Nasional

Kemenperin Pacu IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Melalui Creative Business Incubator 2026

5
×

Kemenperin Pacu IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Melalui Creative Business Incubator 2026

Sebarkan artikel ini
Kemenperin Pacu IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Melalui Creative Business Incubator 2026
Foto : Dok.Ist/Kemenperin

JAKARTA, KABARNUSA24.COM
Di tengah dinamika ekonomi global, sektor industri fesyen dan kriya nasional mampu mempertahankan kinerja positif melalui peningkatan produktivitas dan inovasi, serta adaptif terhadap perubahan pasar dan kebutuhan konsumen.

Penguatan kapasitas sumber daya manusia, inovasi bisnis, dan jejaring kolaborasi menjadi faktor penting agar IKM fesyen dan kriya untuk tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global.

Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (Ditjen IKMA) menyelenggarakan Kick Off Program Creative Business Incubator (CBI) 2026 pada Senin, (20/07/26) secara daring.

Program yang dilaksanakan oleh Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) ini merupakan salah satu program pembinaan yang dirancang untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan sektor fesyen dan kriya melalui pembelajaran terstruktur yang meliputi penyampaian materi, penugasan mandiri, evaluasi, dan business pitching dengan melibatkan akademisi serta praktisi yang kompeten di bidang fesyen dan kriya.

“Pemerintah terus menghadirkan berbagai program pembinaan yang mampu memperkuat kapasitas pelaku IKM agar dapat tumbuh, naik kelas, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/07/26).

Menperin Agus mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya menciptakan wirausaha baru, tetapi juga memastikan pelaku IKM mampu berkembang menjadi usaha yang produktif, inovatif dan berkelanjutan. “Diperlukan penguatan rantai pasok lokal yang terintegrasi sehingga IKM dapat saling terhubung, meningkatkan penggunaan bahan baku dan jasa dari dalam negeri, serta menjadi bagian dari ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih besar,” ungkap Agus.


Kemenperin Pacu IKM Fesyen dan Kriya Naik Kelas Melalui Creative Business Incubator 2026
Foto : Dok.Ist/ Kemenperin

Agus menambahkan, keberhasilan pengembangan wirausaha juga ditentukan oleh kualitas pendampingan yang diberikan kepada pelaku usaha. Berdasarkan kajian, mentorship berperan penting dalam meningkatkan kompetensi teknis sekaligus membentuk karakter wirausaha yang tangguh, mandiri, dan inovatif.

“Program pendampingan bukan sekadar pelengkap. Mentorship menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan teknis, memperkuat karakter kewirausahaan, sekaligus menjadi mitra diskusi dalam menghadapi tantangan bisnis, khususnya pada tahap awal pengembangan usaha,” ucap Agus.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita menjelaskan bahwa kinerja industri fesyen dan kriya hingga Triwulan I Tahun 2026 menunjukkan tren yang positif. Nilai PDB sektor fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, meningkat 7,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan sektor ini juga meningkat dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025, yang menunjukkan bahwa industri fesyen dan kriya terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional.

Reni juga menyampaikan adanya kinerja positif dari capaian ekspor industri fesyen dan kriya nasional pada awal tahun 2026, pada periode Januari – April 2026, nilai ekspor industri kriya mencapai USD 228 juta, industri fesyen pakaian jadi sebesar USD 2,78 miliar, dan industri tekstil sebesar USD 1,04 miliar.

“Capaian tersebut menjadi peluang bagi IKM fesyen dan kriya untuk terus meningkatkan kualitas produk, kapasitas usaha, serta memperluas akses pasar sehingga mampu naik kelas dan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional maupun pasar global,” ujar Reni.

Lebih lanjut, Reni menyampaikan Program CBI dirancang untuk mengembangkan wirausaha muda di sektor industri kreatif fesyen dan kriya melalui pembelajaran yang komprehensif dengan kurikulum yang disusun sesuai kebutuhan pelaku usaha.

“Creative Business Incubator merupakan salah satu instrumen pembinaan yang kami siapkan untuk membantu pelaku IKM memperkuat fondasi bisnisnya. Kami ingin para peserta tidak hanya memiliki produk yang berkualitas, tetapi juga mampu membangun model bisnis yang berkelanjutan, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai tambah usahanya,” kata Reni.

Reni menambahkan program CBI telah menghasilkan berbagai kisah sukses alumni yang menunjukkan perkembangan usaha secara nyata.

Pendampingan yang diberikan tidak hanya berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet usaha, tetapi juga memacu pelaku IKM naik kelas dari skala mikro menjadi kecil maupun dari skala kecil menjadi menengah, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas hingga ke pasar internasional.

“IKM Seminyak Leather, alumni CBI 2020 asal Badung, berhasil memperluas pasar ekspor hingga Amerika Serikat, Kanada, Eropa dan Timur Tengah. Contoh kisah sukses lainnya adalah IKM Rappo, alumni CBI 2024 asal Makassar, sukses berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Borobudur Marathon melalui inovasi produk berbasis pengolahan limbah plastik yang turut mendukung pengembangan ekonomi sirkular,” ucap Reni.

Menurut Reni, keberhasilan para alumni CBI menjadi bukti bahwa program inkubasi mampu memacu pelaku IKM untuk berkembang dan naik kelas. Diharapkan pengalaman paraalumni dapat menjadi inspirasi bagi peserta CBI 2026 untuk terus berinovasi, berani mengembangkan usaha, dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada.

“Mari manfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas jejaring, memperkuat inovasi, dan membangun kolaborasi yang dapat membawa usaha naik kelas,” ucap Reni.

Sementara itu, Kepala BPIFK, Dickie Sulistya Apriliyanto, menjelaskan peserta CBI 2026 akan memperoleh pembelajaran melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, penugasan mandiri, hingga evaluasi yang diharapkan mampu meningkatkan kapasitas bisnis, memperluas akses pasar, serta memacu pengembangan usaha yang berkelanjutan.

“CBI kami hadirkan sebagai ruang belajar, berkolaborasi, dan bertumbuh bagi pelaku IKM fesyen dan kriya,” ucap Dickie.

Rangkaian program CBI 2026 dimulai dengan Kick Off Program pada 20 Juli 2026 yang diikuti oleh para pelaku IKM, asosiasi, akademisi, serta perwakilan pemerintah daerah yang membidangi Perindustrian. “Acara dihadiri oleh 250 peserta yang hadir baik secara daring maupun luring,” terang Dickie.

Dickie menerangkan jika acara juga diisi dengan sosialisasi dan pendaftaran yang dilakukan secara daring melalui tautan bit.ly/daftarCBI2026 hingga 14 Agustus 2026.

Setelah melalui seleksi administrasi dan wawancara, peserta akan mengikuti orientasi, pembelajaran klasikal secara daring dan luring, hingga presentasi akhir dan business pitching.

Sebanyak 20 IKM akan mengikuti pembelajaran daring, kemudian 8 peserta terbaik akan mengikuti pembelajaran luring di Bali berdasarkan hasil evaluasi dan kurasi.

“Semoga melalui Program Creative Business Incubator 2026 akan lahir semakin banyak pelaku IKM fesyen dan kriya yang inovatif, tangguh, dan siap berkembang menjadi unit usaha yang mampu memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi dan industri nasional,” ungkap Dickie.

Program CBI akan diisi dengan pemaparan materi tentang penguatan sistem operasional, penerapan peningkatan proses bisnis, pembuatan standar operasional bisnis, pengendalian kualitas, serta identifikasi hambatan produksi sehingga pelaku usaha mampu meningkatkan kapasitas tanpa mengorbankan kualitas produk.(Rizky Tile)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin