Indramayu, Kabarnusa24.com Pemerintah Kabupaten Indramayu mulai mempercepat pengembangan sektor industri, energi, dan infrastruktur guna memperkuat daya saing daerah dalam menarik investasi di Kawasan Rebana.
Di tengah pesatnya perkembangan sejumlah wilayah lain di Rebana, Indramayu berupaya memaksimalkan potensi sektor energi dan pertanian sebagai kekuatan utama pembangunan daerah.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, mengatakan daerahnya memiliki dua keunggulan strategis yang menjadi penopang utama pembangunan, yakni keberadaan Kilang Balongan dan kawasan pertanian yang luas.
Menurutnya, dua sektor tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat posisi Indramayu di kawasan industri Jawa Barat bagian utara.
“Indramayu tidak hanya berbicara industri manufaktur, tetapi juga energi dan ketahanan pangan. Ini yang sedang kami dorong agar bisa saling menopang,” ujar Lucky.
Kawasan Rebana sendiri merupakan wilayah pengembangan ekonomi baru di Jawa Barat yang mencakup tujuh daerah, termasuk Kabupaten Indramayu. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan industri baru di luar kawasan metropolitan Bandung dan Bekasi-Karawang.
Untuk mendukung arah pembangunan tersebut, Pemkab Indramayu telah menetapkan Kawasan Peruntukan Industri (KPI) seluas 14.110 hektare melalui Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2024 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2024–2044.
Dari total luasan tersebut, sekitar 3.340 hektare telah dimanfaatkan untuk kegiatan industri, sementara sisanya masih tersedia bagi pengembangan investasi baru. Pemerintah daerah menilai ketersediaan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan investasi antardaerah di Kawasan Rebana.
Sejumlah wilayah seperti Subang dan Majalengka lebih dahulu berkembang karena didukung akses jalan tol dan proyek strategis nasional. Sementara itu, Indramayu masih menghadapi tantangan konektivitas wilayah.
Karena itu, pembangunan Jalan Tol Indramayu–Kertajati (Indrajati) mulai didorong sebagai proyek prioritas untuk mempercepat akses menuju Bandara Kertajati sekaligus menghubungkan kawasan industri dengan jalur logistik nasional.
“Selama ini keterbatasan akses menuju ruas Tol Cipali menjadi hambatan distribusi barang dan mobilitas tenaga kerja dari Indramayu menuju pusat industri lain di Rebana,” kata Lucky.
Selain infrastruktur, sektor energi juga diposisikan sebagai daya tarik utama investasi daerah. Keberadaan Kilang Balongan dinilai strategis karena tidak hanya menjadi pemasok energi nasional, tetapi juga memiliki potensi besar untuk pengembangan industri petrokimia dan hilirisasi energi.
Pemkab Indramayu pun mulai mengarahkan pengembangan kawasan industri sesuai karakter wilayah masing-masing. Kecamatan Losarang diproyeksikan untuk industri umum, Balongan untuk sektor energi dan petrokimia, sedangkan Krangkeng diarahkan menjadi sentra industri alas kaki.
Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan pengembangan industri tidak akan menggeser sektor pertanian yang selama ini menjadi basis ekonomi masyarakat. Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dipastikan tetap dipertahankan.
Lucky menilai keseimbangan antara industrialisasi dan ketahanan pangan menjadi tantangan utama pembangunan Indramayu ke depan.
“Pertumbuhan industri tetap harus berjalan beriringan dengan perlindungan pertanian,” ujarnya.







