Berita

Akar Periode 2026–2031 Dorong Bandung Naik Kelas sebagai Destinasi Kuliner Dunia

4
×

Akar Periode 2026–2031 Dorong Bandung Naik Kelas sebagai Destinasi Kuliner Dunia

Sebarkan artikel ini
Akar Periode 2026–2031 Dorong Bandung Naik Kelas sebagai Destinasi Kuliner Dunia

 

Kabarnusa24.com

BANDUNG — Restoran bukan sekadar tempat makan. Di balik industri kuliner, terdapat lapangan pekerjaan, kontribusi pajak, hingga daya tarik utama pariwisata. Karena itu, Asosiasi kafe dan Restoran ( Jawa Barat ( AKAR) menargetkan industri restoran menjadi salah satu kekuatan utama yang mendorong Bandung dan Jawa Barat semakin dikenal sebagai destinasi kuliner kelas dunia.

Akar Periode 2026–2031 Dorong Bandung Naik Kelas sebagai Destinasi Kuliner Dunia
Wakil gubernur jawa barat
Akar Periode 2026–2031 Dorong Bandung Naik Kelas sebagai Destinasi Kuliner Dunia
Wali Kota Bandung

Hal tersebut disampaikan dalam Pelantikan Ketua dan Pengurus AKAR Periode 2026–2031 yang digelar di Sindang Reret Restaurant Bandung, Rabu (26/8/2026). Acara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Jawa Barat H. Erwan Setiawan, S.E. dan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat saat ini mencatat Erwan Setiawan sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat, sementara Muhammad Farhan merupakan Wali Kota Bandung.

 

Dalam pelantikan tersebut, Arif Maulana, S.Kom. resmi dipercaya memimpin AKAR untuk periode 2026–2031.

 

Arif menjelaskan, pada periode pertama, AKAR lebih banyak berfokus pada penguatan organisasi. Dari awalnya hanya komunitas-komunitas kecil, AKAR kemudian berkembang dan menaungi restoran-restoran yang memiliki legalitas serta perizinan lengkap.

 

Sejumlah restoran besar turut menjadi bagian dari ekosistem anggota AKAR. Secara keseluruhan, jumlah anggota yang tercatat di Kota Bandung mencapai ribuan, sedangkan secara Jawa Barat diperkirakan mencapai sekitar 4.000 anggota.

 

Memasuki periode kedua, fokus AKAR diarahkan pada penguatan sinergi antarrestoran dan antarwilayah. Menurut Arif, restoran tidak bisa dipisahkan dari sektor pariwisata karena keduanya saling berkaitan dalam membangun ekosistem destinasi.

 

Karena itu, AKAR juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai sektor pariwisata, termasuk hotel, taman rekreasi, kebun binatang, hingga destinasi wisata lainnya. Gagasannya sederhana namun strategis: wisatawan yang makan di restoran tertentu bisa mendapatkan keuntungan atau diskon untuk tiket destinasi maupun akomodasi lainnya.

 

Restoran Jadi Kekuatan Ekonomi Bandung

 

Arif menilai industri restoran memiliki posisi strategis dalam perekonomian Kota Bandung. Selain menyumbang pajak daerah, sektor restoran juga menjadi salah satu penyedia lapangan pekerjaan terbesar.

 

Menurutnya, Bandung memiliki potensi kuat sebagai kota kuliner, sebab kuliner masih menjadi salah satu alasan utama wisatawan datang ke Bandung.

 

Karena itu, dukungan pemerintah terhadap sektor restoran dinilai sangat penting, terutama dalam bentuk pelatihan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, kemudahan usaha, serta penciptaan iklim usaha yang sehat.

 

AKAR, lanjut Arif, tidak hanya beranggotakan restoran besar. Organisasi tersebut memiliki anggota dengan skala usaha yang sangat beragam, mulai dari mikro, kecil, menengah, besar hingga perusahaan multinasional. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kebutuhan masing-masing pelaku usaha berbeda.

 

Ingin Hadirkan Festival Kuliner Kelas Dunia

 

Salah satu cita-cita besar AKAR yang ingin diwujudkan pada periode mendatang adalah menghadirkan festival kuliner berskala dunia di Bandung.

 

Konsepnya terinspirasi dari kawasan kuliner di sejumlah negara seperti Thailand, di mana berbagai jenis makanan dikumpulkan dalam satu kawasan sehingga menjadi destinasi wisata tersendiri.

 

AKAR juga mendorong terbentuknya kawasan yang menggabungkan kuliner legendaris, kuliner kekinian, hingga kuliner kaki lima. Dengan konsep tersebut, kekayaan kuliner Jawa Barat diharapkan tidak hanya menjadi makanan yang dinikmati masyarakat, tetapi juga berubah menjadi magnet pariwisata baru.

 

Di sisi lain, Arif menyoroti pentingnya penataan dan pembinaan terhadap pedagang kaki lima. Menurutnya, restoran formal memiliki berbagai kewajiban, mulai dari sewa tempat, perizinan, pajak hingga ketenagakerjaan, sehingga persaingan dengan sektor informal harus diatur agar tetap sehat dan adil.

 

Namun, AKAR menegaskan bahwa pendekatannya bukan sekadar membatasi PKL. Pembinaan justru menjadi bagian penting, terutama dalam aspek keamanan pangan, kebersihan dan pelayanan.

 

“Jangan sampai kuliner yang menjadi tujuan wisatawan justru memberikan citra buruk karena persoalan kebersihan atau keamanan pangan,” menjadi salah satu perhatian utama yang ingin dibangun melalui kolaborasi tersebut.

 

Restoran Harus Naik Kelas

 

Ke depan, AKAR ingin memosisikan restoran sebagai destinasi wisata, bukan hanya tempat makan.

 

Peningkatan kualitas hospitality, pelayanan, keamanan pangan dan profesionalisme menjadi bagian dari upaya tersebut. Harapannya, wisatawan domestik maupun mancanegara dapat menikmati kuliner Bandung dengan standar pelayanan yang semakin baik.

 

AKAR juga rutin membangun komunikasi dengan anggotanya melalui kegiatan seperti Obrolan Warung Kopi, yang menjadi ruang bertukar gagasan dan membahas berbagai persoalan industri restoran.

 

Dengan kepengurusan baru periode 2026–2031, AKAR membawa agenda besar: memperkuat sinergi industri, mendorong kolaborasi lintas sektor, membina pelaku kuliner dari berbagai kelas, serta menjadikan kekayaan kuliner Jawa Barat sebagai aset pariwisata yang mampu membawa Bandung naik kelas ke panggung dunia.

(Jaka)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin