CIMAHI- Pemkot Cimahi menegaskan kesiapan penuh menyambut pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS), sebagai upaya memotret ulang kondisi perekonomian nasional secara komprehensif.
Sensus yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali ini akan menghimpun data seluruh pelaku usaha di Indonesia, kecuali sektor pertanian untuk memastikan arah pembangunan ekonomi tersusun berdasarkan informasi akurat dan terkini.
Pelaksanaan SE2026 menjadi penting karena perubahan struktur ekonomi di berbagai daerah, termasuk Kota Cimahi, menunjukkan dinamika yang semakin cepat.
Dengan basis data yang lebih mutakhir, pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong kebijakan yang lebih tepat sasaran, terutama dalam menghadapi tantangan investasi, daya saing UMKM, hingga transformasi industri manufaktur.
Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira menilai, SE2026 bukan hanya agenda rutin nasional, melainkan fondasi strategis dalam merumuskan arah pembangunan ekonomi daerah.
“Ini harus kita sambut baik dan mutlak dikolaborasikan dengan Pemkot Cimahi, karena data yang dihasilkan dari sebuah proses sensus ini adalah data yang komprehensif,” ungkapnya,
Adhitia menjelaskan, data hasil sensus akan menjadi leading reference bagi pemerintah dalam mengambil keputusan strategis.
“Buat kami sebagai pemangku kebijakan, ini akan menjadi tujuan utama dalam proses pengambilan keputusan atau pengambilan kebijakan perekonomian Pemkot Cimahi ke depan,” katanya.
Menururnya, BPS telah menekankan SE2026 sebagai sensus yang secara khusus dilaksanakan pada tahun berakhiran enam. Mengingat sensus terakhir dilakukan pada 2016, pembaruan data dianggap sangat mendesak.
“Khusus yang berujung angka 6 itu adalah sensus ekonomi,” sebutnya.
Adhitia menambahkan, salah satu fokus pemerintah daerah saat ini adalah membuka peluang investasi baru di Kota Cimahi. Dinamika tersebut menurutnya, hanya dapat teridentifikasi secara akurat melalui hasil sensus.
“Saat ini kami sedang berharap ada sebuah menu baru dalam berinvestasi di Kota Cimahi. Ini akan tercapture seandainya proses sensus ini berhasil dilaksanakan,” terangnya.
Karena itu, ia menyerukan seluruh perangkat daerah untuk mengambil peran aktif dalam menyukseskan agenda nasional tersebut.
“Saya mengimbau kepada seluruh OPD di Pemkot Cimahi agar mensukseskan program BPS RI yaitu Sensus Ekonomi 2026 yang Insya Allah akan diselenggarakan pada bulan Mei sampai Juli 2026,” ujarnya.
Juga Katalisator Pembangunan
Dalam konteks Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Adhitia menyebut bahwa struktur ekonomi Kota Cimahi hingga saat ini masih ditopang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sekitar 44 persen. Mayoritas berasal dari industri tekstil serta manufaktur.
Namun, ia mempertanyakan apakah porsi tersebut masih mencerminkan kondisi terkini perekonomian Cimahi.
“Ini yang nanti akan kita lihat, masih relevan tidak industri manufaktur di Kota Cimahi ini. Sedangkan kita lihat selama ini yang menjadi tulang punggung perekonomian Kota Cimahi itu justru di sektor UMKM dan ekonomi kreatif (ekraf),” bebernya.
Konstelasi ekonomi lokal menunjukkan bahwa UMKM dan ekraf terus memperluas kontribusi, baik dari sisi serapan tenaga kerja maupun inovasi produk. Perubahan perilaku pasar pascapandemi juga turut memengaruhi akselerasi sektor-sektor berbasis kreativitas.
Menjawab pertanyaan mengenai inovasi ekonomi kreatif, Adhitia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga sektor UMKM dan ekraf sebagai kekuatan utama Kota Cimahi.
“Kalau bicara soal UMKM dan ekraf, sampai hari ini Pemkot Cimahi masih mengimani bahwa sektor ekraf dan UMKM adalah andalan bagi Kota Cimahi,” ucapnya. ***
Ia menuturkan beragam program peningkatan kapasitas terus dilanjutkan mulai dari business matching, upscaling UMKM, hingga penguatan ekosistem usaha.
“Program-program yang disajikan, baik dari sisi business matching maupun upscaling UMKM, terus kami lakukan sebagaimana ada di dalam program unggulan Pak Wali dan saya sampai dengan 2030,” pungkasnya. ***Fajar







