Daerah

GENERASI ANAK-ANAK BANGSA YANG NYARIS TERBENGKALAI Ketua SBNI Jawa Barat Soroti Berbagai Kendala Program Sekolah Maung Jabar 2026/2027, Pemerataan Pendidikan Dinilai Harus Menjadi Prioritas

2
×

GENERASI ANAK-ANAK BANGSA YANG NYARIS TERBENGKALAI Ketua SBNI Jawa Barat Soroti Berbagai Kendala Program Sekolah Maung Jabar 2026/2027, Pemerataan Pendidikan Dinilai Harus Menjadi Prioritas

Sebarkan artikel ini
GENERASI ANAK-ANAK BANGSA YANG NYARIS TERBENGKALAI Ketua SBNI Jawa Barat Soroti Berbagai Kendala Program Sekolah Maung Jabar 2026/2027, Pemerataan Pendidikan Dinilai Harus Menjadi Prioritas

Kabarnusa24.com

Bandung, 6 juli 2026 –  Serikat Buruh Nasionalis Indonesia (SBNI) Jawa Barat, Yadi Suryadi, menyampaikan hasil temuan dan kajiannya terhadap pelaksanaan Program Sekolah Maung (Manusia Unggul) Jawa Barat tahun ajaran 2026/2027. Menurutnya, program yang bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan yang perlu segera dievaluasi agar tidak menimbulkan kesenjangan pendidikan yang semakin lebar.

 

Yadi Suryadi menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan untuk menolak program peningkatan mutu pendidikan, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar seluruh anak di Jawa Barat memperoleh hak pendidikan yang adil dan merata.

 

Hadirnya sekolah unggulan merupakan langkah yang baik. Namun jangan sampai keberhasilan segelintir sekolah justru membuat sekolah lainnya semakin tertinggal. Pendidikan harus memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anak bangsa, ujar Yadi Suryadi.

 

.Ketimpangan Antar Sekolah Menjadi Sorotan Utama

 

Berdasarkan hasil temuan SBNI Jawa Barat, persoalan paling serius adalah potensi semakin lebarnya kesenjangan antar sekolah.

 

Sebanyak 41 sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Maung pada umumnya telah memiliki fasilitas yang lebih baik, tenaga pendidik berkualitas, serta prestasi akademik yang tinggi. Dengan tambahan dukungan anggaran dan pembinaan khusus, sekolah-sekolah tersebut diperkirakan akan semakin berkembang.

 

Di sisi lain, banyak sekolah di wilayah selatan Jawa Barat, daerah pedalaman, maupun sejumlah kabupaten masih menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, laboratorium, hingga kekurangan guru. Kondisi ini dikhawatirkan melahirkan kesenjangan kualitas pendidikan yang semakin lebar.

 

.Pelaksanaan Dinilai Belum Siap

 

SBNI Jawa Barat juga mencatat berbagai kendala teknis dalam pelaksanaan program. Sistem pendaftaran dinilai belum berjalan optimal dengan berbagai keluhan, seperti akses aplikasi yang lambat, berkas yang tidak terbaca, ketidaksesuaian data Nomor Induk Kependudukan (NIK), hingga perubahan nilai dan mekanisme seleksi di tengah proses.

 

Selain itu, sosialisasi kepada kepala sekolah, guru, dan orang tua dinilai belum maksimal sehingga masih banyak pihak yang belum memahami mekanisme pelaksanaan Program Sekolah Maung secara menyeluruh.

 

Sekolah juga harus menjalankan dua sistem administrasi secara bersamaan, yakni sistem reguler dan sistem Sekolah Maung, yang berdampak pada meningkatnya beban kerja tenaga pendidik dan tenaga administrasi.

 

.Distribusi Guru Dinilai Belum Berkeadilan

 

Menurut Yadi Suryadi, distribusi tenaga pendidik juga harus menjadi perhatian serius. Penempatan guru-guru terbaik di Sekolah Maung dikhawatirkan membuat sekolah lain kehilangan tenaga pendidik berpengalaman apabila tidak diimbangi dengan sistem pemerataan yang jelas.

 

Sekolah unggulan memang perlu didukung guru terbaik, tetapi sekolah lain juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tenaga pendidik yang berkualitas. Pemerataan harus menjadi perhatian pemerintah, katanya.

 

.Pedoman Operasional dan Pengawasan Belum Lengkap

 

SBNI Jawa Barat juga menilai masih diperlukan penyempurnaan terhadap pedoman operasional program. Kurikulum khusus, standar pembelajaran, sistem penilaian, mekanisme pembinaan, pengawasan, hingga evaluasi kinerja dinilai belum memiliki aturan yang lengkap dan seragam.

 

Belum adanya indikator keberhasilan yang jelas juga dinilai menyulitkan proses evaluasi terhadap efektivitas program dalam jangka panjang.

 

.Akses Siswa Kurang Mampu Perlu Dijamin

 

Dalam hasil kajiannya, SBNI Jawa Barat menilai akses bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu maupun daerah terpencil perlu mendapat perhatian lebih.

 

Tanpa dukungan biaya transportasi, tempat tinggal, atau mekanisme afirmasi yang jelas, siswa dari daerah jauh dikhawatirkan akan mengalami kesulitan mengakses sekolah unggulan, meskipun memiliki kemampuan akademik yang baik.

 

.Transparansi Menjadi Faktor Penting

 

Yadi Suryadi juga menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan publik terhadap proses penerimaan peserta didik. Meskipun Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menegaskan tidak ada jalur titipan atau perlakuan khusus, menurutnya sistem pengawasan harus diperkuat agar seluruh proses berjalan transparan, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

.SBNI Jawa Barat Mendorong Evaluasi Menyeluruh

 

Sebagai organisasi kemasyarakatan yang turut memperhatikan isu pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia, Serikat Buruh Nasionalis Indonesia (SBNI) Jawa Barat mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Sekolah Maung.

 

Yadi Suryadi berharap program tersebut tidak hanya melahirkan sekolah-sekolah unggulan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas seluruh sekolah secara merata.

 

Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari lahirnya sekolah elite atau sekolah unggulan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika setiap anak, di kota maupun di pelosok, memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Jangan sampai ada generasi anak-anak bangsa yang merasa ditinggalkan oleh sistem pendidikan yang seharusnya melindungi mereka, tegas Yadi Suryadi.

(Jaka)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin