Berita

Kolaborasi Anggota DPR RI Komisi X dengan BRIN :Dorong UMKM Lebih Produktif dengan Riset dan Inovasi 

20
×

Kolaborasi Anggota DPR RI Komisi X dengan BRIN :Dorong UMKM Lebih Produktif dengan Riset dan Inovasi 

Sebarkan artikel ini
Kolaborasi Anggota DPR RI Komisi X dengan BRIN :Dorong UMKM Lebih Produktif dengan Riset dan Inovasi 
oplus_2

Lumajang,kabarnusa24Com, Minggu,29/6/2025. Komisi X, DPR RI dari fraksi Golkar H.Muhammad Nur Purnamasidi ,S.Sos..M.AP mengungkapkan bahwa” Bimtek ini bertujuan memberikan pelatihan dan edukasi kepada pelaku UMKM mengenai berbagai aspek, termasuk manajemen bisnis, pemasaran, penggunaan teknologi, dan pemenuhan standar produk.untuk meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan efisiensi operasional. Bimtek ini menjadi jembatan untuk menghubungkan UMKM dengan inovasi-inovasi tersebut,”ungkap bang Pur

Bang Pur berharap UMKM dapat naik kelas, menjadi lebih inovatif, produktif, dan berdaya saing di pasar yang semakin kompetitif. Hal ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, ungkapnya

Selanjutnya Kepala Regional XII BRIN Raden Agus Sampurna “Berkomitmen mengakselerasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mendorong pemanfaatan hasil riset dan inovasi. Hal ini bertujuan mendorong produktivitas, nilai tambah, kualitas, serta daya saing produk berbasis riset dan inovasi.

“Kalau untuk manfaatnya bagi BRIN, program pemanfaatan hasil riset dan inovasi lebih terencana. Meningkatkan komersialisasi hasil riset yang sudah teruji seperti paten, prototipe, lisensi, dan sebagainya,” ungkap Agus

Menurutnya, dari sisi usaha mikro diharapkan UMKM juga mendapatkan fasilitasi hasil riset dan inovasi BRIN dalam rangka peningkatan produktivitas, nilai tambah, mutu, serta daya saing produk riset dan inovasi.

“Dari sisi periset itu sendiri untuk mempermudah periset untuk menemukan tema riset yang sesuai dengan kebutuhan riil usaha mikro. Di samping itu juga sebagai sarana evaluasi dan penyempurnaan hasil riset,” ungkap Agus

“Kami juga melakukan survei tentang peta kebutuhan usaha mikro, bahwa permasalahan usaha mikro itu sebagian besar ada pada modal usaha atau peralatan mesin. Untuk promosi termasuk permasalahan juga, karena sudah punya produk tapi belum tahu bagaimana cara memasarkannya.

“Permasalahan lainnya para UMKM butuh penerapan hasil riset untuk meningkatkan kualitas produk mereka. Dari survei kami, sebagian besar memang bergerak di F&B, untuk produk pangan, dan jenis teknologinya adalah masa simpan,” terangnya,

Agus melanjutkan, berdasarkan hal tersebut BRIN menginisiasi suatu kegiatan yang disebut dengan pendampingan usaha mikro berbasis e-tech. Di sini ada dua skema yang ditawarkan, yaitu mentoring dan coaching clinic.

“Intinya kalau yang mentoring ini pendapingan satu per satu untuk para UMKM dan ada metode seleksinya. Kalau yang coaching ini kami bekerjasama dengan mitra di daerah, baik itu dari pihak pemda, maupun juga dengan asosiasi. Jadi pendampingannya secara kelompok untuk permasalahan yang sejenis,” paparnya.

Untuk mentoring, lanjut Agus, ada beberapa langkah yaitu identifikasi masalah melalui rangkaian diskusi, wawancara baik online maupun offline, survei, pengamatan proses produksi, dan pengambilan sampel.

“Selanjutnya melakukan analisis melalui pengujian dan pembuktian di laboratorium dan lapangan. Berikutnya, penyampaian rekomendasi berdasarkan hasil analisis, disertai dengan praktek penerapan teknologi,” urainya.

Pada coaching clinic, ada beberapa kegiatan antara lain pemaparan materi terkait permasalahan teknologi yang diusulkan mitra. Konsultasi sebagai sarana interaksi one-on-one antara mitra dengan periset terkait perbaikan produk mitra.

“Di samping itu juga melakukan demo dan kunjungan lokasi produksi melalui praktek atau simulasi. Hal ini berdasarkan materi yang telah disampaikan agar mitra dapat menerapkan pada proses produksi. Maksud dari kunjungan ini untuk menambah wawasan bagi peserta terkait proses produksi mitra yang dianggap sudah baik,” rinci Agus

Lebih jauh lagi Agus membeberkan, BRIN akan melakukan asesmen sebagai parameter dalam mengukur dan mereviu kegiatan ini. Asesmen tersebut meliputi kelayakan usaha dengan memperhatikan legalitas usaha, omset, dan kapasitas usaha penghargaan, keikutsertaan dalam komunitas usaha.

“Kita juga akan melihat analisis situasi dan permasalahan mitra yaitu permasalahan teknis kebutuhan hasil riset dan inovasi, serta ketersediaan solusi yang ditawarkan,” ucapnya.

Selanjutnya, urgensi pemanfaatan riset dengan melihat seberapa penting atau mendesak calon mitra untuk mendapatkan kegiatan mentoring dalam pengembangan usaha. “Potensi kemanfaatan pasca fasilitasi intenal dan esternal yang diukur melalui potensi peningkatan omset, kualitas produk, market, penyerapan tenaga kerja, dan lain-lain,” ujarnya.

Agus berharap “Usaha-usaha yang di lakukan para pelaku UMKM dapat meningkat ataupun bisa naik kelas.”Kalau bisa dapat menjadi komunitas exspor produk -produk yang di hasilkan oleh teman-teman semuanya,” pungkas Agus.(D.S)

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin