Daerah

Pekerja Asal Jatibarang Indramayu Terlantar di Maluku Utara, Mengadu Tak Digaji dan Minta Dipulangkan

61
×

Pekerja Asal Jatibarang Indramayu Terlantar di Maluku Utara, Mengadu Tak Digaji dan Minta Dipulangkan

Sebarkan artikel ini
Pekerja Asal Jatibarang Indramayu Terlantar di Maluku Utara, Mengadu Tak Digaji dan Minta Dipulangkan

 

Indramayu, Kabarnusa24.com

Belum tuntas persoalan delapan pekerja asal Indramayu yang terlantar di Papua, kini kembali muncul kasus serupa. Seorang pekerja proyek bangunan asal Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, dilaporkan terlantar di wilayah Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.

Pekerja tersebut diketahui bernama Robana (47), warga Desa Jatibarang, Blok Rengas RT 029 RW 04. Dalam rekaman video yang diterima Ketua Gerakan Rakyat Indramayu (GRI), Muhamad Solihin, pada Rabu (8/4/2026), Robana mengaku telah bekerja selama kurang lebih enam bulan di daerah Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah.

Ia menyebut mulai bekerja sejak Oktober 2025 di sebuah perusahaan kontraktor asal China, PT YG. Namun, upah yang dijanjikan sebesar Rp150 ribu per hari tidak sesuai realisasi. Ia hanya menerima hitungan sebesar Rp140 ribu per hari, itu pun tidak dibayarkan secara nyata.

Pada awal bekerja, Robana mengaku tidak menerima gaji karena adanya pemotongan untuk alat pelindung diri (APD) serta perlengkapan istirahat seperti kasur dan bantal. Selain itu, perusahaan juga disebut tidak memberikan toleransi saat dirinya sakit.

Dalam kurun Oktober hingga Desember 2025, Robana mencatat sebanyak 21 hari kerja termasuk lembur yang tidak dibayarkan. Merasa dirugikan, ia akhirnya mengajukan pengunduran diri pada akhir Desember 2025.

“Karena tidak dibayar, saya resign. Lalu pada Januari saya sempat bekerja di PT Fujian di Morowali,” ujar Robana dalam video tersebut.

Robana mengungkapkan, dirinya awalnya berangkat ke Maluku Utara bersama lima rekannya dari Indramayu. Namun, karena kondisi kerja yang dinilai tidak layak, kelima rekannya telah lebih dulu pulang dengan biaya kiriman keluarga.

Kini, Robana mengaku tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman. Ia bahkan harus menumpang tinggal di bedeng milik temannya asal Garut dan bergantung pada bantuan untuk makan sehari-hari.

“Saya mohon bantuan agar bisa pulang ke Jatibarang. Saya tidak punya ongkos, tidak ada pekerjaan, dan saat ini hanya menumpang,” ucapnya lirih.

Menanggapi hal tersebut, Ketua GRI Muhamad Solihin menyatakan akan berupaya membantu kepulangan Robana. Pihaknya akan terlebih dahulu berkoordinasi dengan keluarga yang bersangkutan serta berkomunikasi dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Indramayu.

“Kami akan koordinasi dengan keluarga dan melaporkan ke dinas terkait agar ada penanganan lebih lanjut,” ujar Solihin.

Ia juga menegaskan bahwa kasus pekerja terlantar seperti ini harus menjadi perhatian serius semua pihak. Pengawasan dalam proses penempatan tenaga kerja perlu diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.

“Ini menyangkut nasib dan keselamatan pekerja. Semua pihak, baik pemerintah, legislatif, maupun lembaga perlindungan tenaga kerja, harus hadir dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin