JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Kementerian Perindustrian fokus untuk memacu daya saing industri kecil dan menengah (IKM) melalui peningkatan kemampuan inovasi dan diversifikasi produk.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mendampingi pelaku IKM permesinan dalam mengembangkan teknologi tepat guna yang mampu mendukung industri pengolahan pangan berbasis potensi lokal, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas daerah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Pendampingan Diversifikasi Produk bagi IKM Permesinan yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) di Kabupaten Sukabumi pada 13–28 Juli 2026.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenperin dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat kapasitas teknis pelaku IKM permesinan dalam menghasilkan mesin pengolahan pangan yang lebih inovatif dan sesuai kebutuhan industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, sektor IKM memiliki posisi yang sangat strategis dalam struktur industri nasional sehingga penguatan kapasitasnya akan memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
“Selain mendominasi struktur industri nasional dengan porsi unit usaha mencapai 99,79 persen dari total unit usaha industri yang tersebar di berbagai daerah, IKM juga menyerap hingga 13,4 juta tenaga kerja. Oleh karena itu, penguatan daya saing IKM menjadi langkah penting untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih luas dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (19/07/26).

Menperin menambahkan, daerah yang memiliki potensi sumber daya alam besar seperti Kabupaten Sukabumi perlu didukung dengan penguasaan teknologi pengolahan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.
“Kami mendukung IKM lokal, khususnya yang berada di daerah dengan potensi sumber daya alam seperti Sukabumi, untuk berperan aktif memaksimalkan pengolahan hasil sumber daya alam setempat sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Kabupaten Sukabumi dikenal memiliki potensi besar pada sektor peternakan dan perikanan. Wilayah pesisir selatan Jawa Barat yang luas serta ketersediaan sumber daya perikanan darat membuka peluang pengembangan industri pengolahan pangan yang semakin kompetitif.
Namun, optimalisasi potensi tersebut membutuhkan dukungan mesin dan peralatan produksi yang efisien serta sesuai kebutuhan pelaku usaha.
Melalui program pendampingan ini, sebanyak 16 pelaku IKM Permesinan Teknologi Tepat Guna (TTG) mendapatkan pendampingan intensif dalam mengembangkan serta memproduksi mesin suwir ikan dan daging.
Mesin tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses produksi, menjaga kualitas hasil olahan, sekaligus mendukung berkembangnya industri pengolahan pangan berbasis potensi lokal.
Selain bekerja sama dengan BRIN sebagai mitra riset dan inovasi, Kemenperin juga melibatkan Asosiasi Alat Mesin Pertanian (ALSINTANI) untuk memberikan wawasan mengenai perkembangan industri, kebutuhan pasar, serta pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menciptakan inovasi produk yang berdaya saing.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menyampaikan, kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing IKM, terutama dalam mengatasi berbagai keterbatasan yang masih dihadapi pelaku usaha.
“Kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan untuk mengatasi keterbatasan IKM, baik dalam akses teknologi, pemenuhan standar kualitas dan produktivitas, hingga pemanfaatan hasil riset untuk pengembangan produk,” ujar Reni.
Menurutnya, sinergi antara Kemenperin, BRIN, asosiasi industri, dan pelaku usaha akan mempercepat lahirnya inovasi mesin produksi yang semakin dibutuhkan masyarakat dan sektor industri.
“Melalui pendampingan ini, kami berharap IKM Permesinan dapat terus bersinergi dengan BRIN maupun ALSINTANI sehingga mampu menghasilkan mesin tepat guna yang berkualitas, produktif, dan tetap memiliki harga yang terjangkau,” tuturnya.
Reni juga berharap hasil kegiatan ini mampu memperluas portofolio produk IKM permesinan sehingga semakin adaptif terhadap perkembangan kebutuhan pasar.
“Pendampingan ini diharapkan dapat menambah referensi produk yang mampu dihasilkan oleh IKM Permesinan TTG di Sukabumi serta memacu mereka terus melakukan penyempurnaan maupun menghasilkan inovasi produk baru sesuai perkembangan pasar,” tambahnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh pembekalan yang komprehensif mulai dari pengenalan mesin pengolahan pangan, perancangan desain produk manufaktur, proses pembuatan dan perakitan komponen, hingga uji coba mesin.
Tidak hanya aspek teknis, peserta juga mendapatkan materi mengenai analisis teknoekonomi, termasuk perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP), agar mampu menghasilkan produk yang tidak hanya berkualitas tetapi juga layak secara bisnis dan berkelanjutan.
Plt. Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA) Kemenperin, Budi Setiawan mengatakan bahwa program ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri berbasis potensi lokal melalui peningkatan kemampuan teknis pelaku IKM.
“Kami berharap kegiatan Pendampingan Diversifikasi Produk bagi IKM Permesinan ini dapat memberikan manfaat bagi IKM Permesinan TTG di Kabupaten Sukabumi melalui penguatan kapasitas teknis, sekaligus memacu tumbuhnya industri pengolahan berbasis potensi lokal yang mampu meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat setempat,” pungkas Budi.(Rizky Tile)







