Tembus Kompetisi Internasional, Siswa SMAN 1 Lumajang Raih Silver, Bronze dan Favorite Poster di Malaysia
LUMAJANG,kabarnusa24.com — Siswa SMAN 1 Lumajang kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Dalam ajang 3rd International Student Summit (ISS) 2026 yang berlangsung di Malaysia pada 12–13 September 2026, para siswa berhasil membawa pulang Silver Medal, Bronze Medal, dan Favorite Poster.
Capaian tersebut menambah deretan prestasi siswa SMAN 1 Lumajang dalam kompetisi ilmiah. Sebelumnya, dalam NEIRA Competition 3 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, 29–30 Agustus 2026, siswa SMAN 1 Lumajang juga berhasil meraih Gold Medal, Silver Medal, Bronze Medal, serta penghargaan Favorite Poster.
Prestasi beruntun tersebut menjadi bagian dari upaya SMAN 1 Lumajang membangun budaya kompetisi dan penelitian di kalangan siswa. Sekolah tidak hanya mendorong siswa mengejar medali, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan melakukan riset, mengembangkan produk, menguasai materi, hingga mempresentasikan gagasan di hadapan juri.
Kepala SMAN 1 Lumajang, Moh. Agus Wibisono, M.Pd, mengatakan capaian di tingkat internasional menjadi hal membanggakan, terlebih sebagian siswa yang mengikuti kompetisi tersebut masih duduk di kelas X.
“Yang dikirim kemarin adalah anak-anak kelas 10. Mereka masih awal, tetapi sudah punya semangat dan kemampuan untuk mengikuti kegiatan kompetisi tingkat internasional,” kata Agus.
Menurut Agus, program sekolah prestasi di SMAN 1 Lumajang masih berada pada tahap awal. Namun, siswa sudah diberikan ruang untuk menguji kemampuan melalui berbagai kompetisi, mulai tingkat provinsi, nasional hingga internasional.
Dalam ajang 3rd ISS 2026 di Malaysia, siswa SMAN 1 Lumajang harus berhadapan dengan peserta dari sejumlah negara. Meski capaian yang diperoleh berupa Silver Medal, Bronze Medal dan Favorite Poster, pengalaman tersebut dinilai penting untuk membangun keberanian siswa tampil di level internasional.
“Ini memotivasi anak-anak. Terutama anak-anak yang dikirim oleh Tim Prestasi kemarin adalah anak-anak kelas 10. Mereka masih awal, tetapi sudah punya semangat dan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan kompetisi tingkat internasional,” ujar Agus.
Lima Siswa Bawa Tujuh Judul Penelitian
Sebelum tampil di Malaysia, siswa SMAN 1 Lumajang juga menunjukkan kemampuan dalam kompetisi nasional NEIRA Competition 3 yang digelar di Yogyakarta.
Dalam ajang yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada tersebut, lima siswa membawa tujuh judul penelitian. Beberapa siswa bahkan harus menguasai lebih dari satu tema penelitian dan melakukan presentasi secara bergantian.
Pembimbing anak berbakat SMAN 1 Lumajang, Asifa Arief, M.Pd, mengatakan tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses pembentukan mental kompetitif siswa.
“Lima anak membawa tujuh judul. Ada satu anak yang presentasi empat judul atau empat tema. Timnya saling berganti,” jelas Asifa.
Tidak hanya membawa pulang Gold Medal, Silver Medal dan Bronze Medal, siswa juga meraih Favorite Poster dalam kompetisi tersebut.
Menurut Asifa, capaian itu menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mampu menghasilkan penelitian, tetapi juga mampu mengomunikasikan hasil penelitian mereka kepada juri.
Yang tidak kalah penting, pengalaman tersebut mulai memengaruhi siswa lain di sekolah. Setelah melihat teman-temannya meraih prestasi, semakin banyak siswa yang tertarik mengikuti kompetisi.
“Sekarang kami di Tim Prestasi sampai kewalahan. Hampir setiap hari ada laporan, ‘Bu, kami mau ikut lomba ini, Bu, kami mau ikut lomba itu’,” tuturnya.
Speaking Bahasa Inggris Diperkuat
Untuk menghadapi kompetisi internasional, kemampuan presentasi menjadi perhatian khusus. Pembina speaking bahasa Inggris SMAN 1 Lumajang, Anang Maksum, S.Pd, mengatakan siswa tidak cukup hanya memiliki produk atau penelitian yang bagus.
Mereka juga harus mampu menjelaskan gagasan secara jelas dan menarik, terutama ketika berhadapan dengan juri dalam kompetisi internasional.
“Produk bagus tetapi tidak bisa mempresentasikan juga, it’s not interesting,” kata Anang.
Karena itu, latihan dilakukan hampir setiap hari. Materi latihan disesuaikan dengan kebutuhan siswa, mulai dari speaking bahasa Inggris, penguasaan materi, teknik presentasi hingga evaluasi terhadap kekurangan.
“Ketika penunjukan saya, hampir setiap hari kami latihan. Apa yang perlu dievaluasi dan apa yang masih kurang, kami lakukan perbaikan,” ujarnya.
Anang mengatakan dirinya berperan sebagai mentor presentasi, sementara pembina lainnya berfokus pada pengembangan produk dan penelitian.
Dengan pola pembinaan tersebut, siswa dipersiapkan agar tidak hanya mampu menghasilkan karya, tetapi juga mampu mempertanggungjawabkan karya tersebut di depan juri.
Prestasi Memicu Siswa Lain Ikut Berkompetisi
Asifa mengatakan peningkatan kepercayaan diri menjadi salah satu perubahan yang terlihat dari siswa setelah mengikuti berbagai kompetisi.
Siswa yang sebelumnya mungkin masih ragu tampil kini mulai berani mencoba. Bahkan, sebagian siswa mulai mencari dan mendaftar lomba secara mandiri.
“Yang perlu ditumbuhkan itu rasa percaya diri. Kami berusaha menumbuhkan jiwa kompetisi dan memantik anak-anak untuk mencoba,” katanya.
Menurut Asifa, efeknya mulai terasa di lingkungan sekolah. Prestasi yang diraih teman-temannya menjadi pemicu bagi siswa lain untuk ikut berkompetisi.
Mereka kemudian datang ke Tim Prestasi untuk menyampaikan lomba yang ingin diikuti. Sekolah selanjutnya memetakan kebutuhan pembinaan, baik untuk kompetisi akademik maupun nonakademik.
Sekolah dan Orang Tua Gotong Royong
Kepala SMAN 1 Lumajang mengatakan dukungan terhadap siswa juga melibatkan wali murid. Pembiayaan kegiatan dilakukan dengan pola gotong royong antara sekolah dan orang tua.
“Pendanaan ini mix antara orang tua dengan sekolah, sehingga tidak saling memberatkan. Kegiatan seperti ini memang tidak berbiaya ringan, sehingga kita harus saling gotong royong,” kata Agus.
Ia mengatakan keterbukaan antara sekolah dan wali murid menjadi bagian penting dalam mendukung siswa mengikuti kompetisi.
“Yang terpenting anak-anak bisa berkiprah dalam ajang-ajang lomba ilmiah, baik tingkat provinsi, nasional maupun internasional,” ujarnya.
Salah satu siswa, “Ilham Dwi Pangga”, siswa kelas X, mengaku mendapat dukungan penuh dari orang tuanya untuk mengikuti kompetisi.
Ia mengatakan capaian yang diperoleh cukup memuaskan. Namun, pengalaman tersebut justru membuatnya ingin meningkatkan kemampuan dan meraih prestasi yang lebih tinggi.
“Cukup puas, tetapi saya juga ingin lebih terasah lagi untuk meraih yang lebih tinggi,” kata Ilham.
Ia berharap siswa lainnya juga semakin berani mengikuti kompetisi.
“Harapan saya untuk teman-teman supaya lebih semangat belajar lagi supaya bisa meraih apa yang mereka inginkan,” ujarnya.
Agus mengatakan capaian di Malaysia dan berbagai kompetisi sebelumnya menjadi pijakan bagi SMAN 1 Lumajang untuk terus mengembangkan program prestasi.
Dengan siswa yang masih berada di kelas X, sekolah berharap masih memiliki waktu panjang untuk memperkuat kemampuan mereka melalui penelitian, pembinaan dan kompetisi.
“Harapan ke depan, anak-anak yang masih punya waktu tiga tahun di sini bisa lebih berprestasi. Ajang nasional dan internasional nanti kita ikuti,” kata Agus.
Menurut dia, target pembinaan tidak berhenti pada perolehan medali. Sekolah ingin siswa memiliki kemampuan akademik, penelitian, komunikasi publik dan keberanian bersaing di tingkat yang lebih luas.
“Insya Allah dengan anak-anak yang masih fresh dan masih semangat melakukan penelitian, akan lahir peneliti muda yang handal dari SMA 1,” pungkasnya.(D.S)







