Religi

Hikmah Dzikirullah dan Berdoa yang Terlupakan di Tengah Krisis

26
×

Hikmah Dzikirullah dan Berdoa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Sebarkan artikel ini
Hikmah Dzikirullah dan Berdoa yang Terlupakan di Tengah Krisis

Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)

Kabarnusa24.com,- Ada satu jenis kelelahan yang tidak tampak di wajah, tetapi terasa di kedalaman jiwa. Ia tidak membuat tubuh rebah, tetapi membuat hidup kehilangan arah (disorientasi eksistensial). Ia tidak selalu disadari, tetapi diam-diam merusak makna hidup. Itulah kelelahan hati.

Hari ini, manusia modern hidup dalam kemajuan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi berkembang, akses informasi melimpah, mobilitas semakin mudah. Namun, di balik semua itu, tersimpan ironi yang sulit disangkal, yaitu semakin maju dunia, semakin rapuh jiwa manusia.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial, kompetisi hidup, dan tuntutan eksistensi, banyak manusia, termasuk kaum muslimin, mengalami kegelisahan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Generasi muda muslim hari ini adalah generasi yang paling terkoneksi, tetapi sekaligus paling kesepian. Mereka memiliki banyak teman di dunia digital, tetapi kehilangan kedalaman relasi di dunia nyata.

Mereka memiliki banyak pilihan, tetapi justru bingung menentukan arah. Mereka memiliki akses luas terhadap ilmu, tetapi sering kehilangan hikmah. Inilah paradoks zaman.

Dalam situasi seperti ini, sebuah doa sederhana yang sering terucap tanpa penghayatan sejatinya menyimpan kedalaman makna yang luar biasa:

اللَّهُمَّ إِنْ ضَعُفَتْ قُلُوبُنَا فَقَوِّهَا بِذِكْرِكَ، وَإِنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُنَا فَاغْسِلْهَا بِعَفْوِكَ، وَإِنْ ضَاقَتْ دُنْيَانَا فَوَسِّعْهَا بِرَحْمَتِكَ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رِزْقٍ لَا تُغْلَقُ، وَفَرَجٍ لَا يَتَأَخَّرُ، وَخَيْرٍ لَا يَنْقَطِعُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ إِذَا ضَاقَتْ بِهِ الدُّنْيَا اتَّسَعَتْ بِهِ رَحْمَتُكَ، وَإِذَا اسْتُثْقِلَتْ بِهِ الْهُمُومُ رَفَعْتَهَا عَنَّا بِلُطْفِكَ

“Ya Allah, jika hati kami melemah, maka kuatkanlah dengan mengingat-Mu. Jika dosa-dosa kami banyak, maka bersihkanlah dengan ampunan-Mu. Jika dunia kami terasa sempit, maka lapangkanlah dengan rahmat-Mu. Ya Allah, bukakanlah bagi kami pintu-pintu rezeki yang tidak tertutup, kelapangan yang tidak tertunda, dan kebaikan yang tidak terputus. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang ketika dunia terasa sempit baginya, maka rahmat-Mu melapangkannya; dan ketika beban-beban hidup terasa berat, Engkau angkat semua itu dari kami dengan kelembutan-Mu.”

Doa ini bukan sekadar untaian kalimat spiritual. Ia adalah cermin dari realitas manusia. Ia menggambarkan tiga kondisi fundamental, yakni hati yang melemah, dosa yang menumpuk, dan dunia yang terasa sempit. Dan menariknya, ketiganya adalah wajah dari krisis manusia modern hari ini.

Alquran sejak awal telah menegaskan bahwa pusat kehidupan manusia bukanlah sekadar akal atau tubuh, melainkan hati. Dalam satu ayat yang sangat mendalam, Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Ayat ini bukan sekadar anjuran dzikir, tetapi sebuah deklarasi ontologis tentang hakikat ketenangan manusia.

Imam Abu Ja‘far at-Thabari dalam Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an menjelaskan bahwa hati manusia tidak akan pernah mencapai ketenangan sejati kecuali dengan mengenal dan mengingat Allah. Segala bentuk ketenangan yang bersumber dari selain itu hanyalah sementara dan rapuh.

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim menegaskan bahwa dzikir kepada Allah adalah “غِذَاءُ الْقُلُوبِ”—“makanan hati”. Tanpa dzikir, hati akan lapar, dan kelaparan itu tidak selalu terasa secara fisik, tetapi akan tampak dalam bentuk kegelisahan, kecemasan, dan kekosongan makna.

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa ayat ini adalah dalil bahwa ketenangan hati bukanlah fenomena material, tetapi spiritual.

Artinya, tidak peduli seberapa besar kekayaan, jabatan, atau pencapaian seseorang, jika hatinya tidak terhubung dengan Allah, ia akan tetap gelisah.

Inilah yang kita saksikan hari ini. Banyak manusia memiliki segalanya, tetapi kehilangan ketenangan. Mereka memiliki rumah yang besar, tetapi hati yang sempit. Mereka memiliki akses ke dunia, tetapi kehilangan arah menuju akhirat.

Rasulullah SAW, manusia paling mulia dan paling dekat dengan Allah, menunjukkan betapa rapuhnya hati manusia. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Ahmad, beliau berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Hadis ini menjadi sangat penting, karena menunjukkan bahwa bahkan hati seorang Nabi pun membutuhkan penjagaan dari Allah. Dalam riwayat lain yang sahih, Rasulullah SAW bersabda bahwa hati manusia berada di antara dua jari dari “jari-jari” Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. (HR Muslim).

