Tapanuli Tengah —Kabarnusa24.com) Gelombang banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Tengah memunculkan kontras tajam antara pejabat yang bekerja total dan pejabat yang dinilai tidak menjalankan tanggung jawab. Di tengah situasi darurat, Camat Sirandorung menjadi sorotan positif masyarakat setelah tetap memilih mengutamakan tugas meskipun rumahnya sendiri terdampak banjir di Sibuluan Indah.selasa,9/12/2025)
Menurut kesaksian warga, Camat Sirandorung langsung turun ke lapangan pada hari-hari awal bencana, serta menjemput logistik ke Pandan untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi. “Rumahnya kebanjiran, tapi beliau tidak meninggalkan masyarakat. Itu baru pemimpin,” ujar seorang warga Sirandorung.
Sementara itu, situasi berbeda terjadi di Kecamatan Pandan. Warga mengeluhkan absennya Camat Pandan dan Lurah Pasar Baru di tengah kondisi darurat. Padahal, wilayah Pandan merupakan salah satu kawasan terdampak cukup parah, termasuk Kelurahan Pasar Baru, Perdagangan, dan area Kalangan yang mengalami longsor. Dua rumah milik warga bahkan rata dengan tanah di belakang SMA Matauli.
Meski tinggal dan berkantor di Pandan, Camat Pandan disebut tidak tampak turun langsung membantu warga. Lurah Pasar Baru, yang warganya mayoritas terdampak banjir, juga dinilai tidak menunjukkan kehadiran di lapangan.
Kondisi ini menuai kritik keras dari DPRD Tapanuli Tengah. Ketua Fraksi PDIP DPRD Tapteng, Famoni Gulo, menilai ketidakhadiran pejabat di kecamatan dan kelurahan saat masyarakat membutuhkan adalah bentuk kelalaian serius.
“Camat Pandan tinggal di Pandan, kantornya pun di Pandan. Tapi saat warganya kesusahan, ia tidak turun ke lapangan. Warga Pasar Baru, Perdagangan, dan Kalangan butuh pemimpin yang hadir. Lurah Pasar Baru juga tidak terlihat. Ini tidak boleh dibiarkan,” tegas Famoni Gulo.
Ia meminta Bupati Tapanuli Tengah bertindak tegas terhadap pejabat yang dianggap tidak menjalankan tugas, termasuk opsi pencopotan jabatan.
“Tolong Pak Bupati segera evaluasi dan copot pejabat yang tidak bekerja. Jangan sampai pemerintah terlambat bertindak, lalu masyarakat turun tangan sendiri seperti peristiwa penjarahan kemarin. Kita harus menjaga situasi tetap kondusif,” ujar Famoni.
Politisi PDIP tersebut juga menyinggung langkah Pemerintah Kota Sibolga yang sebelumnya mencopot lurah tidak aktif dalam penanganan banjir. Ia menilai langkah serupa penting diterapkan di Tapanuli Tengah agar menjadi alarm bagi pejabat lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mempercepat penanganan bencana, memperkuat koordinasi antarinstansi, dan memastikan seluruh jajaran kecamatan serta kelurahan bekerja maksimal. Di tengah bencana besar seperti ini, kehadiran pemimpin di lapangan dinilai jauh lebih penting dibanding laporan di balik meja,tutupnya.
(Hasanuddingulo)







