Opini

Penyelenggara Haji Negara Merajalela Ambisi Duniawi, Ala Jalan Terdepan Kawasaki Ninja Jepang, Rembang – Jombang

11
×

Penyelenggara Haji Negara Merajalela Ambisi Duniawi, Ala Jalan Terdepan Kawasaki Ninja Jepang, Rembang – Jombang

Sebarkan artikel ini
Penyelenggara Haji Negara Merajalela Ambisi Duniawi, Ala Jalan Terdepan Kawasaki Ninja Jepang, Rembang - Jombang

Oleh : Sutriachol Haris, L.C.

Kabarnusa24.com,– Ada Motto legendaris dari Yamaha masuk ke dalam K/L, Yamaha semakin di depan. Dari Rembang Hingga Jombang sama balapannya liar upaya penyelenggaraan Haji Tanah Air niat berbau duniawi. Yakut Cholil Qoumas dan Gus Irfan bukan Beti alias beda tipis lagi tapi wong podo ambisi duniawinya ga ada bedanya.

Bila bisnis menarik tuai keuntungan banyak dalam Perkara Haji dimana salah satu wadah Rukun Islam dalam menunaikan Perjalanan Haji diwadahi Negara memang telah sewajarnya, hanya ketika SDM para Menterinya hingga aparatur SDM ASN nya yang masih sebahagiannya berambisi duniawi mencari penghidupan jadi sumber kehidupan dan keuntungan di dalamnya untuk memperkaya semata pribadi atau tak sedikit bahkan keluarga hingga memperkaya kelompok.

Sebenarnya Menhaj lugu dan awam tak memiliki keahlian khusus soal Penyelenggaran Negara Haji ini termasuk meletakan di suatu K/L dari mulai Staf Khusus, Tenaga Ahli dan seterusnya. Gus Irfan gegabah tak berhati dan tidak pernah belajar, nasi sudah jadi bubur. Persoalan integritas, kredibilitas dan moral menjelma Rukun Islam sebagai jelmaan pokok subtantif lagi sensitif telah sobek dan sengaja dirobek oleh yang bermana Tamak maka sudah harusnya mundur dari kursi Menteri.

MenPANRB wajib telaah kembali seluruh atas K/L disana ada pembelajaran dan tak sedikit terjadi manipulasi data Tenaga Ahli, Staf Khusus dan hingga pembantu – pembantu Menteri hingga Anggota DPR yang menggunakan Ijazah para tenaga pembantunya termasuk TA hingga Aspri tersebut bahagian tak sedikit diduga memanipulatif data identitas orang.

Nama banyak Staf yang tertera di Kesetjenan Lembaga Negara dimana setiap bulannya ada gaji itu tak sedikit yang terdaftar banyak nama staf tersebut tak sedikit pimpinan hanya setor Ijazah dan nama yang sementara nama staf tersebut benar ada hanya orangnya fiktif, artinya dari gajinya staf tersebut tak sedikit pimpinan yang terima gajinya.

Bayangkan saja berapa staf dikali selama periode menjabat. Tapi pinternya banyak Pimpinan paling yang dipercaya di Kantor hanya satu sampai dua orang staf saja sementara nama yang lain fiktif alias banyak nama staf yang terdaftar hanya dengan manipulasi data atau dokumen di Kesetjenan Lembaga Negara.

Ketika prinsip baku dalam Al-Quran “dan Jangan Lupakan bahagianmu dari duniawi” yakni dunia cukup digenggam tangan dan tak perlu masuk dalam ke lubuk hati. Konteks ayat ini terkonsep beda ketika dunia kudu di kejar. Tak disadari memang ketika Menhaj di punggungnya ada setumpuk Jabatan No Wahid dalam pucuk legitimasi Haji Umrah.

Ketika banyak Pejabat tak sedikit pula mereka lalai dan masuk mulai dalam dari bisikan isteri, soal anak misalnya, soal ekonomi atau tentang harta juga bisa. Di sanalah akhirnya bisa luput atau dalam bahasa NU nya yaitu khilaf dan bisa saja perkara di sengaja dengan harapan orang tak bakal ada yang tahu, karena orang ketika ketahuan berbuat salah inginnya tak ada orang lain pula yang tahu.

Prosedur Birokrasi Negara dalam Perbaikan Tata Aturan melalui KemenPANRB wajib kembali Negara mengkaji ulang. Sejalan pencegahan mulai dari Nepotisme hingga Gratifikasi bahkan masuk ke ranah Korupsi bersamaan inilah Kejaksaan, KPK dan APH lain komitmen dan konsisten menjadikan bahwa Negara adalah tempat Pengabdian semata bukan yang lain.

Bila pencaharian kekayaan yang jadi niat mereka maka sejatinya setiap Pejabat hanya dapat sejahtera memiliki jiwa yang harusnya sadar dan ketika ingin Kaya sadari dengan garis tangannya masing – masing karena sepanjang tak akan pernah ada menjadi Pejabat itu menjadi Kaya Raya kecuali tiga Hal :

Pertama boleh jadi ada Pejabat Kaya mungkin dia Korupsi, kedua ada Pejabat Kaya boleh jadi dia sambil usaha berdagang. Dan yang ketiga boleh jadi ada Pejabat Kaya karena dapat warisan banyak.

Antara teori dan minim praktek pengabdian dari Rembang ke Jombang urusan Haji jadi Korupsi dan Nepotisme, KKN adalah utama di kedepankan bagi mereka melebihi garis Yamaha terus semakin di depan.

Presiden tak boleh tinggal diam, rubah mereka ketika saatnya dipandang perlu untuk memberi punishment tegak lurus karena memalukan, kudu merubah hingga mengganti mereka sejalan kelembutan hati tetap tegas angkat senjata hukum ditegakan. Ketika level dasar tatanan merubah itu hanya pada level tangan, teguran lisan – tulisan atau surat.

(Red)

Penulis