Daerah

Batik Printing Makin Marak, Perajin Lumajang: Di Situ Kami Kalah

11
×

Batik Printing Makin Marak, Perajin Lumajang: Di Situ Kami Kalah

Sebarkan artikel ini
Batik Printing Makin Marak, Perajin Lumajang: Di Situ Kami Kalah
oplus_2

Batik Printing Makin Marak, Perajin Lumajang: Di Situ Kami Kalah

LUMAJANG,Jatim mandiri — Batik tradisional tak hanya berhadapan dengan persoalan pasar, tetapi juga harus bertarung dengan derasnya produksi kain bermotif batik melalui teknik printing. Bagi perajin, persaingan itu terasa semakin berat karena batik tradisional membutuhkan waktu, ketelitian, kesabaran, dan keterampilan yang tidak bisa dibangun dalam sehari.

 

Kondisi tersebut dirasakan Bambang Ismoyo, perajin batik asal Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Di tengah tekanan pasar, Bambang memilih bertahan sekaligus mengajak masyarakat sekitar menekuni kerajinan batik.

 

Perjalanannya bermula setelah ia pulang dari Yogyakarta. Melihat aktivitas ibu-ibu di Desa Bodang yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkumpul dan mengobrol, Bambang kemudian memiliki gagasan untuk mengajak mereka melakukan kegiatan produktif.

 

“Berawal itu karena di desa banyak ibu-ibu. Daripada diam dan ngobrol, setelah saya kembali dari Jogja, saya membuat batik di Desa Bodang,” ujar Bambang.

 

Ia kemudian mengumpulkan sekitar 20 ibu-ibu. Bambang menyediakan kain dan memberikan arahan agar mereka mulai belajar membatik.

 

Namun, tidak semua bertahan.

 

“Dulu ada 20 orang yang saya kumpulkan. Saya kasih kain, saya ajak. Yang mau sekitar 10 orang, yang lainnya tidak mau,” katanya.

 

Perjalanan itu berlangsung bertahun-tahun. Sebagian berhenti karena berbagai alasan, sementara sebagian lainnya terus menekuni batik.

 

Hingga kini, sekitar 12 orang masih bertahan dan konsisten membatik.

 

“Dulu 20 orang, kemudian ada yang tidak jadi, ada yang jadi. Sampai detik ini 12 orang tetap membatik, bertahan,” ujar Bambang.

 

Belajar dari Nol di Yogyakarta

 

Bambang mengaku ketika pertama kali terjun ke dunia batik, dirinya belum memiliki kemampuan sama sekali.

 

Ia kemudian belajar secara mandiri selama tiga bulan di Yogyakarta.

 

“Belum bisa sama sekali, nol besar. Saya belajar sendiri tiga bulan di Jogja,” katanya.

 

Dari proses belajar tersebut, Bambang memahami bahwa batik bukan sekadar aktivitas membuat motif di atas kain. Ada ketekunan dan kesabaran yang harus dimiliki seorang perajin.

 

“Batik itu unik. Bisa melatih kesabaran. Harus sabar dan benar-benar telaten,” ujarnya.

 

Keunikan itulah yang menurut Bambang membuat batik memiliki nilai berbeda. Harga sebuah produk batik pun tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada bahan, motif, serta tingkat kesulitan pengerjaannya.

 

Produk yang dibuatnya dibanderol mulai sekitar Rp150.000 hingga Rp750.000 juta.Bahan yang digunakan antara lain kain kualitas prima dan sutra. Dalam proses produksinya, ia juga memanfaatkan alat tenun bukan mesin (ATBM).

 

Semeru, Tumpak Sewu hingga Kuda Kencak

 

Bambang tidak ingin batik Lumajang kehilangan identitas lokal. Karena itu, sejumlah ikon daerah menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan motif.

 

Gunung Semeru, Tumpak Sewu, Kuda Kencak hingga pisang dituangkan dalam berbagai desain batik.

 

“Kalau di Lumajang ini motifnya ada Semeru, Tumpak Sewu, dulu Kuda Kencak, kemudian pisang,” tuturnya.

 

Namun pasar yang digarap Bambang tidak hanya berasal dari Lumajang.

 

Pesanan juga datang dari sejumlah daerah lain. Setiap daerah memiliki karakter dan ikon yang kemudian menjadi inspirasi motif sesuai permintaan konsumen.

 

“Ada Probolinggo, Jember dengan tembakau, Surabaya itu burung bekisar dan Suramadu. Jadi banyak inspirasi dari masing-masing pembeli dan peminat,” katanya.

 

Bahkan, produk batiknya pernah menembus pasar luar negeri. Bambang mengaku pernah mengirim batik ke Malaysia dan Singapura.

 

Meski demikian, ongkos kirim menjadi salah satu persoalan yang harus diperhitungkan.

 

“Sudah beberapa kali mengirim ke sana. Tapi mahal ongkos kirimnya. Pernah ke Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

 

Selain batik dengan motif khas Lumajang, Bambang juga menerima permintaan untuk produk jumputan yang memiliki karakter berbeda dari batik tulis. Salah satu permintaan datang dari Sulawesi.

 

“Jumputan itu ada sendiri peminatnya. Sulawesi ada yang meminta seperti itu,” katanya.

 

Pandemi Memukul Penjualan, Printing Jadi Tantangan

 

Bambang mengatakan pandemi Covid-19 turut memukul penjualan batik. Setelah pandemi berlalu, pasar belum sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.

 

“Harapannya bisa kembali normal seperti dulu. Setelah Corona, penjualan batik agak berkurang,” katanya.

 

Persoalan lain yang kini dihadapi perajin adalah semakin mudahnya masyarakat mendapatkan kain bermotif batik hasil printing.

 

Bagi konsumen, produk printing menawarkan harga yang relatif terjangkau dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Namun bagi perajin batik tradisional, kondisi tersebut menjadi persaingan yang tidak mudah.

 

Bambang berharap pemerintah kembali mendorong penggunaan batik, terutama batik yang dibuat melalui proses tradisional.

 

“Pemerintah harus giat seperti awal-awal dulu untuk semua memakai batik,” ujarnya.

 

Menurut dia, masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara batik tradisional dengan kain bermotif batik yang dibuat melalui printing.

 

“Itu yang kita kalah. Pembatik tradisional kalah dengan printing,” kata Bambang.

 

Dukungan Pemerintah Jadi Napas Perajin

 

Di tengah berbagai tantangan itu, Bambang mengaku bersyukur masih mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lumajang, khususnya melalui Dinas Koperasi.

 

Ia menilai kegiatan yang melibatkan pelaku UMKM dan perajin menjadi ruang penting untuk kembali menggerakkan usaha yang sempat lesu.

 

“Saya ini didukung pemerintah daerah, Dinas Koperasi. Teman-teman semua bersyukur ada kegiatan seperti ini. Sudah lama tidak ada kegiatan seperti ini,” katanya.

 

Bagi Bambang, mempertahankan batik tradisional bukan semata soal mempertahankan usaha.

 

Ada keterampilan yang harus diwariskan, ada ekonomi masyarakat yang harus terus bergerak, dan ada identitas daerah yang perlu tetap hidup di atas selembar kain.

 

Karena itu, ketika batik printing bergerak cepat dengan produksi massal, Bambang dan para perajin tradisional memilih jalan berbeda: bekerja lebih lambat, lebih teliti, dan mempertahankan sentuhan tangan manusia.

 

Sebab bagi mereka, setiap motif bukan sekadar gambar. Di dalamnya ada cerita tentang Lumajang, ketekunan perajin, dan perjuangan agar batik tradisional tidak hilang ditelan zaman.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin