Daerah

Pendidikan Pancasila Tak Cukup dengan Hafalan, Golkar Soroti Tantangan Anak di Ruang Digital

8
×

Pendidikan Pancasila Tak Cukup dengan Hafalan, Golkar Soroti Tantangan Anak di Ruang Digital

Sebarkan artikel ini
Pendidikan Pancasila Tak Cukup dengan Hafalan, Golkar Soroti Tantangan Anak di Ruang Digital

Pendidikan Pancasila Tak Cukup dengan Hafalan, Golkar Soroti Tantangan Anak di Ruang Digital

TANGERANG SELATAN, Kabarnusa24.com— Pendidikan Pancasila dinilai tidak lagi cukup diajarkan melalui hafalan dan penyampaian materi di ruang kelas. Perubahan pola interaksi anak yang semakin banyak berlangsung di ruang digital menuntut metode pembelajaran yang mampu menghubungkan nilai-nilai Pancasila dengan persoalan nyata yang dihadapi generasi muda.

 

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI, H. Muhamad Nur Purnamasidi, dalam diskusi publik bertajuk “Pancasila sebagai Falsafah dan Dasar Negara: Penguatan Pendidikan Pancasila dalam Sistem Pendidikan Nasional” yang digelar Fraksi Partai Golkar MPR RI di Tangerang Selatan, Kamis (17/9/2026).

 

Tokoh yang akrab disapa Bang Pur itu mengatakan, Pancasila harus ditempatkan sebagai pandangan hidup bangsa yang hadir dalam perilaku sehari-hari, bukan berhenti sebagai simbol kenegaraan atau materi yang dihafalkan peserta didik.

 

Menurut dia, pendidikan Pancasila harus mampu membentuk cara berpikir, sikap, sekaligus cara seseorang mengambil keputusan ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan.

 

“Pendidikan Pancasila perlu bergerak menuju pengalaman, pembiasaan, refleksi, dan tindakan nyata,” kata Bang Pur.

 

Ia menilai tantangan pendidikan Pancasila saat ini semakin kompleks karena ruang pembentukan karakter anak telah berubah.

 

Jika sebelumnya sekolah dan keluarga menjadi ruang utama anak mendapatkan pendidikan dan membentuk perilaku, kini ruang digital ikut memainkan peran besar. Anak dapat memperoleh informasi, berinteraksi, berdebat, bahkan membentuk pandangan tentang berbagai persoalan sosial melalui media digital.

 

Perubahan tersebut, kata Bang Pur, semestinya diikuti dengan perubahan cara guru mengajarkan Pancasila.

 

“Guru saat ini tidak cukup hanya menguasai materi Pancasila, tetapi perlu memiliki kemampuan pedagogis untuk menyesuaikan dialog, debat, studi kasus, dan refleksi moral di dunia digital,” ujarnya.

 

Tak cukup ganti nomenklatur

 

Bang Pur juga menyoroti perjalanan pendidikan karakter di Indonesia yang beberapa kali mengalami perubahan nomenklatur.

 

Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kemudian berkembang menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), sebelum saat ini kembali menggunakan nomenklatur Pendidikan Pancasila.

 

Namun, menurut dia, perubahan nama mata pelajaran tidak otomatis menyelesaikan persoalan apabila tidak diikuti perubahan metode pembelajaran.

 

Yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan nilai Pancasila dapat dipahami dan diterapkan peserta didik ketika menghadapi persoalan konkret.

 

Pendidikan Pancasila, misalnya, dapat dikaitkan dengan bagaimana siswa menghadapi perbedaan pendapat, menghormati orang lain, menyikapi informasi di media sosial, menghadapi perundungan, hingga memilah informasi yang beredar di ruang digital.

 

Dengan pendekatan tersebut, Pancasila tidak hanya dibicarakan sebagai konsep, tetapi menjadi nilai yang dipraktikkan.

 

Sekolah tak bisa bekerja sendiri

 

Bang Pur menegaskan penguatan pendidikan Pancasila juga tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan guru.

 

Pembentukan karakter berlangsung dalam berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat hingga ruang digital. Karena itu, diperlukan keterlibatan lintas sektor agar pesan dan praktik pendidikan karakter tidak berjalan sendiri-sendiri.

 

“Sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah perlu membangun ekosistem pendidikan yang sama-sama memperkuat nilai-nilai Pancasila,” kata dia.

 

Diskusi publik tersebut menjadi ruang untuk membahas kembali posisi pendidikan Pancasila dalam sistem pendidikan nasional sekaligus mencari pendekatan yang lebih relevan dengan perubahan zaman.

 

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan perilaku generasi muda, tantangan pendidikan Pancasila bukan semata bagaimana membuat anak mengingat lima sila, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari cara mereka berpikir dan bertindak.

 

Dengan demikian, Pancasila tidak berhenti sebagai materi pelajaran yang diuji di ruang kelas, melainkan menjadi fondasi ketika generasi muda menghadapi kehidupan nyata, termasuk ketika mereka berada di ruang digital.(D.A)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin