Budi Satria Andhika Soroti Prestasi Catur Lumajang yang Merosot, Percasi Targetkan Bangkit dengan Satu Emas di Porprov
LUMAJANG, kabarnusa 24.com— Ketua KONI Kabupaten Lumajang Budi Satria Andhika, S.E., M.M. tidak menutup-nutupi kondisi prestasi olahraga catur Lumajang yang sedang mengalami penurunan. Pada Porprov Jawa Timur IX Tahun 2025, kontingen catur Lumajang bahkan belum mampu menyumbangkan satu pun medali.
Namun, bagi Budi, kejujuran Pengkab Percasi Lumajang dalam mengakui keterbatasan justru menjadi modal awal untuk membangun kembali prestasi.
“Pak Ketua Percasi ini satu-satunya ketua yang mengakui kalah dulu. Artinya, mengakui itu berarti gentleman,” kata Budi saat memberikan sambutan dalam Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Catur Tahun 2026 yang digelar Pengkab Percasi Lumajang.
Di tengah sejumlah cabang olahraga yang, menurut Budi, kerap memasang target tinggi sebelum pertandingan namun gagal memenuhi harapan, Percasi Lumajang memilih bersikap realistis.
Saat Porprov IX Jawa Timur 2025, Pengkab Percasi bahkan telah menyampaikan sejak awal bahwa mereka belum memiliki kekuatan atlet yang cukup untuk memasang target tinggi.
“Pak Ketum, saya enggak bisa target karena saya enggak punya atlet,” ujar Budi, menirukan pernyataan Ketua Pengkab Percasi Lumajang kala itu.
Hasilnya memang belum memuaskan. Catur Lumajang pulang tanpa medali.
Namun, Budi menilai persoalan prestasi tidak bisa hanya dilihat dari hasil akhir. Menurut dia, Percasi telah melakukan berbagai upaya, mulai dari mendatangkan atlet hingga pelatih, meskipun kekuatan lawan telah berada pada level nasional.
“Kalau cabor lain, ada yang bilang dapat dua emas, tiga emas, tetapi pulang nol medali. Banyak omongnya. Kalau masalah anggaran nomor satu, tetapi medalinya nol,” ujarnya.
Anggaran Bukan Satu-satunya Jawaban
Budi menegaskan, persoalan pembinaan olahraga tidak semata-mata selesai dengan anggaran besar. Ia menilai pembinaan atlet harus dilakukan secara berkelanjutan dan dimulai dari pencarian bibit atlet daerah.
Menurut dia, pengalaman sebelumnya ketika Lumajang mendatangkan atlet dari luar daerah perlu menjadi bahan evaluasi.
Sejumlah atlet potensial, kata Budi, pada akhirnya memilih kembali atau pindah ke daerah lain. Kondisi tersebut dinilai tidak efektif untuk membangun kekuatan olahraga dalam jangka panjang.
Karena itu, ia meminta Percasi mulai memberikan perhatian lebih besar kepada atlet-atlet asli Lumajang.
“Kalau bisa atletnya ya atlet Lumajang sendiri. Enggak usah dari luar lagi. Selain tidak efektif, pemborosan juga,” kata Budi.
Kejurkab Catur 2026 pun dipandang sebagai titik awal untuk mencari kembali pemain-pemain potensial yang diproyeksikan memperkuat Lumajang pada ajang Porprov mendatang.
Budi berharap kompetisi tersebut tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, melainkan menjadi ruang seleksi bagi atlet-atlet muda.
“Catur mengawali Kejurkab. Mudah-mudahan bisa menemukan bibit-bibit atlet catur untuk Porprov tahun mendatang,” ujarnya.
Ketua Percasi Tetap Bergerak di Tengah Kesibukan
Di hadapan para atlet, orang tua, pelatih, pembina, dan peserta, Budi juga memberikan apresiasi kepada Ketua Pengkab Percasi Lumajang yang dinilainya memiliki perhatian besar terhadap perkembangan catur di daerah itu.
Menurut Budi, meskipun memiliki aktivitas yang padat dan harus bolak-balik Jakarta-Lumajang serta sejumlah daerah lainnya, Ketua Percasi tetap meluangkan waktu untuk memikirkan perkembangan olahraga catur.
“Beliau ini orangnya sibuk sekali. Wira-wiri Jakarta-Lumajang dan ke mana-mana. Tapi hatinya enggak pernah lupa dengan catur,” kata Budi.
Komitmen tersebut, menurut dia, terlihat dari keberanian Percasi mengambil berbagai agenda kejuaraan, termasuk Kejurprov yang sebelumnya juga menjadi bahan diskusi dengan KONI.
Budi bahkan sempat mendorong agar kejuaraan tingkat provinsi tersebut dapat sekaligus menjadi sarana memetakan kekuatan lawan menjelang Porprov.
Meski regulasi tidak memungkinkan penggabungan agenda tersebut, ia menilai kejuaraan tetap penting untuk membaca peta kekuatan atlet dari daerah lain.
Pelatih Luar untuk Transfer Ilmu
Salah satu langkah yang akan ditempuh dalam membangun kembali prestasi catur Lumajang adalah mendatangkan pelatih dari luar daerah.
Budi meminta para pelatih lokal tidak memandang kebijakan tersebut sebagai bentuk ketidakpercayaan.
Sebaliknya, kehadiran pelatih berpengalaman dari luar diharapkan menjadi kesempatan bagi pelatih Lumajang untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kualitas pembinaan.
“Ketika mendatangkan pelatih dari luar, pelatih lokal belajar dan menimba ilmu. Sembari melatih adik-adik, kita juga menimba ilmu,” katanya.
Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pelatih dari luar, terutama yang memiliki lisensi dan pengalaman di tingkat lebih tinggi, membutuhkan dukungan anggaran yang lebih besar.
Karena itu, Budi meminta seluruh atlet memanfaatkan kesempatan pembinaan tersebut secara maksimal.
“Jangan buang kesempatan ini dengan sia-sia. Manfaatkan untuk Porprov yang akan datang,” ujarnya.
Target Tidak Muluk: Satu Emas, Satu Perak, Satu Perunggu
Berbeda dengan target besar yang kerap diumbar sejumlah cabang olahraga, Pengkab Percasi Lumajang memilih memasang sasaran realistis.
Ketua Percasi Lumajang tidak membebani tim dengan ambisi berlebihan. Target yang dipasang untuk kebangkitan catur Lumajang adalah “satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu”.
Target sederhana itu justru mendapat perhatian Budi. Setelah mengalami penurunan prestasi dan gagal menyumbangkan medali pada Porprov 2025, Percasi kini memilih membangun kembali kekuatan dari bawah.
Pembinaan atlet lokal, penyelenggaraan kejuaraan berjenjang, pemetaan kekuatan lawan, hingga rencana mendatangkan pelatih dari luar menjadi bagian dari upaya tersebut.
Budi berharap tahun 2026 menjadi momentum awal kebangkitan.
“Catur sekarang ini memang kondisinya lagi turun secara prestasi. Tapi sampai kapan kita mau turun? Kita harus bangkit, kita harus naik lagi,” katanya.
Bagi Lumajang, Kejurkab Catur 2026 bukan sekadar pertandingan mencari juara. Kejuaraan itu menjadi awal untuk menjawab satu persoalan besar: bagaimana mengembalikan kejayaan catur Lumajang yang pernah dikenal sebagai salah satu penyumbang medali emas bagi daerah.
Dan kali ini, kebangkitan itu dimulai tanpa banyak janji.
Hanya target sederhana: satu emas, satu perak, dan satu perunggu.
Namun, dari target yang tidak muluk itu, Percasi Lumajang berharap lahir kembali generasi atlet yang mampu membawa nama Lumajang naik ke papan atas.(D.S)







