Dies Natalis ke-44 Tahun, STIH Jendral Sudirman Lumajang Dorong Transformasi Pendidikan Hukum melalui Bahasa Inggris
Lumajang,kabarnusa24.Com.Senin,8/12/2025.Perguruan tinggi hukum memegang peranan krusial dalam membentuk generasi ahli hukum yang mampu menjawab tantangan zaman, bukan hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, adaptif terhadap teknologi, dan menjunjung tinggi integritas.
Memasuki usia ke-44 tahun, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Jendral Sudirman menegaskan komitmennya untuk bertransformasi menjadi institusi hukum yang adaptif terhadap kemajuan teknologi, globalisasi, serta tuntutan untuk dapat berbahasa Inggris .Acara dies natalis ke -44 sekaligus mewisuda 44 mahasiswa terselenggara di hotel Aston Iin,Jalan Jenderal Sudirman Lumajang.Sabtu,6/12/2025
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Dr. Jati Nugroho,S.H.,Hum. menyampaikan pendidikan tinggi hukum harus memiliki visi yang jauh ke depan, menyesuaikan diri dengan cepatnya perubahan di era digital dan globalisasi.
“Perguruan tinggi hukum memegang peranan krusial dalam membentuk generasi ahli hukum yang mampu menjawab tantangan zaman, bukan hanya memahami teori, tetapi juga memiliki kemampuan analitis, adaptif terhadap teknologi, dan menjunjung tinggi integritas,” ungkap Jati
Menurutnya, salah satu tantangan utama di masa kini adalah revolusi digital. Maraknya kejahatan siber, seperti peretasan, penipuan daring, hingga pelanggaran data pribadi, menuntut pemahaman hukum siber secara mendalam.
“Mahasiswa hukum harus dibekali dengan pengetahuan mengenai regulasi seperti General Data Protection Regulation di Eropa maupun Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, integrasi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), otomasi dalam analisis kontrak, serta pembelajaran melalui e-learning platform dan simulasi sidang virtual harus menjadi bagian dari kurikulum hukum modern. Legal technology, kata dia, bukan lagi wacana masa depan, melainkan kebutuhan hari ini.
Globalisasi, menurut Jati, juga membawa kompleksitas dalam hukum internasional yang harus dijawab oleh institusi hukum melalui pembentukan program studi yang memiliki wawasan global, kerja sama internasional, serta penguatan pemahaman terhadap isu-isu seperti hukum laut, HAM, dan perdagangan.
Selain itu, tumbuhnya ekonomi kreatif dan startup, lanjutnya, menuntut penguasaan hukum kekayaan intelektual, regulasi fintech, hingga persaingan usaha digital. “Tanpa kurikulum yang responsif, program studi hukum akan kesulitan menjawab kebutuhan pelaku bisnis digital,” katanya.
Isu lingkungan dan Environmental, Social, and Governance (ESG) juga menjadi fokus penting. Pendidikan hukum harus mencetak lulusan yang paham regulasi, ungkap Jati
Jati juga menyoroti pentingnya soft skills seperti negosiasi, mediasi, public speaking, serta pemahaman terhadap alternative dispute resolution (ADR). “Critical thinking dan analisis hukum sangat diperlukan untuk menghadapi kompleksitas hukum kontemporer,” tambahnya.
Jati menambahkan kegiatan ini merupakan wujud komitmen STIH Jenderal Sudirman Lumajang dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten di bidang hukum dan siap memberikan kontribusi positif dalam masyarakat dan bangsa. Informasi terkait detil acara dan pelaksanaannya dapat ditemukan melalui berbagai sumber berita dan media sosial resmi STIH Jenderal Sudirman Lumajang.
“STIH mengadakan Dies Natalis dan Wisuda, semua sama, Dies Natalis 44 dan Wisudawan 44,”tandas Jati
“Harapan Jati STIH semakin kuat, kokoh dan mantap untuk di kemudian hari. Kemudian untuk langkah berikutnya kami memang selain berbahagia dengan acara ini, juga menyambut untuk akriditasi. Seminggu yang lalu kita akriditasi, harapan kami STIH baik sekali, baik institusi maupun prodi. Setelah itu kami akan melesat dengan kegiatan-kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat”, tandas Jati.
Jati menambahkan, “Lulusan STIH harus mampu mempunyai softskill empat hal yaitu “Pertama, bidang pendidikan dan pengajaran, mereka harus paham mengenai hukum. Kemudian dalam penelitian mereka jadi peneliti, dan pembuat jurnal. Kemudian dalam pengabdian masyarakat, mereka harus berani terjun untuk kegiatan masyarakat dalam membela hukum dan kebenaran. Yang terakhir adalah, masteran hukum STIH harus berani untuk omong bahasa inggris”, ungkap Jati
Panitia Dies Natalis sekaligus wisudawan Pudholi Sandra mengucapkankan bahwa “Alhamdulillah, acara dies natalis sekaligus wisuda berjalan dengan,baik , lancar tidak ada kendala sedikit pun , jadi sesuai yang kita harapkan”,tandas Pudholi
“Pembeda wisuda yang terdahulu dengan yang sekarang adalah terdahulu tidak sebanyak hari ini ke dua momennya memang kita sesuaikan dengan dies natalis yaitu yang ke -44 dan Alhamdulillah sesuai hari ini yang wisuda 44 wisudawan”tambah Pudho
Kita berharap minimal harus 70 an yang wisuda , ternyata hanya 44 mahasiswa dan mahasiswi yang ada. Harapan saya tentunya semoga mereka bisa menggunakan ilmunya dengan sebaik- baiknya dan semoga ilmunya bermanfaat buat kehidupan mereka , lebih-lebih bagaimana kemudian jika mereka di takdirkan oleh Allah sebagai penegak hukum ,menhadi penegak hukum yang adil ,yang jujur dan tentunya yang bermartabat,” ungkap Pudholi Sandra.(D.S)