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan betapa cepatnya hati berubah, dan betapa manusia sangat membutuhkan pertolongan Allah untuk menjaga keteguhan iman.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa istiqamah bukanlah hasil usaha semata, tetapi karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menggambarkan hati sebagai raja dalam diri manusia. Jika raja itu baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh kehidupan akan rusak. Oleh karena itu, perbaikan hidup tidak bisa dimulai dari luar, tetapi harus dimulai dari dalam—dari hati.

Dalam konteks ini, doa yang kita sebutkan di awal menjadi sangat relevan. Ia dimulai dengan pengakuan: “Jika hati kami lemah…” Tentu ini adalah kesadaran yang sangat penting. Sebab, banyak manusia hari ini tidak menyadari bahwa masalah utama mereka bukanlah kurangnya fasilitas, tetapi lemahnya hati.

Ketika doa itu dilanjutkan: “Jika dosa kami banyak, maka bersihkan dengan ampunan-Mu…”, ia mengajak kita melihat dimensi lain dari krisis manusia, yaitu dosa. Alquran dengan tegas mengaitkan kerusakan kehidupan manusia dengan perbuatan mereka sendiri:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Imam at-Thabari menjelaskan bahwa “fasad” dalam ayat ini mencakup kerusakan fisik dan moral, termasuk kegelisahan dan penderitaan batin.

Ibn al-Qayyim dalam Ad-Da’ wa ad-Dawa’ menjelaskan bahwa dosa memiliki efek langsung terhadap hati, seperti racun yang merusak tubuh. Ia menyebutkan bahwa salah satu dampak dosa adalah “ضِيقُ الصَّدْرِ” (kesempitan dada).

Konsep ini sangat menarik jika kita kaitkan dengan fenomena psikologis modern. Banyak orang mengalami kecemasan, depresi, dan kehilangan makna, tetapi tidak menyadari bahwa sebagian dari itu adalah akibat dari kehidupan yang jauh dari Allah.

Bukan berarti semua gangguan psikologis adalah akibat dosa, tetapi dalam perspektif Islam, dimensi spiritual tidak bisa diabaikan.

Doa tersebut kemudian dilanjutkan: “Jika dunia kami sempit, maka lapangkan dengan rahmat-Mu.” Ini adalah pengakuan bahwa kesempitan hidup bukan hanya soal ekonomi atau kondisi eksternal, tetapi juga kondisi batin.

Alquran memberikan janji yang luar biasa:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Ibn ‘Ashur dalam At-Tahrir wa al-Tanwir menjelaskan bahwa “makhraj” dalam ayat ini tidak hanya berarti solusi konkret, tetapi juga kelapangan batin dan ketenangan jiwa.

Artinya, orang yang bertakwa tidak hanya diberi jalan keluar secara eksternal, tetapi juga diberi kekuatan untuk menghadapi kehidupan secara internal.

Di sinilah relevansi doa ini dengan kondisi generasi muda muslim hari ini menjadi sangat kuat. Mereka hidup dalam dunia yang penuh tekanan. Standar hidup semakin tinggi, ekspektasi sosial semakin besar, dan perbandingan diri dengan orang lain semakin intens melalui media sosial.

Banyak di antara mereka mengalami apa yang disebut dalam psikologi sebagai “existential anxiety” (kecemasan eksistensial).

Mereka bertanya untuk apa hidup ini? Apa makna dari semua yang saya lakukan? Mengapa saya tetap merasa kosong meskipun telah mencapai banyak hal?

Dalam Islam, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa hati sedang mencari arah. Namun, jika tidak diarahkan kepada Allah, pencarian ini bisa berujung pada keputusasaan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa hati manusia membutuhkan hubungan yang terus-menerus dengan Allah. Dzikir bukan sekadar ritual, tetapi kebutuhan eksistensial. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi sarana untuk menghubungkan diri dengan sumber kekuatan sejati.

Maka ketika doa itu memohon: “Bukakanlah bagi kami pintu rezeki yang tidak tertutup, kelapangan yang tidak tertunda, dan kebaikan yang tidak terputus…”, ia sebenarnya mengajarkan optimisme teologis. Bahwa hidup ini tidak berhenti pada kesulitan, dan bahwa Allah selalu memiliki jalan keluar bagi hamba-Nya.

Dan ketika doa itu diakhiri dengan permohonan keselamatan dari neraka, kesembuhan bagi yang sakit, dan rahmat bagi yang telah wafat, ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada dunia ini. Ada dimensi akhirat yang harus selalu hadir dalam kesadaran kita.

Barangkali, masalah terbesar manusia hari ini bukanlah kurangnya ilmu, bukan pula kurangnya teknologi, tetapi hilangnya koneksi dengan Allah.

Kita terlalu sibuk memperbaiki dunia luar, tetapi lupa memperbaiki dunia dalam. Padahal, satu hati yang kuat dapat menghadapi berbagai ujian kehidupan. Dan satu hati yang lemah, meskipun dikelilingi oleh kemewahan, akan tetap merasa gelisah.

Maka doa itu seharusnya tidak lagi kita baca sebagai rutinitas, tetapi sebagai kesadaran bahwa kita lemah, dan membutuhkan Allah, bahwa kita berdosa, dan membutuhkan ampunan-Nya, bahwa hidup ini sempit, dan membutuhkan rahmat-Nya.

Di sanalah, mungkin, kita akan menemukan kembali sesuatu yang telah lama hilang, yaitu “ketenangan hati”.

(Red)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin