DaerahKetahanan Pangan

Produktivitas Padi di Juntinyuat Tembus 13,92 Ton per Hektare, Hampir Dua Kali Lipat Rata-Rata

6
×

Produktivitas Padi di Juntinyuat Tembus 13,92 Ton per Hektare, Hampir Dua Kali Lipat Rata-Rata

Sebarkan artikel ini
Produktivitas Padi di Juntinyuat Tembus 13,92 Ton per Hektare, Hampir Dua Kali Lipat Rata-Rata

 

Indramayu, Kabarnusa24.com

Produktivitas padi di wilayah Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, menunjukkan lonjakan signifikan menjelang panen raya.

Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan di Blok Buyut Kunir, Desa Juntikedokan, Senin (11/5/2026), estimasi hasil panen mencapai 13,92 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP). Angka tersebut jauh melampaui rata-rata produksi setempat yang berada di kisaran 7,7 ton per hektare.

Camat Juntinyuat, Ali Alamudin, mengatakan angka tersebut diperoleh melalui metode ubinan dengan pengambilan sampel lahan berukuran 2,5 x 2,5 meter. Dari sampel itu, hasil timbangan mencapai 8,7 kilogram yang kemudian dikonversikan ke skala hektare.

“Hasil ubinan ini menjadi acuan awal untuk melihat potensi panen secara lebih akurat. Dari data yang ada, produktivitasnya cukup tinggi dibandingkan rata-rata wilayah,” kata Ali.

Ia menjelaskan, selain sebagai alat ukur produksi, ubinan juga berfungsi sebagai bahan evaluasi dalam meningkatkan kinerja sektor pertanian, khususnya menjelang panen raya yang diperkirakan berlangsung dalam waktu dekat.

Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan kondisi tanaman yang optimal di lapangan. Hal itu terlihat dari jumlah rumpun sebanyak 56 dengan kisaran anakan antara 50 hingga 60 per rumpun, serta seluruh malai terisi penuh dan produktif.

“Ini menunjukkan kondisi pertumbuhan tanaman cukup baik dan berpotensi menghasilkan panen maksimal,” ujarnya.

Kepala UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan Kecamatan Juntinyuat, Rido Mardianto, menegaskan data ubinan memiliki peran strategis dalam penyusunan kebijakan pertanian berbasis data.

“Data ini penting sebagai pijakan dalam merumuskan langkah strategis ke depan, baik untuk peningkatan produksi maupun efisiensi budidaya,” kata Rido.

Ia menambahkan, capaian produktivitas di atas 13 ton per hektare tergolong tinggi dan dapat menjadi referensi bagi wilayah lain dalam upaya meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan.

Dari sisi teknis budidaya, hasil tersebut didukung penggunaan varietas padi Ciherang Cap Beruang serta pemanfaatan pupuk hayati cair bantuan pemerintah, yakni Extragen. Kombinasi itu dinilai mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendorong pertumbuhan anakan secara optimal.

Ketua Kelompok Tani Srikandi Desa Juntikedokan, H. Warnidi, mengatakan pemupukan dilakukan secara bertahap, dimulai sebelum tanam, dilanjutkan pada fase awal pertumbuhan, dan diakhiri dengan pemupukan tabur.

“Pupuk diberikan minimal dua kali, sebelum tanam dan saat awal pertumbuhan. Setelah itu dilanjutkan pemupukan tabur untuk menjaga produktivitas tanaman,” ujarnya.

Menurut Warnidi, dukungan pemerintah serta pendampingan petugas lapangan turut berperan dalam meningkatkan hasil panen. Ia berharap capaian tersebut diikuti dengan stabilitas harga gabah di tingkat petani.

“Kalau hasilnya bagus, kami berharap harga juga ikut mendukung supaya petani bisa lebih sejahtera,” katanya.

Sebagai perbandingan, rata-rata produksi padi di wilayah sekitar masih berada di angka 7,7 ton per hektare. Dengan demikian, hasil ubinan di Desa Juntikedokan menunjukkan peningkatan hampir dua kali lipat.

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian daerah, terutama dalam mendukung ketahanan pangan serta menjaga pasokan beras di tengah dinamika produksi nasional.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin