwa NU harus kembali ke Khittah 26. Kala KH. Afifudin Muhajir (selaku Wakil Rais Aam PBNU hingga sekarang dan sebagai tangan kanan dari KH. R As’ad Syamsul Arifin) beliau menyatakan bahwa KH. Abdul Aziz Muslim pernah datang di undang KH. R As’ad ke Pesantren nya di Situbondo Melantunkan membaca Alquran dengan suara khas nya. Kata Kiyai Afifudin Muhajir hanya beliau lupa tahun berapa nya saat itu.

Sabtu (13/9/25) Kemenag.go.id Apresiasi yang tinggi kepada Romo Syafii Wamenag RI mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto serius mendukung beri perhatian pada Pendidikan Pesantren. Semoga Tuhan membersamai, absolut sukses.

Tanggerang, 16 September 2025.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin