Oleh : Sutriachol Haris, Lc.
Kabarnusa24.com,- Pointer pada sebuah makna “Hakikat”. Bahwa dalam pandangan hakikat terperinci setidaknya ada dua. Bahwa baik dan buruk itu diciptakan kedua -duanya benar. Hikmah itu akan didapat ketika seseorang mengenal Tuhan. Pertanyaannya untuk kenal Tuhan seseorang mesti kenali diri sendiri dan sejatinya memahami sebuah “Hakikat”.
Setiap perkara yang nampak dilihat mata tentang perbuatan manusia apapun dapat dilihat akan kepada hikmahnya apa ? Dan tak pernah menyalahkan atas perbuatan manusia karena secara garis besar hakikat tak ada yang salah. Salah itu ketika berpandangan menurut syaiah , karena syariat menetapkan ini dilarang, ini boleh atau diperintah. ini baik dan ini buruk. Itu ujian. Tatkala cakap hakikat kedua – duanya tercipta oleh Tuhan boleh jadi yang pertama tanda datangnya akan sebagai RahmatNya dan yang kedua hadir selaku HikmahNya.
Dalam pandangan hakikat semua terdapat unsur kasih sayang dan hikmah dalam setiap apapun, bahkan semua ciptaan terdapat sisi kebenaran. Secara akal dalam setiap upaya atau ikhtiar manusia maka hasilnya ada gagal dan sukses. Namun dalam teori hakikat semua tak ada yang gagal bahkan semuanya sukses. Ternilai gagal karena sesungguhnya belum ditakdirkan sesuatunya. Dalam setiap proses yang dianggap gagal maka tak perlu dipandang rendah atau hina karena hakikatnya hanya soal waktu belum ditakdirkan nya saja. hanya waktu yang tertunda Everything by Proses, sehingga digariskannya barulah kemudian sukses lahir bathin. Justru yang demikian ini keuntungan yang didapat akan lebih banyak. Dengan demikian lahirlah adanya kematangan, kelapangan, kesejukan, kesuksesan hakiki. Bahkan dengan itu semua dapat menerima himak lebih luas lagi. Dan sungguh akan tahu makna sejatinya arti sebuah “Anugerah”
Imam sayidina Ali pernah berkata : Hati – hati dengan akan kesalahan ulama. Bukan kesalahan Menteri Agama ?! itu ujian bagi dia sebagai ulama untuk meningkatkan derajat.
Jiwa kita umumnya masih sangat “Lawwamah” untuk bisa sampai level “Mutmainah” tentu dengan belajar dan terus belajar akan tarbiyah tazkiyah. Kenapa jika seseorang itu telah bersih hatinya maka yang dijauhkan sebagai dosa dalam setiap langkah geraknya adalah bukan soal melanggar syariah tapi ia lalai akan lupa dengan Allah, sang Rabbnya. Karena yang sebenarnya hakikat seseorang melakukan maksiat itu bukan langgar syariah tapi lupa dengan Allah.
Bagaimana kita tak melakukan maksiat secara dzhahir, kita ibadah tapi tidak dengan Allah, apa akan quality nya ibadah itu sendiri. Pengabdian dan penghambaan Ini Din ( agama ) bukan Din sebatas tengok – tengok kanan kiri atau pilah pilih atas amalan, jiwanya entah bersama siapa lost kontrol akan kecenderungan nafsu dunia, lalu mengukur misalnya seoalah bahwa agama dan moderasi beragama apa yang ia telah fahami saja, dan mengklaim akan saleh pribadi jiwanya tidak pernah merasakan bagaimana “Hakikat Din”.
Tanggerang, 15 September 2025.







