Medan —Kabarnusa24.com) Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Sumatera Utara, Rahmansyah Sibarani, SH, MH, memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan dirinya melakukan aksi pelemparan batu saat bentrok massa di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Rahmansyah menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri ketika terjadi penyerangan oleh massa di depan rumah adik kandungnya, Bakhtiar Ahmad Sibarani, yang juga mantan Bupati Tapteng.
Pernyataan itu disampaikan Rahmansyah dalam konferensi pers di Ruang Fraksi Partai NasDem DPRD Sumut, Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Kamis (6/11/2025).
“Kejadian tersebut sangat tidak kita inginkan bersama. Itu murni pembelaan diri di tengah situasi bentrok dan penyerangan yang terjadi di depan rumah keluarga kami,” ujar Rahmansyah.
Rahmansyah menyampaikan keprihatinannya atas bentrok antara massa aksi dengan warga yang terjadi pada Jumat (31/10/2025). Ia menegaskan kehadirannya di Tapteng bukan dalam kapasitas jabatan, melainkan untuk menghadiri acara ulang tahun keponakannya di rumah Bakhtiar Ahmad Sibarani.
“Saya datang ke kampung halaman, ke rumah keluarga, tanpa menggunakan uang negara. Kebetulan bertepatan dengan acara ulang tahun keponakan saya,” jelasnya.
Sudah Ingatkan Polisi Sebelum Aksi
Menurut Rahmansyah, sehari sebelum aksi, dirinya sudah mendapat informasi akan ada unjuk rasa terkait pembangunan Kantor Bupati Tapteng. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Polres Tapteng agar massa tidak melintasi rumah Bakhtiar guna mencegah gesekan.
“Saya sudah menghubungi pihak kepolisian sejak Kamis sore agar massa tidak melewati rumah Bakhtiar, karena ada acara keluarga dan banyak tamu. Namun permintaan itu tidak direspons,” ungkapnya.
Rahmansyah menyayangkan sikap aparat yang tetap membiarkan massa melewati jalur tersebut. Menurutnya, bentrok bisa dihindari jika polisi mengatur jalur aksi dengan baik.
Tanggapan Soal Aksi Lempar Batu
Terkait video yang memperlihatkan dirinya melempar batu, Rahmansyah mengaku tindakan itu spontan karena situasi sudah tidak terkendali dan massa mulai menyerang.
“Saya spontan membalas lemparan massa untuk melindungi diri dan keluarga. Kalau di dekat saya saat itu bukan batu tapi benda lain, mungkin itu yang saya gunakan. Tapi itu murni refleks karena diserang,” bebernya.
Rahmansyah juga menegaskan, tidak ada niat untuk memulai bentrok. Ia bahkan tidak memiliki tim dokumentasi di lokasi, sehingga banyak video yang beredar hanya menyorot pihaknya.
“Kendaraan kami banyak yang rusak, termasuk mobil pribadi saya. Kalau niatnya bentrok, kami tentu sudah siapkan orang dan dokumentasi. Tapi itu tidak ada,” katanya.
Akan Pertimbangkan Jalur Hukum
Rahmansyah menyebut, setelah kejadian, dirinya langsung berkomunikasi dengan aparat kepolisian untuk mempertanyakan alasan pemberian izin jalur kepada massa. Ia merasa perlakuan aparat tidak adil.
“Kalau kami mau demo lewat rumah pejabat lain tentu tidak akan diizinkan. Tapi kenapa mereka boleh lewat depan rumah kami?” ujarnya.
Rahmansyah menegaskan dirinya menghormati proses hukum dan aparat kepolisian, namun juga mempertimbangkan untuk membawa persoalan ini ke ranah hukum karena telah menimbulkan kerugian materi dan luka di pihaknya.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Biarlah hukum yang menjawab. Saya percaya Kapolda, Wakapolda, dan Kapolri akan
bersikap bijaksana dalam menyikapi hal ini,” tutupnya.
(Hasanuddingulo)







