Bandung-Rentetan bencana alam yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini menjadi bahan refleksi bersama. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat yang dihadiri Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama RI.
Dalam pembinaan tersebut, Penasihat DWP menekankan pentingnya penguatan kesadaran ekologis yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan. Menurutnya, bencana alam tidak dapat dipandang semata sebagai peristiwa alamiah, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku manusia terhadap lingkungan.
Kerusakan ekosistem, pola hidup yang tidak berkelanjutan, serta rendahnya kepedulian terhadap alam dinilai turut memperbesar risiko terjadinya bencana. Karena itu, pendekatan ekoteologi—yakni pemahaman keagamaan yang menempatkan manusia sebagai penjaga alam—dipandang relevan untuk dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang kita lakukan hari ini akan ditiru oleh anak-anak. Karena itu, kita adalah teladan pertama dalam menjaga alam dan kehidupan,” ujar Penasihat DWP Kementerian Agama RI di hadapan para anggota Dharma Wanita Persatuan.
Ia mendorong Dharma Wanita Persatuan agar mengambil peran strategis, dimulai dari lingkungan keluarga. Langkah-langkah sederhana seperti mengelola sampah rumah tangga dengan bijak, menanam tanaman di pekarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga menerapkan perilaku hemat energi dinilai sebagai ikhtiar nyata yang dapat dilakukan setiap hari.
Lebih jauh, peran keluarga—terutama perempuan—dipandang sangat menentukan dalam membentuk karakter anak bangsa yang peduli lingkungan. Nilai kepedulian ekologis perlu ditanamkan seiring dengan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, kesederhanaan, kepedulian sosial, serta sikap saling menghargai melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda agar tidak hanya tumbuh cerdas secara intelektual, tetapi juga beretika dan berorientasi pada keberlanjutan. Nilai-nilai ini pula yang diharapkan menjadi fondasi dalam menyiapkan generasi tangguh dan berintegritas menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan pembinaan ini sekaligus menegaskan bahwa respons terhadap bencana tidak cukup berhenti pada empati dan bantuan sesaat. Diperlukan refleksi mendalam serta perubahan perilaku jangka panjang. Melalui penguatan ekoteologi dan keteladanan di lingkungan keluarga, Dharma Wanita Persatuan diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi anak bangsa.**fajar







