Nasional

Bandung Diujung Tanduk, Krisis Komando Sekda Fungsi OPD Ketika Birokrasi Tanpa Greget

21
×

Bandung Diujung Tanduk, Krisis Komando Sekda Fungsi OPD Ketika Birokrasi Tanpa Greget

Sebarkan artikel ini
Bandung Diujung Tanduk, Krisis Komando Sekda Fungsi OPD Ketika Birokrasi Tanpa Greget

Oleh : Pengamat Kebijakan Publik dan Politik R.Wempy Syamkarya,S.H.M.H.

Analisis Tata Kelola Pemerintahan Kota Bandung & Gagasan Reformasi Internal OPD

Bandung, 2 Mei 2026

I. DIAGNOSA MASALAH :
SEKDA TIDAK MENGGIGIT, OPD BERJALAN SENDIRI”

Hasil analisis + pengamatan lapangan menunjukkan 3 penyakit birokrasi Kota Bandung :

1. Anomali Alur Komando*
Teori birokrasi Weber + UU 23/2014 Pasal 124:

Sekda = Koordinator OPD + Pimpinan Administrasi”
Tugasnya : sinkronisasi, pengendalian, evaluasi.

*Fakta Bandung*: OPD / Kadis berani bikin kebijakan / terobosan “di luar harapan Sekda”. Ini chaos of command, Ibarat kapal: nahkoda di anjungan, anak buah setor sendiri- sendiri. Hasilnya ? Tabrak karang.

2. Defisit” Greget Pimpinan Administrasi”.

“Greget = agresifitas, keberanian menegur, kemampuan dorong inovasi. Sekda yang baik harus jadi” Chief Operating Officer Pemkot.

*Fakta Bandung* : Sekda kurang input + dorongan ke OPD. Akibatnya OPD kerja rutin- rutin saja. Visi Walikota Bandung Unggulnggak turun jadi SOP teknis di Dinas.

3. Risiko Sistemik
“Bandung Bisa Hancur” Kalau dibiarin :
1. Program tumpang tindih: Dinsos bikin bantuan A, Disnaker bikin bantuan B, sasarannya sama APBD bocor.

2. Kebijakan ngawur :
Kadis bikin Perwal teknis yang bertentangan dengan visi sekda/Walikota. Kepastian hukum rusak.

3. Kinerja anjlok : Indeks SPM Bandung turun, pengaduan SP4N-Lapor naik, investasi kabur karena perizinan nggak sinkron.

Argumentasi : Teori
Administrative Leadership Riggs : Lemahnya pimpinan administrasi = hancurnya efektivitas negara.
Bandung punya APBD hampir 8T tapi tanpa komando Sekda yang kuat = uang rakyat Mubazir.

II. GAGASAN + IDE UNTUK CIPTAKAN PELUANG LEBIH BAGUS

Kami tawarkan “5 Jurus Menggigit Sekda” biar OPD lurus + Bandung selamat :

1. “Sistem Komando Sekda 3S: Sinkron – Setir-Sidak”

1. Sinkron : Tiap Seninpagi” Rapat Komando Sekda “30 menit
Semua Kadis lapor 3 hal : target Minggu ini, kendala, anggaran dipakai’. Dipimpin Sekda langsung, bukan Asisten.

2. Setir : Sekda wajib tanda tangan ” Nota Penugasan” tiap program > Rp 5 Miliar.
Nggak ada tanda tangan Sekda = nggak boleh jalan. Ini jaga OPD nggak jalan sendiri.

3. Sidak : Sekda 2X / bulan sidak mendadak ke lapangan ke Puskesmas, ke pasar ke proyek Hasil sidak = bahan evaluasi Kadis Ini gereget”.

2. Kontrak Kinerja Kadis Berbasis Hasil, Bukan Kegiatan Ganti SKP model lama. Kontrak Kadis isinya :
“Tahun ini angka stunting turun 2% jalan rusak turun 15%, perizinan7 hari” Kalau gagal 2 tahun berturut= rotasi / demosi.
UU ASN Pasal 87 ini dorong OPD berinovasi.

3. War Room Bandung : Dashboard APBD Real – Time
Bikin ruang komando di Balaikota. Layar besar : Progres 100 program OPD, serapan anggaran, pengaduan warga, Sekda + Walikota lihat tiap hari.
Transparansi ini paksa OPD kerja. Amanat UU 14/2008 KIP .

4. Sekda Jadi Mentor Buka. polisi
Sekda agendakan “Klinik kebijakan” 1X /bulan. Kadis bawa masalah, Sekda + ahli Undang kampus ITB / UNPAD kasih solusi. OPD didorong, bukan ditakut- takuti. Ini ciptakan inovasidari bawah tapi tetap dalam koridor Sekda.

5. DPRD Komisi A Jadi Mitra Pengawas

DPRD jangan cuma bahas APBD Minta laporan

“Evaluasi Komando Sekda” tiap 6 bulan. Kalau sekda gagal kendalikan OPD = DPRD pakai hak interpelasi. Ini check & balance.

III. PERAN PIHAK : SIAPA NGAPAIN?

1. Walikota Bandung: kasih mandat politik penuh ke Sekda. Kalau Sekda tegur Kadis, Walikota backing.
2. Jangan ada Kadis “anak emas” yang nggak bisa disentuh .

2. Sekda Kota Bandung :

Berubah dari “sekretaris” jadi CEO Pemkot” Agresif, teknokratis berani ambil keputusan Ini amanat PP 18/2026.

3. OPD/Kadis : Sadar diri.

Bawahan = pimpinan.Inovasi boleh, tapi harus “sesuai koridor ” dan melapor Sekda. AJangan jadi kerajaan kecil”.

4. DPRD Kota Bandung

Komisi A awasi fungsi Sekda, Panggil Sekda tiap reses : Pak, OPD mana yang bandel? Jangan diam.

IV. PENUTUP : BANDUNG BUTUH SEKDA SINGA, BUKAN SEKDA KUCING

CATATAN PENTING

*Bandung itu “otak kreatif Indonesia” Paris van Java nggak boleh mati karena birokrasi loyo.

Sekda yang agresif + nyawa Pemkot. Kalau Sekda “loyo” OPD liar, maka APBD Rp ±8T cuma bagi bagi proyek”.

Kami serukan, Pak Walikota pilih Sekda yang ngegigit, Pak Sekda tunjukan gereget. Pak Sedang tunjukan greget. Pak Kadis, luruskan barisan.

Bandung bisa hancur kalau pimpinan administrasi tidur. Bandung akan bangkit Kalau Komando Sekda jalan. “Bandung Juara dimulai dari Sekda Juara” :

Demikian rilis eksklusif, ini Akademis, sebagai bentuk wujud kecintaan pada Pemerintah Kota Bandung.

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin