Lopian, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara –KABARNUSA24.COM) Di tengah ancaman banjir setiap kali hujan deras mengguyur, warga Lopian terpaksa turun tangan sendiri membersihkan tumpukan kayu yang menyumbat parit di depan rumah mereka. Ironisnya, pekerjaan berat itu justru dilakukan oleh para ibu-ibu karena tak kunjung ada bantuan alat berat dari pemerintah daerah.
Tumpukan kayu besar memenuhi saluran air dan mengancam keselamatan rumah warga. Namun hingga kini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dinilai abai terhadap kondisi tersebut. Warga menyebut alat berat sebenarnya berada tak jauh dari lokasi, tetapi penggunaannya dipertanyakan.jumat.27/2/2026)
Seorang warga, Nelli Mendrofa, secara terbuka menyampaikan kekecewaannya kepada awak media.
“Alat berat ada di sekitar sini, Pak. Tapi yang diambil hanya kayu-kayu yang bagus, yang ‘cantik’, untuk diolah jadi bisnis. Parit kami yang tersumbat ini dibiarkan,” tegasnya.
Menurut warga, ketika pejabat pusat datang berkunjung, pemerintah daerah terlihat sigap dan aktif tampil di media sosial. Namun saat masyarakat membutuhkan bantuan konkret, respons tersebut dinilai tidak ada.
“Kalau ada kunjungan pejabat dari pusat, langsung tampil di Facebook, didampingi bupati. Tapi saat kami butuh alat berat supaya rumah kami bisa aman dan kembali dihuni, entah di mana pemerintah. Ada satu alat pun, hanya ambil kayu cantik untuk bisnis,” lanjutnya dengan nada kecewa.
Kondisi ini memunculkan dugaan di tengah masyarakat bahwa prioritas penggunaan alat berat bukan untuk kepentingan keselamatan warga, melainkan untuk kepentingan lain yang menguntungkan pihak tertentu.
Lebih memprihatinkan lagi, awak media yang berupaya melakukan konfirmasi langsung kepada pihak Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah terpaksa mengurungkan niat. Hal ini mengingat pernah terjadi insiden pemukulan terhadap wartawan yang hendak melakukan konfirmasi hingga mengalami luka-luka.
Konfirmasi akhirnya dilakukan melalui pesan WhatsApp kepada Bupati Tapanuli Tengah. Namun hingga berita ini diterbitkan, tidak ada jawaban maupun klarifikasi resmi yang diberikan.
Warga Lopian kini hanya bisa berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar pencitraan. Mereka menuntut transparansi dan keberpihakan pemerintah daerah terhadap keselamatan masyarakat, bukan pembiaran yang terus berulang setiap musim hujan datang,tutupnya.
(Hasanuddingulo)







