Oleh : H. Sutriachol Haris
Kabarnusa24.com,– Ketika kata bangsa, damai dan bahagia kala itu pula maka kebahagian akan didapat sejalan dengan ilmu dan sainsteksnya.
Akhir – akhir ini banyak dan seribuan lebih kalangan para pemikir besar sekaligus profesor yang hadir di Intana Negara, tak lain para profesor bagian jalani ketaatan dalam beragama. Taat kepada Tuhan, Rasul dan pemerintah adalah titah Ilahi.
Damainya sebuah bangsa dalam konsep dan konteks kebahagiaan ketika salah satunya swasembada pangan itu mudah didapat lagi terjangkau harganya.
Bagaimana tidak ketika manusia hidup dengan kekayaan anggota tubuhnya yang tuhan cipta maka esensial yang sering kali membuat murka dan durjana yakni ketika anggota tubuh bagian perut dan dibawah perut itu tak lagi menjadi suatu jaminan bagi suatu bangsa.
MBG hadir misalnya dalam program mulia Bapak Presiden RI Prabowo Subianto, sungguh gerakan dan titah implementasi bagi ayat tuhan.
“Apakah mereka manusia sekiranya dapat terus memperhatikan terhadap makan – makanan mereka”
Artinya adalah bahwa bukan soal halal haram saja namun hamparan keseimbangan gizi dan nutrisi bagi hak anak bangsa merupakan wajib hukumnya.
Dalam kontribusi nyata ayat tuhan berikutnya yakni.,
“Makan dan minumlah kalian manusia dan ojo berlebihan. “Do not be excessive ”
Disinilah pemerintah sudah tepat berkewajiban penuh atas hadirnya para Ahli Gizi guna dalam menakar kesimbangan empat sehat lima sempurna pada hamparan Maidah Arrahman dimuka bumi hamparan pagelaran MBG Indonesia.
Jikala urusan perut dan apa yang ada pada bawah perut bangsa saja amat telah peduli dan hadir dalam menjelma suatu program maka sungguhlah mulia atas pemimpinnya. damai bangsanya dan kebahagiaan masyarkatnya sekarang dan dimasa – masa depannya mendatang.
Manakala soal anggaran ada sebagian konon untuk riset seakan berkurang dengan dalih karena urusan soal MBG, menurut sebahagian orang. maka jangan lupa sangat ada baiknya bahkan tepat dan sudah waktunya Indonesia menjamu Maidatarurrahman hamparan MBG sepanjang masa.
Lihat saja sasaran diantara penerima manfaat MBG, B3 misalnya (Ibu menyusui, Balita dan Bumil) selain anak – anak sekolah. Mulia sudah hal itu, sehingga generasi kedepan tak lagi mungkin seperti sebagian orang yang umumnya mampu berpikir bahkan geliat mengkeritik tajam namun mengutip tanpa dibarengi totalitasnya apalagi solusinya.
Wahai Indonesiaku sungguh damailah engkau ketika asa rakyatmu terurus lurus diurus soal urusan gizi perutnya menjelma MBG.
Hakikat manusia ketika persoalan muda ia berpikir apa akan rasanya yang ada pada bawah perut, manakala sudah tumbuh dewasa dan ia tahu niscaya rasanya apa yang ada pada bawah perut, lalu ia pun kembali pada urusan pergi pagi pulang pun petang hanya soal demi untuk perut.
Sungguh MBG ini amat mulia dan banyak jutaan orang sudah bekerja di SPPG.
Otokritik adalah keniscayaan dalam sejarah peradaban dari zaman ke zaman sehingga melahirkan takaran dimana proses membangun budaya “Aljab ala hasab Assual”
Artinya adalah wajib akan menjawab ketika dipandang esensial atas kadar problemnya saja. Kontrol sosial adalah bukan ghibah bilamana tepat dan tidak berlebihan.
Kritik kebaikan yang datang dari anak banga untuk kebaikan bangsanya niscaya kebaikan dibalas dengan kebaikan itu adalah standar.
Namun bentuk kritik tak membangun atau buruk bila dibalas dengan kebaikan artinya perilaku buruk bila dibalas dengan kebaikan itu adalah ideal.
(Red)







