Opini

Asa Menghidupkan Semangat Ketaatan Manusia Kepada Bangsa Separuh Hilang

27
×

Asa Menghidupkan Semangat Ketaatan Manusia Kepada Bangsa Separuh Hilang

Sebarkan artikel ini
Asa Menghidupkan Semangat Ketaatan Manusia Kepada Bangsa Separuh Hilang

Oleh: Sutriachol Haris, L.C.

TANGGERANG,– Diawali disini ada sosok seperti Umar bin Abdul Aziz yang mesti diteladani oleh siapapun, ia sosok yang wajib di copy paste terutama oleh pemimpin yang memegang amanah untuk memerintah sebuah negara.

Dalam tata kelola kepemimpinan dan aspek ketaatan didasari disini yang tak pernah pudar prinsip dasarnya sebagaimana digambarkan hal itu dalam Alquran (QS: Anisa 59).

Wahai orang-orang yang merasa beriman taatlah (tunduklah)kalian sekalian kepada Allah dan kepada utusan (Rasul Allah) serta taatilah para pemimpin kalian.

Surat termaktub diatas berbunyi khusus didalam surat Annisa. Dan secara umum, surat ini berbicara tentang keluarga, masyarakat dan hubungan antar sesama manusia serta hukum yang berkenaan di dalamnya. Bahkan dalam surat ini pembicaraan tentang keluarga didahulukan, karena keluarga adalah merupakan sel pertama bagi terbentuknya masyarakat.

Jika seorang ibu adalah ruang sekolah utama dan pertama bagi sang anak-anaknya dirumah maka demikian bagi keluarga investasi tertingginya adalah bagaimana nilai turun naiknya akan ketaatannya kepada Allah yang kudu dijaga. Jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS At Tahrim 06) Disinilah pentingnya nilai paling seksi akan esensi dan sensifitas sebuah ketaatan.

Dalam tatanan nilai ketaatan baik dia laki ataupun perempuan adalah bentuk ketaatan kepada sang pencipta dan taat kepada rasul serta taat terhadap pemerintah yang berkuasa siapapun dia adalah suatu kelaziman dan hal tersebut merupakan pula ibadah. Tuhan ciptakan manusia dan jin tak lain hanya melainkan ibadah (QS Az zariyat 56)

Pada prinsip yang lebih besar lagi yakni taat pribadi, taat sosial dan taat spritual demikian setelah menginjaki taat dalam fase keluarga yaitu fase taat sebagai masyarakat juga terhadap bangsa dan negara hal ini yang kadang kita lupakan bersama. Sabagai masyarakat mengkritik membangun kepada penguasa telah seyogyanya didasari dengan peletakan pondasi utama yakni nilai akan norma perintah untuk miliki sifat “taat” dahulu.

Asa kritik harus disampaikan terhadap pemerintah dengan prinsip kesantunan, rasional dan asas menghindari celaan. (Wajadilhum billati hiya ahsan. QS An-Nahl 125).

Metode debat atau penyampaian kritik baik kepada lawan bicara ataupun penguasa sekalipun tak ada dan jangan pernah ada ruang dan celah titik untuk menghakimi atau merendahkan siapapun sekalipun dimanapun.

Kewajiban masyarakat adalah menyampaikan akan kritik baik itu adalah bagian kewajiban karena tugas bangsa atau penguasa adalah hukum mendengar dengan baik. Maka dibalik semua itu ada nilai bagi keduanya yang akan hadir yakni bimbingan absolut tuhan.

Apabila dasarnya adalah ketaatan dan bimbingan itu akan datang maka bukan imposible mereka dikisahkan sebagai orang – orang beruntung dengan bangsa yang gemah ripah loh jinawi karena taat kepada tuhan dan terhadap pemerintahan dimuka bumi. Sehingga perlakuan nilai luas akan arti bangsa yang damai itu datang setelah akan kata “taat” terimplementasi dalam jiwa sanubari menjadi jelmaannya.

Bukan tak boleh mengkritik. Mengkritik suatu pemerintahan tanpa dilandasi raaa taat adalah merupakan paling buruknya perkataan itu sendiri (akdzabul hadits).

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin