BeritaOpini

Lagi dan Lagi Konversi Tanaman Teh Menjadi Tanaman Sawit Kini Terjadi Kembali.Tolak Keras! Selamatkan Teh, Lindungi Lingkungan.

19
×

Lagi dan Lagi Konversi Tanaman Teh Menjadi Tanaman Sawit Kini Terjadi Kembali.Tolak Keras! Selamatkan Teh, Lindungi Lingkungan.

Sebarkan artikel ini
Lagi dan Lagi Konversi Tanaman Teh Menjadi Tanaman Sawit Kini Terjadi Kembali.Tolak Keras! Selamatkan Teh, Lindungi Lingkungan.

Arya Ilham Fauzi Damanik, S.H. CLDS

Kabarnusa24.com | Sumut ,Sidamanik – Beberapa hari yang lalu kita melihat bahwasanya banyak isu” tentang Konversi tanaman teh menjadi sawit kini mulai terjadi kembali di kawasan Sidamanik, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Saya salah satu warga Sidamanik secara tegas menolak keras upaya alih fungsi lahan ini.8 Juli 2025.

Sidamanik selama ini dikenal sebagai salah satu sentra teh terbesar di Sumatera Utara, yang bukan hanya berkontribusi pada perekonomian daerah, tetapi juga menjadi ikon pariwisata dan kebanggaan masyarakat.

Arya Damanik mengungkapkan bahwa hingga sejauh ini, Indonesia masih merupakan negara penghasil sawit terbesar di dunia, dan isu deforestasi masih isu penting akibat kebun sawit, dan secara global Indonesia menurutnya masih memegang peran strategis dalam perubahan iklim di dunia.

“Namun Indonesia tercatat sebagai penyumbang terbesar emisi karbon yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global di dunia akibat ekspansi kelapa sawit besar-besaran,” ungkap Arya Damanik

Terhadap fakta itu, Arya Damanik mengatakan bahwa saat ini Indonesia tidak memerlukan perluasan kebun sawit.

Dia mengungkapkan, dengan adanya tindakan dari pihak PTPN IV melakukan konversi kebun teh menjadi kebun sawit di Sidamanik, merupakan tindakan yang tidak wajar yang memperparah kondisi ekologi serta memperpanjang kerugian dan penderitaan masyarakat di Kabupaten Simalungun.

Arya Damanik mengatakan konversi itu juga akan menyebabkan masyarakat Sidamanik yang mayoritas berprofesi sebagai petani akan mengalami kesulitan dalam produksi pertanian, sebab perkebunan sawit tersebut akan menyedot air yang dibutuhkan untuk bercocok tanam di daerah itu.

Melihat kaca sebelumnya yang dilakukan selama ini, cukup banyak kerusakan yang terjadi di sejumlah lokasi di Sidamanik setelah adanya perubahan fungsi di beberapa bagian perkebunan teh tersebut pada 2008.

Seharusnya Dirut PTPN IV tidak belajar dari kasus di Panei Tongah, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun yang sekarang menurutnya dikenal sebagai daerah langganan banjir di Kabupaten Simalungun.

“Sebelumnya kebun sawit panei tongah itu juga kebun teh, sejak dikonversi menjadi kebun sawit tahun, daerah panei tongah menjadi langganan banjir saat musim penghujan,” kata Arya Damanik

Oleh karena itu juga kebun teh Sidamanik perlu dipertahankan karena memiliki sejarah tersendiri dalam produksi teh nasional dan telah memperkenalkan Simalungun secara nasional bahkan internasional.

Arya Damanik mengatakan konversi itu juga akan menyebabkan masyarakat Sidamanik yang mayoritas berprofesi sebagai petani akan mengalami kesulitan dalam produksi pertanian, sebab perkebunan sawit tersebut akan menyedot air yang dibutuhkan untuk bercocok tanam di daerah itu.

Jika perkebunan sawit itu direalisasikan, saya berkeyakinan sawah dan ladang masyarakat akan kekurangan air sehingga produksinya akan gagal.

Apalagi, sekitar 95 persen wilayah Sidamanik merupakan lahan pertanian yang selama ini mendukung produksi beras di Simalungun.

“Kalau dikonversi, itu sama saja artinya dengan menyuruh masyarakat Sidamanik bunuh diri pelan-pelan,” Ujar Arya Damanik, S.H

Saya mendesak pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan untuk:
Menolak dan menghentikan izin alih kembali fungsi lahan teh ke sawit di Sidamanik berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang kuat

Menguatkan perlindungan kebun teh melalui kebijakan yang berpihak pada petani.

Saya yakin, mempertahankan kebun teh Sidamanik berarti menjaga lingkungan, melestarikan budaya, serta memastikan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

Mari kita bersama-sama mempertahankan teh Sidamanik sebagai warisan berharga dan sumber kehidupan yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Ujar Arya Damanik

Penulis

Jurnalist: Dewi Apriatin