Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) ke-XXXIV Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menjadi momentum konsolidasi seluruh elemen organisasi. Agenda ini digelar di eL Royale Hotel, Bandung, Jawa Barat, mulai Senin (4/8/2025) hingga Rabu (6/8/2025).
Mengusung tema “Dengan Semangat Indonesia Incorporated Menuju Indonesia Emas 2045”, Apindo meyakini impian memajukan perekonomian nasional dapat dicapai, meski bukan hal yang mudah. Dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, Apindo berkomitmen untuk bersikap proaktif.
“Dengan semangat incorporated, kita menuju Indonesia Emas. Jadi, Indonesia Emas 2045 itu tidak menunggu kita, tetapi kita yang harus mengejar mereka dan untuk berhasil, kita tidak bisa melakukan itu sendirian. Kita perlu bekerja sama, baik itu dengan pemerintah, kemudian dengan para pengusaha, juga masyarakat, dan juga banyak, seperti media misalnya.
Rakerkonas 2025 bertujuan untuk mendengar langsung masukan dari para pelaku usaha. Salah satu kegiatan dalam rangkaian acara ini adalah pembukaan Apindo Expo & UMKM Fair 2025.
“Memang tujuan kami untuk konsolidasi organisasi, semua elemen organisasi. Kita memang melihat begitu banyak kasus yang dihadapi para pelaku usaha, dan ini kesempatan kita juga untuk mendengar masukan-masukan dari para pelaku di seluruh Indonesia, dari semua, terwakili semua provinsi di Indonesia,”
Sebagai narasumber dalam pemaparannya, Perry menyampaikan bahwa kesuksesan usaha tidak hanya bergantung pada produk yang dijual, namun juga pada cara kita melayani pelanggan. “Pelayanan adalah yang utama, dalam hal sekecil apapun. Misalnya kita membiasakan menyapa dengan ramah seperti ‘kakak cantik mau pesan apa?’ Itu sudah jadi nilai jual yang sangat besar,” ungkapnya sambil menekankan pentingnya tata krama, manner, dan hospitality dalam bisnis.
Perry juga menambahkan bahwa sebuah usaha perlu memiliki identitas kuat, salah satunya dengan menciptakan maskot sebagai simbol usaha. “Cari tokoh untuk dijadikan maskot agar melekat di hati konsumen,” ujarnya.
Selain itu, Perry menekankan pentingnya menentukan segmen pasar yang sesuai dan menetapkan harga berdasarkan target pasar tersebut. Menurutnya, barang yang sama dapat dijual dengan harga berbeda tergantung segmen pasar yang dituju. “Contohnya tahu bulat dijual Rp10.000 di pinggir jalan, tapi kalau dijual di restoran bisa Rp20.000 karena sudah beda konsep,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Perry membagikan pengalamannya bahwa ketika penjualan mulai menurun, pengusaha perlu berinovasi namun tetap mempertahankan konsep original yang menjadi “ruh” dari usaha tersebut. Lebih lanjut, Perry berpesan agar para pelaku UMKM dapat menjaga hubungan baik serta berbagi rezeki dengan orang sekitar.
Menurut Perry, setiap usaha perlu memiliki satu menu andalan yang membuat pelanggan rela datang berkali-kali, serta menciptakan konsep unik yang berbeda dengan pesaing. “Jangan perang sama pesaing, tapi lengkapi pesaing. Kalau di sebelah ada tukang soto, jangan jual soto lagi. Jual dessert atau minuman,” ujarnya memberi contoh.
Terakhir, Perry mengingatkan bahwa UMKM harus berani turun ke lapangan dan memulai usaha dengan memperhitungkan dana cadangan yang cukup agar tidak kesulitan jika mengalami kerugian. “Jangan takut gagal. Gagal itu biasa, tapi bangkit itu luar biasa,” tutupnya memotivasi.







