Oleh : Sutriachol Haris, Lc
Kabarnusa24.com,- Budaya ketika orang tua dulu bagi setiap anak – anak nya di mana saat datang sore hari anak – anak mereka sudah harus mandi untuk siap mengaji pada tempat – tempat pengajian yang ada.
Tradisi hal ini mulai dari Timur Jawa, Betawi, Jabar, Banten, Makasar, NTB dst.
Budaya atau tradsi mengaji jadi kebanggaan para orang tua terdahulu, bahkan dari mereka sebagian yang mampu secara finansial tak sedikit dari masyarakat tersebut dari soal ngaji atau nyantri dapat melanjutkan hingga ke jenjang kuliah di Universitas.
Kuliah untuk paham ilmu agama atau ngaji, maka tak hirau sebagian orang tua dahulu dalam persoalan dunia lain untuk para anak – anak nya yang penting bisa ‘ngaji’ dulu saja. Itu bekal utamanya.
Ngaji adalah belajar membaca Al quran hingga fasih dan dengan demikian dapat juga memahami sekalian maknanya. Betapa mulianya para orang tua dahulu mereka mengutamakan bahwa agama adalah No 1.
Presiden Soekarno pada tahun 1964 lewat Konferensi Tingkat Tinggi (KIAA) Konferensi Islam Asia Afrika menjadi goresan spektakuler bukti sejarah NKRI dalam konferensi tersebut bahwa santri telah menjadi dasar dan basis pemikiran Presiden Soekarno.
Santri menjadi garda terdepan tampil lewat ajang membaca Alquran bertarap dunia ketika KIAA di Bandung dan di tambah ada Demonstrasi Misi Qura Indonesia untuk Dunia di tahun 1965 -1966.
Spirit Bandung 1965 yang berawal dari spirit baca Al quran antar santri tahun 1964 di Surabaya. Maka semestinya budaya nyantri dapat terus di pertahankan, di tingkatkan menjadi perhatian serius Pemerintah bahkan sejatinya menjadi percontohan spirit Bandung jadi study banding bagi negara lain nya di Dunia.
Pergerakan santri yang dapat mengakses lebih tinggi pada level di panggung global. Dengan demikian maka peran serta Pemerintah melalui Kemenag RI dan K/L gabungan terkait dapat merumuskan nilai reward bagi mereka yang berprestasi hingga publikasi seperti hal misalnya santri mendunia hebatnya sama Piala Bola Dunia.
Presiden Prabowo Subianto yang tak ingin bangsa ini ketertinggalan dan sudah memikirkan mulai dari Boarding Sekolah Rakyat, Sekolah Boarding lainnya maka kedepan bila perlu semua Sekolah wajib Boarding dalam tanggungan pembiayaan penuh dari APBN sejalan akan lahirnya (Ditjen baru) Direktorat Jenderal Pesantren dan Diniah
Program MBG Presiden RI dengan demikian lebih dapat terealisasi hingga dalam pengawasan merata dengan adat kearifan lokal, tepat dan keren. SDM sejalan hal itu terus dapat ditingkatkan dengan berdaya saing mental dan berbudaya Global.
Berangkat di mulai ketika bicara santri maka sesungguhnya kemerdekaan NKRI tahun 1945 jauh lebih muda usianya ketimbang sejarah hadirnya santri.
KHR. Syamsul Arifin salah seorang ulama misalnya yang telah mendidik santri saat bangun pondok pesantrennya Salafiyah Syafiiyah di Sukorejo Jawa Timur pada tahun 1908.
Selamat Menjelang Hari Santri Nasional.
(Red)







