DaerahKetahanan Pangan

Waduk Cipancuh Surut Drastis, Warga Berebut Ikan, Petani Berebut Air

3
×

Waduk Cipancuh Surut Drastis, Warga Berebut Ikan, Petani Berebut Air

Sebarkan artikel ini
Waduk Cipancuh Surut Drastis, Warga Berebut Ikan, Petani Berebut Air

 

Indramayu, kabarnusa24.com

Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Indramayu menghadirkan dua sisi kehidupan yang bertolak belakang. Di satu sisi menjadi berkah bagi ratusan warga yang berburu ikan di Waduk Cipancuh, Desa Situraja, Kecamatan Gantar. Namun di sisi lain, kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi ribuan hektare lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air waduk.

Sejak air waduk surut drastis pada Senin (3/8/2026), ratusan warga berbondong-bondong turun ke dasar waduk dengan membawa jaring, jala, dan alat tangkap sederhana. Genangan air yang tersisa dimanfaatkan untuk menangkap ikan dan udang yang masih bertahan.

Tak sedikit warga yang pulang dengan hasil melimpah. Ember-ember berisi ikan menjadi pemandangan umum di lokasi, sementara warga lainnya datang hanya untuk menyaksikan keramaian yang berlangsung sejak pagi.

Suasana Waduk Cipancuh pun berubah layaknya wisata dadakan. Pedagang makanan dan minuman memanfaatkan ramainya pengunjung dengan membuka lapak di sekitar waduk, sehingga menambah semarak aktivitas masyarakat.

Di balik euforia berburu ikan, para petani justru diliputi kecemasan. Waduk Cipancuh merupakan salah satu sumber irigasi utama yang mengairi ribuan hektare sawah di Kecamatan Gantar, Haurgeulis, Kroya, hingga Anjatan.

Dengan terus menyusutnya debit air, pasokan irigasi semakin terbatas. Sejumlah petani mulai berebut aliran air untuk menyelamatkan tanaman padi yang terancam mengering. Jika kemarau terus berlanjut tanpa hujan maupun tambahan pasokan air, risiko gagal panen diperkirakan semakin besar.

Fenomena Waduk Cipancuh menjadi potret nyata dampak musim kemarau di Indramayu. Bagi sebagian warga, surutnya waduk membawa rezeki melalui hasil tangkapan ikan. Namun bagi para petani, kondisi tersebut menjadi peringatan akan ancaman krisis air yang dapat memengaruhi produksi pertanian di wilayah tersebut.ersebut.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin